Headline
Pemerintah menyebut suplai minyak dari Amerika akan meningkat.
Pemerintah menyebut suplai minyak dari Amerika akan meningkat.
Kumpulan Berita DPR RI
BANK sentral Turki pada Kamis (21/9/2023) menaikkan suku bunga pinjamannya ke level tertinggi dalam 20 tahun menyusul peralihan mendadak ke ekonomi konvensional oleh Presiden Recep Tayyip Erdogan. Bank sentral menaikkan suku bunga kebijakannya menjadi 30% dari 25% dan menjanjikan langkah-langkah pengetatan lebih lanjut di masa depan.
Hal ini terjadi setelah lonjakan inflasi baru yang terjadi sebagai respons parsial terhadap penaikan pajak yang diberlakukan oleh pemerintahan Erdogan untuk memenuhi janji kampanye terpilihnya kembali pada Mei. "Inflasi berada di atas ekspektasi pada Juli dan Agustus," kata bank tersebut dalam pernyataannya. "Inflasi akan tetap mendekati batas atas kisaran perkiraan," katanya memperingatkan.
Pemimpin Turki melakukan salah satu pembalikan kebijakan khasnya setelah memenangkan kampanye pada Mei. Pemilu tersebut dilakukan pada saat krisis ekonomi terburuk di Turki dalam beberapa dekade terakhir. Krisis yang secara universal disalahkan oleh para analis terhadap keyakinan Erdogan yang tidak lazim bahwa suku bunga yang tinggi berkontribusi terhadap inflasi.
Baca juga: Inflasi Turki Melejit di Juli ke 47,83%
Erdogan menyebut suku bunga tinggi sebagai, "Ibu dan ayah dari segala kejahatan," dan menghabiskan waktu bertahun-tahun untuk mendorong bank sentral menurunkan biaya pinjaman guna mempercepat pertumbuhan ekonomi. Dia juga menjadikan tarif rendah sebagai mantra kampanye pemilihannya kembali.
Namun tingkat inflasi tahunan kembali meningkat setelah resmi mencapai puncaknya pada 85% pada 11 bulan lalu. Angka tersebut mendekati 60% pada Agustus dan meningkat jauh lebih cepat daripada yang diproyeksikan oleh tim ekonomi baru Erdogan yang terdiri dari mantan eksekutif Wall Street dan teknokrat terkemuka. Tim tersebut mendapat banyak pujian karena meyakinkan Erdogan bahwa Turki akan memasuki krisis sistemis kecuali suku bunga segera dinaikkan secara substansial.
Baca juga: Bank Sentral Inggris Bekukan Suku Bunga setelah 14 Penaikan Berturut-turut
Tingkat kebijakan suku bungan kini telah naik dari 8,5% pada saat Erdogan terpilih kembali dan kini berada pada tingkat tertinggi dalam dua dekade. Ini langkah yang diberkati oleh Erdogan dengan menjanjikan dukungan untuk kebijakan moneter yang ketat pada awal bulan ini.
Para ekonom masih khawatir bahwa Turki sedang menghadapi bencana karena suku bunga masih jauh di bawah tingkat kenaikan harga konsumen. Hal ini memberi masyarakat Turki insentif untuk membelanjakan tabungan mereka sebelum kehilangan nilainya dan membuat perekonomian menjadi terlalu panas.
Baca juga: Perekonomian Selandia Baru Menjauh dari Jurang Resesi
"Perekonomian Turki tidak melambat secepat yang kita perkirakan beberapa bulan lalu," tulis analis konsultan Capital Economics, Liam Peach, bulan ini. Fitch Ratings bulan ini memperbaiki prospek Turki dari negatif menjadi stabil berkat kebijakan putar balik itu. Namun mereka juga memperingatkan bahwa masih ada ketidakpastian mengenai besaran, jangka waktu, dan keberhasilan penyesuaian kebijakan untuk menurunkan inflasi, sebagian karena pertimbangan politik.
Menteri Keuangan Mehmet Simsek--mantan ahli strategi Merrill Lynch yang dipuji oleh media Turki karena berhasil meyakinkan Erdogan untuk mengubah pandangannya--memperkirakan akan mempertahankan penaikan suku bunga hingga pertengahan tahun depan. "Mulai paruh kedua 2024, kami akan membahas penurunan suku bunga," ujarnya bulan ini.
Namun, Simsek punya masalah besar kedua.
Keuangan Turki juga terbebani oleh skema dukungan deposito bank yang sangat mahal untuk mengompensasi hilangnya nilai lira terhadap mata uang utama. Melepaskan sistem tersebut dapat menakuti para deposan untuk membeli dolar AS dan memberikan tekanan baru pada lira.
Simsek mengambil langkah hati-hati pertama untuk mengurangi bantuan pada bulan lalu. Namun dia kemudian mengatakan kepada wartawan bahwa dia ingin memperkuat cadangan (mata uang) sehingga Turki dapat mendukung lira dengan lebih baik sebelum melakukan pemotongan lebih radikal terhadap skema US$124 miliar.
Ekonom pasar negara berkembang Timothy Ash menyebut program tersebut sebagai, "Granat tangan yang belum meledak yang ditempatkan di saku Simsek oleh tim yang akan keluar. Masalahnya, lira perlu dibiarkan untuk menyesuaikan diri lebih lemah mengingat tingginya inflasi. Namun setiap pergerakan yang lebih lemah akan membebani (bank sentral) sebagai kompensasi yang dibayarkan kepada para deposan," kata Ash.
"Kebijakan suku bunga yang jauh lebih tinggi dan menganggapnya positif secara riil akan menjadi solusi tetapi hal ini mungkin juga memerlukan kejutan kepercayaan dari jangkar eksternal--program IMF."
Erdogan telah berulang kali menolak gagasan untuk mencari dukungan Dana Moneter Internasional (IMF). (AFP/Z-2)
Prediksi harga emas Senin 23 Februari 2026 diperkirakan masih dalam tren positif. Simak faktor dolar AS, suku bunga, dan sentimen global yang memengaruhi pasar.
Inflasi Januari 2026 naik ke 3,55%. Bank Indonesia menahan BI Rate di 4,75% jelang Ramadan dan Idulfitri, seiring tekanan musiman dan nilai tukar rupiah.
Nilai tukar rupiah ditutup melemah 42 poin ke Rp16.828 per dolar AS. Penguatan dolar dan naiknya probabilitas The Fed menahan suku bunga pada Maret 2026 menekan pergerakan rupiah.
Presiden Donald Trump kembali menyuarakan dukungan atas penyelidikan terhadap Jerome Powell terkait proyek renovasi kantor Fed. Trump juga mendesak penurunan suku bunga.
Federal Reserve (The Fed) hampir dipastikan akan mempertahankan suku bunga acuannya dalam keputusan kebijakan terbaru yang dijadwalkan diumumkan pada Rabu (28/1) sore waktu setempat
Managing Director, Chief India Economist and Macro Strategist, Asean Economist HSBC Pranjul Bhandari menyebut masih ada kemungkinan Bank Indonesia terus memangkas suku bunga.
Sejumlah ekonom memperkirakan Bank Indonesia akan mempertahankan BI-Rate di level 4,75% bulan ini menjelang pengumuman hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG) BI.
IHSG Bursa Efek Indonesia pada perdagangan Kamis, 19 Februari 2026, dibuka menguat seiring harapan pelaku pasar bahwa Bank Indonesia akan mempertahankan suku bunga acuannya.
Ekonom LPPI Ryan Kiryanto memperkirakan Bank Indonesia mempertahankan BI Rate 4,75% di tengah inflasi di atas 3% dan pelemahan rupiah ke Rp16.884 per dolar AS.
GUBERNUR Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo menegaskan masih terbuka peluang penurunan lanjutan suku bunga acuan atau BI Rate pada tahun ini.
Terpilihnya Thomas Djiwandono sebagai Deputi Gubernur Bank Indonesia (BI) dinilai menjadi langkah positif bagi penguatan kebijakan ekonomi nasional.
Sejumlah ekonom memproyeksikan Bank Indonesia akan mempertahankan BI Rate di level 4,75% pada pengumuman hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG) Januari 2026, Rabu (21/1) siang ini.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved