Headline
Diskoneksi antara tren rupiah dan IHSG dipengaruhi kredibilitas kebijakan makro.
Diskoneksi antara tren rupiah dan IHSG dipengaruhi kredibilitas kebijakan makro.
Kumpulan Berita DPR RI
PEMBANGUNAN di bidang konstruksi di Indonesia mengalami kemajuan yang sangat pesat yang dilakukan pemerintah seperti jalan Tol Tran Sumatra, IKN dan proyek strategis Nasional dan pihak swasta.
Maraknya pekerjaan konstruksi seperti gedung bertingkat, pabrik, pekerjaan infrastruktur jalan dan jembatan.
Di dalam melaksanakan pekerjaan konstruksi tersebut diperlukan teknologi, metode kerja dan material.
Baca juga : Infrastructure Connect 2022 Sukses Gaet Ribuan Pengunjung di JIExpo Jakarta
Material konstruksi sebagai salah satu komponen yang sangat penting agar pekerjaan konstruksi yang dihasilkan berkualitas baik.
Menurut Prof. Dr. Ir. Jonbi, MT, MM. MSi, Owner CV John hi-tech Contrindo (JHC) , sejak 10 tahun terakhir untuk pekerjaan konstruksi terkait dengan pekerjaan beton telah menggunakan material maju yang dikenal dengan kimia konstruksi seperti admixture, waterproofing, concrete repair, epoxy dan sebagainya.
"Penggunaan material tersebut terbukti sangat membantu mutu bangunan Gedung dan infrastruktur yang menjadi lebih berkualitas," kata Prof.Jonbi dalam keterangan pers, Jumat (10/2).
Baca juga : Pembangkit Listrik Tak Sesuai Harapan, Hubungan Tiongkok-Yordania Tak Harmonis
Namun, sayangnya produsen material kimia konstruksi tersebut masih dikuasai oleh pihak asing.
"Beberapa perusahaan asing yang menguasai pasar material kimia konstruksi di Indonesia diantaranya adalah PT Sika Indonesia, PT Fosroc Indonesia, dan PT BASF," jelasnya.
Ketika perusahaan tersebut menguasai pangsa pasar material kimia konstruksi di Indonesia sehingga Indonesia terkesan hanya sebagai pasar saja.
Baca juga : Wujudkan Infrastruktur Berkualitas, Citra Mandiri Ciptakarya Fokus Pada Efisiensi Waktu Pembangunan
"Karena masih sedikitnya produsen lokal produk material kimia konstruksi. Sehingga Indonesia masih tergantung dari pihak luar untuk pengadaan material dan penetapan harga produk material kimia konstruksi," papar Prof. Jonbi.
"Hal ini akan sangat berpengaruh terhadap penyelesaian proyek-proyek yang ada di Indonesia," ucapnya.
Indonesia sejatinya memiliki banyak peluang untuk mengembangkan dan memproduksi material kimia konstruksi tersebut karena memiliki sumber daya alam berupa pasir silika dan semen yang merupakan bahan utama material kimia.
Baca juga : Menkeu: 50% Alokasi Pembiayaan Investasi untuk Pembangunan Infrastruktur
Menurut Prof. Dr Ir Jonbi MT MM MSi, beberapa daerah seperti di Bangka, Lampung, Kalimantan, dan Papua memiliki potensi sumber pasir silika yang sangat besar namun belum dimanfaatkan menjadi material yang bernilai.
Berdasarkan data hingga akhir tahun 2021 penjualan kimia konstruksi di Indonesia diperkirakan mencapai Rp 3 triliun.
“Sayangnya hingga kini untuk menjadi produsen material kimia konstruksi, masih terkendala memiliki pemahaman yang keliru antara lain selalu ditanamkan pemikiran oleh pihak asing kepada para pelaku konstruksi di Indonesia," jelas Prof.Jonbi.
Baca juga : Hingga Saat Ini, Ada 142 Investor Tertarik Berinvestasi di IKN Nusantara
Kendalannya bahwa untuk membuat material kimia konstruksi harus berteknologi tinggi (Hi-Tech), harus modal besar sehingga dikesankan bahwa bangsa Indonesia tidak akan mampu untuk memproduksi material kimia konstruksi tersebut.
Di berbagai kesempatan pemerintah terus-menerus mengkampanyekan tentang penggunaan material produk dalam negeri walaupun hasilnya hingga kini masih jauh dari harapan.
"John hi-tech Contrindo sebagai produsen lokal yang telah berpengalaman 30 tahun sebagai produsen kimia konstruksi dengan produknya Waterproofing, Grouting, Epoxy dan Material Repair, membuka peluang untuk para pengusaha di berbagai daerah untuk menjadi produsen kimia konstruksi melalui program franchise," jelasnya.
“Mari bersama kita menjadi produsen material kimia konstruksi sehingga dapat memicu pertumbuhan ekonomi yang pada akhirnya akan menuju kemandirian bangsa Indonesia,” kata Prof.Jonbi yang memiliki situs www.jhonhitech-center.com. (RO/OL-09)
Salah satu dari empat tokoh tersebut berasal dari Indonesia adalah Marine Novita (Co-founder MilikiRumah)
Di tengah upaya pembangunan SDGs, muncul pertanyaan penting mengenai bagaimana sumber daya dapat dimobilisasi untuk menutup kesenjangan pembangunan
Otoritas Palestina meradang lantaran Israel kian memperketat kendali atas Tepi Barat.
Arah pembangunan ke depan harus seiring dengan penataan ulang kawasan hutan yang berfungsi sebagai daerah tangkapan air.
Komitmen ini menjadi penting sehingga memiliki persepsi publik yang kuat dan rekam jejak positif di kalangan masyarakat luas.
Isu pendidikan juga menjadi catatan Menko Polkam, di mana terdapat aspirasi masyarakat untuk memiliki perguruan tinggi, spesifiknya kehadiran cabang Universitas Cenderawasih (UNCEN).
Jalan rusak sering kali menjadi penyebab kecelakaan fatal bagi pengendara motor, terutama saat musim hujan.
Inovasi teknologi migas kembali diadaptasi PT Pertamina Gas (Pertagas) untuk menjawab persoalan dasar masyarakat desa, khususnya dalam menjaga infrastruktur pipa air.
Banyak perumahan gagal dihuni akibat minim infrastruktur dasar. Wamen PU menegaskan hunian harus terintegrasi, akademisi sebut kumuh akibat sistem.
Ekspansi proyek perumahan nasional dan percepatan Proyek Strategis Nasional (PSN) membuka peluang besar bagi industri penyedia material mechanical, electrical & plumbing (MEP).
Pemkab Bekasi menetapkan pelebaran Jalan Raya Pilar-Sukatani sebagai prioritas 2026. Anggaran ratusan miliar disiapkan untuk pembebasan lahan demi mengurai kemacetan kronis.
Menutup tahun 2025, Himpunan Kawasan Industri Indonesia (HKI) melihat perjalanan kawasan industri sebagai cermin dinamika ekonomi Indonesia yang terus bergerak.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved