Headline
Taksiran kerugian itu belum yang diderita masyarakat, termasuk para pelaku usaha.
Taksiran kerugian itu belum yang diderita masyarakat, termasuk para pelaku usaha.
Kumpulan Berita DPR RI
PEMERINTAH didorong menjaga kesinambungan serta meningkatkan volume produksi sejumlah komoditas unggulan untuk menjaga kinerja ekspor nasional. Pasalnya, harga-harga komoditas di tingkat global mulai melandai, ditambah lagi dengan ancaman resesi dunia.
Hal itu disampaikan ekonom dari Bank Permata Josua Pardede saat dihubungi, Selasa (25/10).
Peningkatan volume itu menurutnya, juga dapat menjadi salah satu cara untuk mencapai surplus dagang sebesar US$60 miliar seperti yang diproyeksikan pemerintah.
"Dalam jangka pendek, untuk mempertahankan kinerja dagang kita ke depan pemerintah harus terus berupaya menjaga kesinambungan produksi dari komoditas-komoditas penting Indonesia," kata Josua, Selasa (25/10).
"Komoditas-komoditas tersebut yakni seperti batu bara, CPO, besi dan baja (terkait nikel) agar secara volume ekspor dapat terjaga atau meningkat sehingga dapat menghilangkan efek penurunan harga," sambungnya.
Dengan kondisi dunia yang sedang dibayangi ancaman resesi, proyeksi surplus dagang sebesar US$60 miliar menurut Josua relatif optimis. Pasalnya, hingga September 2022 nilai surplus dagang Indonesia tercatat US$39,87 miliar. Realisasi itu tumbuh 58,83% dari surplus 2021 yang tercatat hanya US$35,34 miliar.
Namun tahun berjalan hanya menyisakan tiga bulan. Dengan kata lain, untuk mencapai proyeksi surplus tersebut, Indonesia mesti membukukan surplus dagang setidanya US$6,6 miliar per bulan.
Josua menambahkan, surplus neraca dagang sedianya dapat menopang penyediaan likuiditas dolar Amerika Serikat dan memenuhi kebutuhan mata uang AS di dalam negeri. Hanya, menurutnya perlu dilakukan pengkajian lebih lanjut mengenai signifikansi dolar AS itu bagi perekonomian domestik.
"Memang itu dapat membantu likuiditas dolar AS dan kebutuhannya di dalam negeri. Namun perlu dikaji lebih jauh terkait dengan berapa lama Devisa Hasil Ekspor (DHE) tersebut bertahan di pasar domestik dan menjadi likuiditas bagi perekonomian domestik," ujar Josua.
Diketahui sebelumnya Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengungkapkan, nilai surplus dagang Indonesia sepanjang 2022 diperkirakan bakal menembus US$60 miliar. Ini bahkan lebih besar dibanding era ledakan komoditas (boom commodity) di 2010-2011.
"Perdagangan kita tahun ini diproyeksikan menjadi US$60 miliar secara signifikan lebih besar dari surplus perdagangan tahunan sekitar US$22 miliar dan US$26 miliar selama commodity boom terakhir pada 2010 atau 2011," ujarnya. (OL-8)
Badan Pusat Statistik (BPS) mengumumkan neraca perdagangan barang Indonesia mengalami surplus sebesar US$38,54 miliar atau setara Rp645,7 triliun di sepanjang Januari-November 2025.
Industri penunjang minyak dan gas (migas) dalam negeri semakin menunjukkan peran strategisnya.
Holding UMKM Expo 2025 bertema "Ekosistem Bisnis UMKM Kuat, Siap Menjadi Jagoan Ekspor” menjadi wadah yang sangat baik untuk perkembangan UMKM.
Nilai ekspor non-migas Jawa Barat pada periode Januari hingga Oktober 2025 telah menyentuh angka USD 32,01 miliar.
Delapan perusahaan asal Jawa Timur ambil bagian dalam kegiatan Pelepasan Ekspor Serentak yang dipimpin Wakil Menteri Perdagangan Dyah Roro Esti Widya Putri.
Indonesia merupakan pasar yang sangat penting bagi produk Malaysia karena kedekatan budaya, selera, dan preferensi konsumen.
BPDP Kementerian Keuangan fokus melaksanakan program peremajaan perkebunan kakao dengan target 5.000 hektare secara nasional pada 2026.
Momentum AOE 2026 menjadi ajang forum bisnis yang mempertemukan calon pembeli (buyer) dan investor.
Penyumbang inflasi tertinggi adalah awang merah 0,04 persen, telur ayam 0,03 persen. Karena itu, Pemprov Jatim menggelar pasar murah untuk menurunkan harga telur dan bawang merah.
Upaya memperkuat sistem komoditas berkelanjutan di Indonesia terus dikembangkan melalui kolaborasi lintas lanskap yang melibatkan pemerintah, komunitas, dan sektor swasta.
Generasi muda sawit harus dibekali keterampilan teknis, manajerial, hingga digital sehingga mampu menghadapi tantangan industri 4.0 dan memperkuat daya saing global.
Simposium tentang Komoditas, Modal, Konektivitas: Tiga Keunggulan Indonesia
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved