Headline
Taksiran kerugian itu belum yang diderita masyarakat, termasuk para pelaku usaha.
Taksiran kerugian itu belum yang diderita masyarakat, termasuk para pelaku usaha.
Kumpulan Berita DPR RI
DOSEN Pembangunan Sosial dan Kesejahteraan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Gadjah Mada (UGM), Krisdyatmiko mengatakan kebijakan pembagian penanak nasi atau rice cooker tidak tepat. Jika melihat guncangan dan kerentanan sosial saat ini, masalah yang dihadapi adalah kekeringan. Kekeringan membuat kesulitan dalam pemenuhan air dan dampak yang ditimbulkan berikutnya adalah kesulitan pangan.
Argumen pemerintah yang menyebut kebijakan pembagian penanak nasi sebagai bansos tidak tepat. Mengacu pada Undang-Undang No 11 Tahun 2009 tentang kesejahteraan sosial, perlindungan sosial melalui bansos dimaknai sebagai semua upaya yang diarahkan untuk mencegah dan menangani risiko dari guncangan dan kerentanan sosial.
"Saat ini yang perlu kita kaji adalah apa dampak kemarau yang berkepanjangan kepada masyarakat dan bagaimana kerentanan yang mereka hadapi, itu yang kita support," kata dia dalam siaran pers, Rabu (11/10).
Baca juga: Bagi-bagi Rice Cooker Gratis akan Habiskan Dana Rp347 Miliar
Krisdyatmiko menilai, bantuan yang diberikan sebaiknya air dan yang berkaitan dengan pangan, bukan bantuan rice cooker. "Jadi jangan tentang alat memasaknya tetapi apa yang dimasak oleh masyarakat," lanjut dia.
Ia menambahkan, keluarga di Indonesia sudah banyak menggunakan alat penanak nasi tersebut sehingga dikhawatirkan akan menimbulkan pemborosan. Oknum-oknum tertentu bisa saja menjual kembali barang tersebut.
Baca juga: Pengamat: Masyarakat Butuh Beras, Bukan Rice Cooker
Krisdyatmiko mengatakan, pemerintah perlu mengkaji masyarakat yang paling terdampak dalam kekeringan ini. Pemerintah memberikan dukungan dalam jangka pendek untuk memenuhi kebutuhan pangan, bukan alat untuk memasak.
"Pada jangka menengah dan jangka panjang adalah bagaimana mengatasi kedepannya agar masyarakat tersebut menjadi tidak terdampak. Dalam artian, mereka bisa mandiri, berdaya, dan memanfaatkan potensi lokal sebagai basis penghidupan mereka,� tutup dia. (Z-3)
ANGGOTA Komisi VII DPR RI M Nasir mempertanyakan program alat memasak berbasis listrik (AML) berupa pemberian rice cooker gratis oleh pemerintah melalui Kementerian ESDM.
Rencana pemberian rice cooker secara gratis ke masyarakat tertuang dalam Peraturan Menteri ESDM No 11 Tahun 2023 tentang Penyediaan Alat Masak Berbasis Listrik bagi Rumah Tangga
Menteri ESDM Arifin Tasrif menegaskan kebijakan pembagian alat memasak berbasis listrik (AML) atau penanak nasi (rice cooker) secara cuma-cuma ke masyarakat bukan gimik politik semata.
Sebanyak 500 ribu rumah tangga ditargetkan menerima rice cooker atau penanak nasi, bantuan program penyediaan alat masak berbasis listrik.
PT PLN (Persero) menyatakan siap melakukan proses verifikasi data penerima program bantuan alat memasak berbasis listrik (AML) atau penanak nasi (rice cooker)
PROGRAM pemberian penanak nasi (rice cooker) gratis bagi masyarakat dikritik. Hal itu dinilai kurang tepat sasaran dalam menjawab kebutuhan faktual masyarakat.
Pemerintah Provinsi DKI Jakarta untuk mengevaluasi bahkan, jika diperlukan, mencabut bantuan sosial (bansos) bagi keluarga yang anggotanya terlibat dalam aksi tawuran.
Sekretaris Komisi E DPRD DKI Jakarta mengusulkan evaluasi hingga pencabutan bansos bagi keluarga pelaku tawuran sebagai langkah tegas menekan aksi kekerasan di Jakarta.
Pemerintah mengimbau masyarakat untuk proaktif mengecek status kepesertaan melalui kanal resmi guna menghindari informasi palsu.
Gaji guru PPPK Paruh Waktu di Kabupaten Grobogan, Jawa Tengah, tercatat hanya Rp300 ribu per bulan, menjadikannya salah satu isu yang paling disorot publik.
Transaksi judi online bagi 12.402 KPM bansos dengan kondisi tersebut sangat memprihatinkan.
Pemerintah kembali menyalurkan BLT Kesra 2025 senilai Rp900 bagi masyarakat berpenghasilan rendan (MBR) dan rentan.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved