Headline
Pemerintah tetapkan 1 Ramadan pada Kamis, 19 Februari 2026.
Kumpulan Berita DPR RI
INSTITUTE for Development of Economics and Finance (Indef) menilai daya beli masyarakat Indonesia masih cukup rendah. Ini karena sebagian besar pendapatan yang dihasilkan masyarakat dihabiskan untuk kebutuhan perut, alias makanan.
"Daya beli masyarakat kita itu sebenarnya rendah. Karena hampir semua income itu digunakan untuk membeli makanan," ujar Direktur Program Indef Esther Sri Astuti saat menjadi pembicara dalam diskusi bertajuk Akselerasi Ekonomi di Ujung Tanduk, Selasa (7/2).
Pernyataan tersebut mengacu dari data yang dirilis oleh Badan Pusat Statistik (BPS). Dari data itu diketahui bahwa kontribusi konsumsi makanan dan minuman selain restoran pada konsumsi rumah tangga nasional mencapai 40,32%.
Selain urusan perut, pendapatan masyarakat juga diketahui dihabiskan untuk konsumsi di sektor transportasi dan komunikasi. Kontribusi pengeluaran di sektor itu mencapai 22,36% terhadap konsumsi rumah tangga.
"Jadi pengeluaran paling besar itu dialokasikan untuk mengonsumsi makanan dan minuman. Lalu juga digunakan untuk transportasi dan komunikasi sebagai dampak kenaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM)," kata Esther.
Baca juga: Indonesia Diminta Waspada Risiko Peningkatan Biaya Hidup
"Masyarakat, melalui data BPS ini terlihat sangat sedikit sekali mengalokasikan pendapatannya untuk diinvestasikan ke dalam pendidikan," tambahnya.
Sebab, dari data itu terlihat kontribusi konsumsi kesehatan dan pendidikan hanya 6,89% terhadap konsumsi rumah tangga nasional. Angka itu bahkan di bawah dari kontribusi konsumsi restoran dan hotel (9,99%) dan perumahan dan perlengkapan rumah tangga (12,59%).
Padahal, kata Esther, untuk mendorong peningkatan pendapatan, diperlukan kemampuan dan kecakapan dari sumber daya manusia. Karenanya, pemerintah didorong untuk meningkatkan kapasitas ekonomi rumah tangga melalui beragam saluran yang dimungkinkan.
"Insentif tidak hanya bansos, bansos itu temporer, solusi sementara. Solusi yang sustain dan langgeng adalah meningkatkan kapasitas dari sumber daya manusianya, meningkatkan kapasitas ekonomi rumah tangga dengan touch up skill, sehingga ada income yang lebih baik," pungkasnya.
Adapun konsumsi rumah tangga masih menjadi sumber pertumbuhan ekonomi terbesar di Indonesia. Di 2022, merujuk data BPS, porsi konsumsi rumah tangga tercatat 2,38% dari angka pertumbuhan 5,01%.
Sementara distribusi konsumsi rumah tangga terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) tercatat 51,65% dengan pertumbuhan secara tahunan di angka 4,48%. (OL-4)
INDONESIA tidak kekurangan uang. Yang kurang adalah arah. Ini bukan gejala siklikal atau persoalan sentimen pasar, melainkan kegagalan struktural.
Tanpa dorongan fiskal awal, ekonomi akan selalu menunggu.
Alih-alih memicu inflasi pangan, program prioritas pemerintah MBG dinilai justru akan menjadi stimulus bagi peningkatan produktivitas nasional dan penguatan ekonomi kerakyatan.
Berdasarkan data selama bulan Januari hingga Desember 2024, tercatat 38juta kunjungan wisatawan datang ke DIY.
berdasarkan hasil rapat DK OJK yang dilaksanakan pada 1 Oktober lalu menilai sektor jasa keuangan terjaga stabil.
INDONESIA dan Dewan Kerja Sama Teluk (Gulf Cooperation Council/GCC) telah melaksanakan Putaran Ketiga Perundingan Perjanjian Perdagangan Bebas antara kedua pihak (Indonesia-GCC FTA).
Harga emas global dan Antam turun pada 17 Februari 2026. Prediksi untuk Rabu, 18 Februari, diperkirakan stabil atau berpotensi rebound tipis dengan harga Antam Rp2,96–3,05 juta per gram.
Firman Soebagyo kritik impor garam Australia dan nilai pemerintah lemah lindungi petani lokal. Komisi IV DPR desak bangun industri garam nasional.
Presiden RI Prabowo Subianto mengungkapkan kekhawatirannya terhadap adanya pihak-pihak tertentu yang dinilai berupaya melemahkan Indonesia dan menghambat langkah bangsa.
Pemprov DKI Jakarta memprediksi lonjakan kebutuhan pangan jelang Ramadan dan Idulfitri 2026, terutama telur ayam, daging, bawang merah, dan minyak goreng.
Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman memastikan stok pangan nasional surplus dan aman hingga Idulfitri 2026.
Ini tentunya mesti diuji, baik di tingkat konsep maupun fakta sehingga kita bisa berharap semua itu menjadi nyata bagi upaya meningkatkan kesejahteraan dan kemakmuran rakyat.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved