Headline
Taksiran kerugian itu belum yang diderita masyarakat, termasuk para pelaku usaha.
Taksiran kerugian itu belum yang diderita masyarakat, termasuk para pelaku usaha.
Kumpulan Berita DPR RI
UNTUK pertama kali dalam lebih dari setahun, para pengambil kebijakan Bank Sentral Eropa atau European Central Bank (ECB) diperkirakan akan memutuskan untuk tidak menaikkan suku bunga lagi ketika mereka berkumpul di Athena pada Kamis (26/10).
Ketika sedang panas-panasnya, inflasi--yang didorong oleh invasi Rusia ke Ukraina pada awal 2022--mulai mereda. Sementara itu, prospek perekonomian semakin memburuk.
Harga konsumen di blok mata uang 20 negara tersebut naik pada tingkat tahunan sebesar 4,3% pada September atau tingkat terendah dalam hampir dua tahun. Angka tersebut jelas masih berada di atas target ECB sebesar dua persen, tetapi dampak penaikan suku bunga semakin terasa di seluruh blok.
Baca juga: Penjualan Rumah di AS Anjlok pada September, Terendah sejak 2010
Pecahnya perang Israel-Gaza menambah potensi masalah yang dihadapi perekonomian zona euro setelah mampu mengatasi dampak konflik di Ukraina. Bank sentral, yang mengadakan satu pertemuan di luar kantor pusatnya di Frankfurt setiap tahun, tampaknya akan mengikuti jejak Federal Reserve AS dan menghentikan penaikan suku bunga untuk sementara waktu.
Semua indikasi itu ada sejak pertemuan terakhir pada September. Siklus pengetatan ECB saat ini telah, "Berakhir," kata Jack Allen-Reynolds dari Capital Economics.
Saat ini, suku bunga deposito utama ECB berada di angka empat persen. Ini merupakan angka tertinggi dalam sejarah bank sentral.
Baca juga: Inflasi Jepang Melambat di Bawah 3% Perdana sejak Agustus 2022
Namun setelah memutuskan untuk menaikkan suku bunga pada 10 pertemuan terakhirnya, laju tercepat yang pernah ada, "ECB tidak akan terburu-buru mengambil tindakan lebih lanjut," kata analis bank ING Carsten Brzeski.
Konflik di Timur Tengah akan, "Semakin mengurangi prospek pertumbuhan zona euro," dan seiring dengan kenaikan harga minyak, membuat ECB berada dalam posisi yang lebih, "Rumit," kata Brzeski.
Baca juga: Perekonomian Jerman akan Susut pada 2023
"Dengan banyaknya ketidakpastian baru, tidak ada momen yang lebih baik dalam 16 bulan terakhir bagi ECB untuk mengambil jeda dibandingkan saat ini," tambahnya.
Beberapa pemerintahan zona euro, seperti Italia dan Portugal, telah menyuarakan kritik terhadap penaikan suku bunga ECB yang sulit untuk diterima. Di sisi lain, antusiasme untuk menaikkan suku bunga lebih lanjut telah mereda di antara 26 anggota dewan pemerintahan ECB.
Melambatnya inflasi zona euro menunjukkan, "Suku bunga acuan kami saat ini sudah sesuai," kata gubernur bank sentral Prancis Francois Villeroy de Galhau.
Presiden ECB Christine Lagarde telah mengakui kepedihan yang dirasakan oleh rumah tangga sebagai akibat dari penaikan suku bunga yang agresif. Namun ia memperingatkan agar tidak melakukan pengurangan terlalu cepat.
Penekanannya kemungkinan besar ialah pada kebijakan moneter yang tetap ketat untuk, "Periode yang diperpanjang," ketika ECB menyampaikan keputusannya, kata Allen-Reynolds.
Rekan Lagarde di dewan ECB, Luis de Guindos, memperingatkan bahwa upaya untuk menjinakkan inflasi akan membutuhkan waktu. Suku bunga masih diperkirakan tetap sama tetapi terlalu tinggi untuk waktu yang lama.
Berdasarkan proyeksi bank sentral saat ini, yang diterbitkan pada September, inflasi tidak akan kembali ke target ECB sebesar dua persen sebelum 2025. Dewan akan meninjau kembali penaikan suku bunga pada pertemuan terakhirnya tahun ini di Desember, ketika mereka akan punya serangkaian perkiraan baru.
Ada kemungkinan bahwa zona euro akan mengalami, "Prospek ekonomi yang semakin memburuk," sebelum hal tersebut terjadi, kata Brzeski. Indikator-indikator perekonomian sebagian besar cenderung menurun akhir-akhir ini seiring dengan semakin tenggelamnya Jerman ke dalam resesi.
Dana Moneter Internasional (IMF) merevisi perkiraan Jerman pada awal bulan ini. IMF memperkirakan negara dengan ekonomi terbesar di Eropa ini akan menyusut sebesar 0,5% pada 2023 dan zona euro secara keseluruhan akan melemah hingga mencapai pertumbuhan 0,7%.
Sementara itu, ECB ingin menunjukkan tekadnya, sambil, "Menjaga pintu tetap terbuka untuk penaikan suku bunga lagi pada Desember," kata Brzeski.
Keputusan untuk mempertahankan suku bunga pada level saat ini pada minggu ini dapat dianggap sebagai jeda sementara oleh ECB. Namun langkah ini dapat dengan mudah menjadi stabil untuk jangka waktu yang lebih lama. Sebaliknya, penurunan suku bunga masih, "Masih jauh," kata Allen-Reynolds. (AFP/Z-2)
Gubernur Bangka Belitung. Hidayat Arsani mengatakan, cabai merupakan salah satu pangan yang menyumbang inflasi di Babel.
Selain itu, cabai merah turun Rp3.816 menjadi Rp52.184/kg, bawang merah turun Rp833 menjadi Rp43.484/kg, serta bawang daun turun Rp630 menjadi Rp8.700/kg.
Harga cabai rawit merah yang sempat melonjak hingga Rp80.000 per kg, sekarang hanya Rp36.000 per kg. Harga telur ayam ras dari Rp30.000 menjadi Rp28.000 per kg.
Nilai tukar rial Iran jatuh ke level terendah sepanjang sejarah, memicu inflasi pangan hingga 70%.
Menjelang Ramadan 2026, Kementerian Dalam Negeri meminta pemerintah daerah tidak menunggu waktu mepet untuk mengendalikan inflasi.
Komoditasnya antara lain beras premium Pamanukan, beras premium Anak Daro Rp16.350 per kg, minyak goreng MinyaKita kemasan botol Rp18.000 per liter, serta gula Rosebrand.
Managing Director, Chief India Economist and Macro Strategist, Asean Economist HSBC Pranjul Bhandari menyebut masih ada kemungkinan Bank Indonesia terus memangkas suku bunga.
Update pasar saham properti 9 Januari 2026. Saham DILD dan ASRI catatkan kenaikan signifikan di tengah sentimen IKN dan suku bunga, sementara APLN bergerak moderat.
Bank Indonesia (BI) menyebut penurunan suku bunga kredit perbankan cenderung lebih lambat. Karena itu, BI memandang penurunan suku bunga kredit perbankan perlu terus didorong.
Ekonom Hossiana Evalisa Situmorang menyebut keputusan Bank Indonesia mempertahankan BI Rate di level 4,75 persen agar transmisi suku bunga lebih cepat
DEWAN Gubernur Bank Indonesia menyebut masih ada ruang penurunan suku bunga ke depan.
RAPAT Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia pada 21-22 Oktober 2025 memutuskan untuk mempertahankan BI Rate sebesar 4,75%.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved