Headline
Pemudik diminta manfaatkan kebijakan WFA.
Kumpulan Berita DPR RI
EKONOM Senior dan Associate Faculty Lembaga Pengembangan Perbankan Indonesia (LPPI) Ryan Kiryanto berpendapat sudah tepat dan taktis keputusan Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia, yang menaikkan 25 bps BI rate ke level 6%.
Dia telah memperkirakan hal tersebut dengan beberapa pertimbangan. Pertama, hampir pasti bank sentral AS Federal Reserve (The Fed) akan menaikkan satu kali lagi suku bunga acuan Fed Fund Rate (FFR) sebesar 25 bps menjadi 5,5-5,75% untuk mempercepat capaian target penurunan inflasi 2% di AS.
"Jika BI Rate tidak naik, maka posisinya setara dengan ekspektasi FFR 5,50-5,75% (mungkin di November atau Desember nanti," kata Ryan, Kamis (19/10).
Baca juga: Kenaikan BI Rate Dinilai Belum Perlu
Tekanan eksternal yg kuat dan masif dari eskalasi perang di Ukraina ditambah perang antara Hamas dan Israel menyebabkan kepanikan pasar global yg mendorong pemilik modal membeli dolar AS secara masif.
Terdapat indikasi rupiah makin tertekan karena gejolak geopolitik yg meningkat tadi ditambah stance kebijakan bank-bank sentral di negara maju masih hawkish (menahan suku bunga tinggi karena inflasi belum mencapai target).
Baca juga: BI Rate Naik 25 Bps untuk Stabilkan Rupiah
"Surplus neraca dagang juga sudah naik turun alias fluktuatif sehingga menekan posisi rupiah," kata Ryan.
Sementara itu, posisi cadangan devisa juga terpantau menurun untuk memenuhi kebutuhan impor dan kewajiban utang luar negeri pemerintah sehingga sehingga berpotensi menekan rupiah.
Tekanan dari sisi non ekonomi, yakni suhu politik yg mulai menghangat jelang pesta demokrasi di Indonesia, juga mengganggu kenyamanan pelaku pasar terhadap prospek rupiah ke depannya.
Ryan memperkirakan pekan ini dan mungkin dalam sebulan ke depan atau hingga akhir tahun tidak ada atau belum ada berita baik atau berita positif dari dalam negeri, meski outlook ekonomi Indonesia tahun 2023 dan tahun 2024 menurut dana moneter internasional (IMF) cukup stabil, yakni tumbuh 5% yoy.
"Maka, menaikkan BI rate sebesar 25 bps dari 5,75% ke 6% adalah pilihan kebijakan moneter yg tepat, terukur, preemptive dan antisipatif, setidaknya untuk bisa menahan depresiasi rupiah lebih jauh," kata Ryan. (Try/Z-7)
Ekonom PT Bank Danamon Indonesia Tbk Hosianna Evalita Situmorang mengamini keputusan Bank Indonesia mempertahankan suku bunga acuan BI di 4,75%
BANK Indonesia memutuskan untuk mempertahankan BI-Rate hari ini 17 Maret 2026 sebesar 4,75 persen untuk memperkuat rupiah
Sejumlah ekonom memperkirakan Bank Indonesia (BI) akan mempertahankan BI-Rate di level 4,75% dalam Rapat Dewan Gubernur (RDG) Maret 2026.
Penukarkan Uang Baru Melalui Mobil Keliling Bank Indonesia
BRI menyiapkan uang tunai sebesar Rp25 triliun untuk memenuhi kebutuhan masyarakat selama periode Lebaran 2026.
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menuturkan, pengendalian nilai tukar rupiah dari dolar Amerika Serikat masih dapat dilakukan dengan baik.
Federal Reserve resmi menahan suku bunga di level 3,5%-3,75%. Jerome Powell soroti dampak ketidakpastian perang terhadap inflasi dan tegaskan tak akan mundur.
IHSG dibuka melemah 0,32% ke level 7.338 pada Jumat (13/3/2026). Konflik AS-Iran picu lonjakan harga minyak dan ekspektasi hawkish The Fed.
Putusan Mahkamah Agung AS terkait tarif Donald Trump menjadi sentimen positif bagi IHSG. Pasar juga mencermati data PDB AS, inflasi PCE, dan arah suku bunga The Fed.
Prediksi harga emas Sabtu 14 Februari 2026 diperkirakan stabil hingga menguat terbatas, dipengaruhi harga emas dunia dan nilai tukar rupiah.
Nilai tukar rupiah ditutup melemah 42 poin ke Rp16.828 per dolar AS. Penguatan dolar dan naiknya probabilitas The Fed menahan suku bunga pada Maret 2026 menekan pergerakan rupiah.
HARGA bitcoin kembali mengalami pelemahan di bawah US$90.000 setelah Federal Reserve (The Fed) memutuskan untuk menahan suku bunga acuan di kisaran 3,50%-3,75%.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved