Headline
PERADABAN tidak pernah tumbuh di ruang hampa. Ia dibangun oleh gagasan, dirawat oleh nilai, dan dijaga oleh nalar.
PERADABAN tidak pernah tumbuh di ruang hampa. Ia dibangun oleh gagasan, dirawat oleh nilai, dan dijaga oleh nalar.
Kumpulan Berita DPR RI
NOTARIS sekaligus pengamat perkoperasian Dewi Tenty Septi Artiany menerbitkan buku terbarunya berjudul Gelombang Pasang Koperasi Simpan Pinjam Indonesia. Buku ini merupakan hasil refleksi Dewi atas kondisi perkoperasian di Indonesia saat ini yang menimbulkan ambiguitas dan kebingungan tentang arah koperasi ke depan.
Sebagai seseorang yang sudah berkecimpung di dunia perkoperasian selama kurang lebih 19 tahun, ketajaman analisa Dewi dalam membaca situasi perkoperasian memang sulit diragukan. Dalam buku ini, Dewi berhasil merangkum secara komprehensif mengenai situasi perkoperasian di Indonesia dalam enam bab. Ada penguraian sejarah perkoperasian dunia, perkoperasian di Indonesia, situasi Koperasi Simpan Pinjam di Indonesia, masalah yang membelit koperasi di masa pandemi, hingga diakhiri dengan rekomendasi Dewi untuk mengembalikan jargon soko guru perekonomian nasional bagi koperasi yang kini sudah berjalan selama tujuh dekade.
Buku setebal 268 halaman ini menjadi buku ke-5 yang ditulis Dewi yang mengangkat tema pasang surut regulasi koperasi yang berimbas kepada eksistensi koperasi di Indonesia. Lebih spesifik, lulusan Doktoral Universitas Padjajaran ini membedah karut-marutnya situasi Koperasi Simpan Pinjam (KSP) di Indonesia.
Baca juga: Entaskan Kemiskinan dengan Tumbuhkan Koperasi
Tak dapat dipungkiri, saat ini, berbagai koperasi yang memakai label simpan pinjam kerap kali bermasalah, seperti kredit macet, gagal bayar, investasi bodong, hingga berujung pada kepailitan. Oleh karena itulah Dewi mengatakan bukunya diberi judul Gelombang Pasang Koperasi Simpan Pinjam Indonesia yang memiliki makna merusak oleh terpaan gelombang pasang KSP. Dewi mengibaratkan gelombang pasang tersebut seperti ombak pasang di pantai.
Hal itu disampaikan Dewi dalam acara peluncuran bukunya yang diselenggarakan Kelompok Notaris Pendengar, Pembaca, dan Pemikir (Kelompencapir) pada Diskusi ke-42 di Tamarind & Lime, Senopati, Jakarta Selatan, Kamis (27/7). "Kalau kita lagi di pantai berada dalam suatu gelombang pasang, yang ada kita masuk angin. Sementara, setelah gelombang pasang akan ada surut. Pada saat surut kita tenang, duduk, melihat pantai," kata Dewi.
Baca juga: Kalah Saing dengan Pinjol, 336 Koperasi di Tasikmalaya Berhenti Beroperasi
Menurut Dewi, koperasi merupakan aset bagi masyarakat Indonesia yang harus dikelola dengan baik. Sebab, ia mengatakan, Indonesia merupakan negara yang memiliki koperasi terbanyak dengan total 127 ribu unit. Dewi berharap dengan kehadiran para pemangku kebijakan di acara peluncuran bukunya itu dapat memperbaiki masa depan koperasi di Indonesia.
"Itu luar biasa kalau mau dijadiin aset. Kalau mau dijadiin aksesori saja ya terserah. Makanya sekarang kita panggil semua elemen masyarakat untuk melihat ini barang mau diapain. Jadi jangan berhenti di DPR, di pengamat, di saya, penulis. Ini waktunya kita bergerak bersama-sama untuk menjadikan koperasi ini kembali kepada mau apa," terangnya.
Lebih lanjut Dewi menilai kekacauan dari munculnya KSP bermasalah ini juga disebabkan oleh para notaris yang hanya memikirkan profit tanpa melihat klien. Menurut Dewi, hal ini berimplikasi pada lolosnya KSP bermasalah hingga berimbas pada kerugian nasabah. "KSP-KSP yang bermasalah itu bukan pada koperasinya, tetapi pengusaha koperasi yang mempergunakan koperasi sebagai cangkang. Orang koperasinya mah baik-baik, tetapi masalahnya ialah 'dipelintir' sedemikian rupa," tutur Dewi.
Ia pun berharap dengan terpaan gelombang pasang KSP bermasalah saat ini, para perumus kebijakan dapat melihat situasi yang semestinya dibutuhkan oleh para pegiat koperasi. Pada akhirnya, hal ini juga berdampak positif bagi masyarakat Indonesia. "Saya punya harapan, setelah amburadulnya koperasi diterjang dengan delapan koperasi yang katanya merugikan masyarakat Rp26 triliun, dengan adanya Bapak-Bapak di sini yang akan mengatur UU Koperasi seperti apa, insya Allah akan tenang dan kita akan menikmati keindahannya saja," pungkas Dewi. (RO/Z-2)
Buku berjudul Mika & Maka: Berani ke Dokter karya kolaborasi Karen Nijsen dan Maria Ardelia menghadirkan kisah yang disampaikan secara hangat dan mudah dipahami agar anak takut ke dokter
Buku Tumpeng Indonesia: Dari Dapur Tradisional Menuju Meja Bangsa disusun untuk memberikan perspektif luas mengenai tumpeng sebagai bagian dari kebudayaan.
Dalam memoarnya, Aurelie Maoeremans menceritakan bahwa pertemuannya dengan sosok "Bobby" terjadi saat ia masih berusia 15 tahun di sebuah lokasi syuting iklan.
Sekjen BPP Hipmi Anggawira menghadirkan dua buku yang membahas seputar arah kebijakan ekonomi Indonesia dalam menghadapi dinamika global.
Data BPS dalam Survei Sosial Ekonomi pada Maret 2024, sekitar 22,5 juta orang atau 8,23% penduduk Indonesia menyandang disabilitas.
Kementan juga mendiseminasi naskah kebijakan berjudul “Regenerasi Petani untuk Percepatan Pencapaian Swasembada Pangan Berkelanjutan.
Kemenakop menjajaki peluang kerja sama dengan Asosiasi Perusahaan Penjaminan Daerah (Aspenda) untuk menyukseskan program Pembentukan Koperasi Desa/ Kelurahan (KopDes) Merah Putih.
Lembaga Pengelola Dana Bergulir (LPDB) KUMKM akan fokus menyalurkan pembiayaan kepada koperasi di sektor produksi. Pembiayaan kepada koperasi simpan pinjam perlu dihentikan.
Berbagai kegiatan dilaksanakan pada acara ini di antaranya adalah pembagian sembako berupa beras, minyak goreng, gula, tepung terigu kepada pensiunan.
Sementara itu perebutan juara pertama mempertandingan antar Bank BCA melawan Bank BCA Syariah dan dimenangkan tim bank BCA dengan skor 4 - 1
Kegiatan pelayanan kesehatan gratis dan pemberian vitamin cuma-cuma telah dilaksanakan di 19 wilayah perwakilan seluruh Indonesia.
Tim IAI sebelumnya telah melakukan visitasi ke delapan KSP untuk mendapatkan gambaran terhadap tata kelola dan sistem pelaporan di KSP
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved