Rabu 25 Mei 2022, 20:39 WIB

OJK: Sektor Jasa Keuangan Tetap Stabil

M. Ilham Ramadhan Avisena | Ekonomi
OJK: Sektor Jasa Keuangan Tetap Stabil

Antara/Agung Rajasa
Nasabah melakukan transaksi perbankan

 

OTORITAS Jasa Keuangan (OJK) mencatat perkembangan sektor keuangan tetap stabil terjaga dengan kinerja intermediasi lembaga jasa keuangan yang terus meningkat dan semakin berkontribusi terhadap berlanjutnya pemulihan ekonomi nasional di tengah meningkatnya ketidakpastian global.

Data OJK per April menunjukkan kredit perbankan tumbuh sebesar 9,10% (year on year/yoy) atau 3,69% (year to date/ytd), meningkat signifikan dari Maret yang tumbuh 6,67% (yoy). 

Secara sektoral, kredit sektor pertambangan dan manufaktur mencatatkan kenaikan terbesar secara bulanan (month to month/mtm) masing-masing sebesar Rp21,5 triliun dan Rp20,8 triliun. Sementara, Dana Pihak Ketiga (DPK) tumbuh sebesar 10,11% (yoy) atau 0,08% (ytd). 

Sedangkan industri asuransi mencatatkan penghimpunan premi asuransi pada April 2022 sebesar Rp21,8 triliun dengan rincian asuransi jiwa sebesar Rp8,6 triliun; asuransi umum dan reasuransi sebesar Rp13,2 triliun. 

Sementara Fintech P2P lending pada April 2022 mencatatkan outstanding pembiayaan sebesar Rp38,68 triliun atau tumbuh sebesar 87,7% (yoy). Adapun piutang perusahaan pembiayaan pada April 2022 tumbuh sebesar 4,51% (yoy). 

Kemudian di pasar modal, hingga 24 Mei 2022, jumlah penawaran umum yang dilakukan emiten mencapai 79 dengan total nilai penghimpunan dana mencapai Rp100,1 triliun. Dari jumlah penawaran umum tersebut, 23 diantaranya dilakukan oleh emiten baru. 

Dalam pipeline saat ini terdapat 105 emiten yang akan melakukan penawaran umum dengan total indikasi penawaran sebesar Rp68,67 triliun.

"Peningkatan kinerja intermediasi tersebut terjadi di tengah perekonomian global yang masih menghadapi tekanan inflasi yang persisten tinggi dan telah mendorong pengetatan kebijakan moneter yang lebih agresif oleh mayoritas bank sentral dunia," ujar Deputi Komisioner Humas dan Logistik OJK Anto Prabowo melalui siaran pers, Rabu (25/5). 

Anto menambahkan, konflik Rusia-Ukraina serta terganggunya global supply chain akibat lockdown di Tiongkok terus mendorong kenaikan harga komoditas terutama energi dan pangan. 

Kenaikan inflasi yang diikuti oleh pengetatan kebijakan moneter global telah meningkatkan potensi terjadinya hard landing sehingga meningkatkan volatilitas di pasar keuangan global dan terjadinya outflow dari pasar keuangan emerging markets.

Baca juga : LPS Perkirakan Pertumbuhan Triwulan II Capai 5,3%

Namun demikian, lanjut Anto, kinerja perekonomian domestik masih terjaga terlihat dari rilis PDB triwulan I 2022 yang terpantau sebesar 5,01% (yoy) diikuti dengan peningkatan kinerja mayoritas perusahaan publik di periode yang sama. 

"Indikator ekonomi high frequency juga terpantau masih positif, mengindikasikan berlanjutnya pemulihan ekonomi," terangnya.

Selain itu, pemerintah juga telah menaikkan anggaran subsidi energi menjadi Rp443,6 triliun, terbesar sepanjang sejarah. Namun demikian, perlu dicermati tren kenaikan inflasi domestik dan dampak pelarangan ekspor CPO terhadap kinerja neraca perdagangan di bulan Mei 2022.

Di tengah perkembangan tersebut, pasar keuangan domestik secara umum bergerak volatile sejalan dengan pelemahan pasar keuangan global seiring aksi risk off investor. Hingga 20 Mei 2022, IHSG tercatat melemah sebesar 4,3% (month to date/mtd) ke level 6.918, sejalan dengan aliran dana nonresiden yang tercatat outflow sebesar Rp9,23 triliun (mtd). 

Pasar SBN secara mtd juga terpantau melemah dengan rerata yield SBN naik 42,5 bps di seluruh tenor sejalan dengan outflow SBN investor nonresiden sebesar Rp37,81 triliun mtd. Sepanjang bulan Mei 2022, total net outflow nonresiden di IHSG dan pasar SBN adalah sebesar Rp47,04 triliun. 

Profil risiko lembaga jasa keuangan pada April 2022 masih relatif terjaga dengan rasio NPL gross perbankan tercatat sebesar 3,00% (NPL net: 0,83%).

Sementara itu, likuiditas perbankan berada pada level yang memadai. Rasio alat likuid/non-core deposit dan alat likuid/DPK per April 2022 terpantau masing-masing pada level 131,21% dan 29,38%, di atas threshold masing-masing sebesar 50% dan 10%. 

"Perbankan dinilai dapat memenuhi peningkatan GWM lanjutan sebesar 1% per Juni 2022 dengan likuiditas yang dipandang masih memadai untuk menyalurkan kredit dalam rangka melanjutkan momentum pemulihan ekonomi," kata Anto. 

Permodalan lembaga jasa keuangan sampai saat ini terjaga dengan pada level yang memadai. Capital Adequacy Ratio perbankan tercatat sebesar 24,32%. Risk-Based Capital industri asuransi jiwa dan asuransi umum masing-masing tercatat sebesar 506,22% dan 321,51%, jauh di atas ambang batas ketentuan sebesar 120%. Begitupun gearing ratio perusahaan pembiayaan yang sebesar 2,01 kali, jauh di bawah batas maksimum 10 kali.

"Ke depan, OJK akan terus memperkuat koordinasi dengan para stakeholder dalam rangka menjaga stabilitas sistem keuangan khususnya dalam mengantisipasi risiko tekanan inflasi global dan pengetatan kebijakan bank sentral dunia," pungkas Anto. (OL-7)

Baca Juga

Antara

Mendag Klaim Harga Minyak Goreng Curah Sudah Rp14 Ribu per Liter

👤M. Ilham Ramadhan Avisena/Andhika prasetyo 🕔Senin 04 Juli 2022, 23:39 WIB
Kendati demikian, pemerintah tetap menyalurkan minyak goreng curah murah kepada masyarakat di sejumlah wilayah...
Dok. Pribadi

Program Juragan Lele Sandiaga Uno Berhasil Dorong Warga Buka Usaha

👤Mediaindonesia.com 🕔Senin 04 Juli 2022, 23:08 WIB
“Lewat program Juragan Lele Budidaya ikan dalam ember (Budikdamber), salah satu warga Pesanggrahan berhasil menciptakan peluang...
AFP/Rami al Sayed.

Kapal Tanker Minyak Iran Ketiga Tiba di Suriah

👤Mediaindonesia.com 🕔Senin 04 Juli 2022, 22:35 WIB
Perjanjian tersebut telah terbukti penting bagi kedua negara. Maklum, ekonomi mereka berjuang di bawah sanksi Barat yang...

E-Paper Media Indonesia

Baca E-Paper

Berita Terkini

Selengkapnya

Top Tags

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya