Headline
Taksiran kerugian itu belum yang diderita masyarakat, termasuk para pelaku usaha.
Taksiran kerugian itu belum yang diderita masyarakat, termasuk para pelaku usaha.
Kumpulan Berita DPR RI
Keputusan Bank Indonesia (BI) untuk mempertahankan suku bunga acuan di level 5,50% dipandang sebagai langkah konservatif yang tepat di tengah ketidakpastian global dan perlambatan ekonomi domestik. Kebijakan ini dinilai memberikan keseimbangan antara menjaga stabilitas ekonomi makro dan melindungi daya beli masyarakat.
Analis Kebijakan Ekonomi Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Ajib Hamdani menyebut kebijakan BI tersebut sebagai pendekatan win-win yang menguntungkan baik bagi dunia usaha maupun masyarakat.
"Tingkat suku bunga acuan sebesar 5,5%, satu sisi bisa mencegah capital outflow dan sisi yang lain bisa mempertahankan daya beli masyarakat," ujar Ajib saat dihubungi, Rabu (18/6).
Menurutnya, keputusan BI mencerminkan langkah yang hati-hati namun strategis dalam menjaga stabilitas likuiditas di tengah berbagai ketidakpastian yang belum mereda.
"Ini langkah konservatif yang win-win, buat dunia usaha maupun masyarakat. Karena tingkat ketidakpastian yang tinggi, serta menjaga likuiditas yang terukur di masyarakat," jelasnya.
Ajib menambahkan bahwa konsistensi BI dalam menerapkan kebijakan moneter yang terukur diharapkan mampu menjaga proyeksi ekonomi Indonesia tetap berada pada jalur yang diharapkan, termasuk dalam hal pertumbuhan kredit, pengendalian inflasi, dan pemulihan ekonomi secara umum.
Lebih lanjut, Ajib menyoroti pentingnya sinergi antara kebijakan moneter dan fiskal untuk menjaga momentum pertumbuhan ekonomi. Ia juga mendorong agar pemerintah fokus dalam merancang APBN yang pro terhadap penciptaan lapangan kerja berkualitas sebagai langkah pelengkap yang tepat.
"Terkait pernyataan Menteri Keuangan, cukup fokus dengan mendesain kebijakan fiskal yang pro dengan pertumbuhan ekonomi dan fokus menjadikan APBN sebagai quality job creation," kata Ajib.
Diketahui, Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati mengungkapkan bahwa ketidakpastian dunia saat ini disebut bakal bersifat permanen dan mengubah tatanan global. Gejolak ekonomi, stabilitas geopolitik, hingga urusan keamanan tiap negara menjadi faktor pendorong utama terjadinya perubahan tersebut.
"Kita menyaksikan ketidakpastian ini akan lebih permanen. Karena sifat dari ketidakpastian itu sendiri bukan karena situasi yang sifatnya temporer, tetapi lebih kepada shifting yang kemungkinan jangkanya menengah panjang," jelasnya dalam Economic Update 2025 yang diselenggarakan CNBC Indonesia, Rabu (18/6).
Sementara itu, Bank Indonesia mempertahankan suku bunga acuan, atau BI Rate di angka 5,50%. Keputusan itu diambil melalui Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia pada 17-18 Juni 2025 yang sekaligus menetapkan suku bunga Deposit Facility sebesar 4,75%, dan suku bunga Lending Facility sebesar 6,25%.
"Keputusan ini sejalan dengan tetap terjaganya prakiraan inflasi 2025 dan 2026 dalam sasaran 2,5% plus minus 1%, kestabilan nilai tukar rupiah sesuai dengan fundamental di tengah ketidakpastian global yang masih tinggi, serta perlunya untuk tetap turut mendorong pertumbuhan ekonomi," ujar Gubernur BI Perry Warjiyo dalam konferensi pers, Rabu (18/6). (E-3)
Managing Director, Chief India Economist and Macro Strategist, Asean Economist HSBC Pranjul Bhandari menyebut masih ada kemungkinan Bank Indonesia terus memangkas suku bunga.
Update pasar saham properti 9 Januari 2026. Saham DILD dan ASRI catatkan kenaikan signifikan di tengah sentimen IKN dan suku bunga, sementara APLN bergerak moderat.
Bank Indonesia (BI) menyebut penurunan suku bunga kredit perbankan cenderung lebih lambat. Karena itu, BI memandang penurunan suku bunga kredit perbankan perlu terus didorong.
Ekonom Hossiana Evalisa Situmorang menyebut keputusan Bank Indonesia mempertahankan BI Rate di level 4,75 persen agar transmisi suku bunga lebih cepat
DEWAN Gubernur Bank Indonesia menyebut masih ada ruang penurunan suku bunga ke depan.
RAPAT Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia pada 21-22 Oktober 2025 memutuskan untuk mempertahankan BI Rate sebesar 4,75%.
Sikap menahan suku bunga acuan (BI Rate) dinilai paling rasional di tengah pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS.
IHSG Bursa Efek Indonesia 8 Januari 2026 ditutup melemah. Analis Pasar Modal Indonesia Reydi Octa mengatakan IHSG kemungkinan sedikit terdampak suku bunga acuan dan inflasi
BI resmi mengganti Jibor dengan Indonia mulai 1 Januari 2026. Indonia berbasis transaksi riil (weighted average), menjamin transparansi pasar.
Institute for Development of Economics and Finance (Indef) menyoroti pertumbuhan ekonomi yang berada di kisaran 5%.
Bank Indonesia (BI) memutuskan untuk mempertahankan BI-Rate sebesar 4,75%.
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) pada perdagangan Kamis, 20 November 2025, dibuka menguat 43,86 poin atau 0,52% ke posisi 8.450,44.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved