Senin 25 April 2022, 15:53 WIB

DPR: Kebijakan Larang Ekspor Minyak Goreng dan CPO Perlu Dievaluasi

mediaindonesia.com | Ekonomi
DPR: Kebijakan Larang Ekspor Minyak Goreng dan CPO Perlu Dievaluasi

Ist/DPR
Anggota Komisi VI DPR RI Rafli.

 

MENANGGAPI keputusan Presiden Joko Widodo yang melarang ekspor minyak goreng dan bahan bakunya (CPO) per Kamis, 28 April 2022 mendatang, Anggota Komisi VI DPR RI Rafli menilai kebijakan tersebut diputuskan berdasarkan pertimbangan emosional jangka pendek.

Berkaca dari pengalaman sebelumnya, pemerintah pernah memutuskan melarang ekspor batu bara. Akan tetapi, tujuan kebijakan tersebut tidak sesuai dengan harapan sehingga menimbulkan kerugian bagi negara.

Ia menjelaskan jika kegiatan ekspor minyak goreng dilarang, maka industri dalam negeri tidak akan mampu menyerap seluruh hasil produksi minyak goreng.

“Jangan sampai larangan kebutuhan ekspor minyak goreng mengakibatkan kerugian. Pemerintah perlu mengakomodir siklus perdagangan CPO, bukan serta merta stop ekspor, itu bukan solusi menyeluruh” tutur Rafli dalam keterangan persnya, Senin (25/4).

Baca juga: DPR Dituntut Perkuat Pengawasan Tata Niaga Minya Goreng

Berdasarkan informasi yang ia terima, data produksi minyak goreng tahun 2021 mencapai 20,22 juta ton. D

i antaranya, sebanyak 5.07 ton (25,05%) digunakan untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri, dan 15,55 juta ton (74,93%) diekspor. Sehingga dari presentasi tersebut, surplus produksi menjadi sangat besar.

Kebijakan ekspor, urai politisi Partai Keadilan Sejahtera (PKS) tersebut, hanya perlu diseimbangkan dengan mekanisme subsidi minyak goreng dalam negeri dengan pola Domestic Market Obligation (DMO) dan Domestic Price Obligation (DPO) yang sudah diatur.

Kebijakan ini pernah dipraktikan oleh Malaysia, negara penghasil CPO terbesar kedua di dunia dengan harga minyak goreng Rp8.500/kg.

Namun, jika dibandingkan dengan Indonesia, negara penghasil minyak goreng pertama di dunia, harga yang dipatok relatif lebih mahal.

Oleh karena itu, Rafli menyarankan agar setiap stakeholder yang berkaitan dan terdampak dengan kebijakan soal minyak goreng itu duduk bersama untuk evaluasi.

“Bila perlu studi banding. Ingat, komoditi ekspor berkontribusi besar bagi devisa. Untuk menjaga stabilitas harga, setiap daerah penghasil kelapa sawit harus ada pabrik pengolahan minyak goreng. Di sisi lain, ada tiga perusahaan besar BUMN TBK penghasil minyak goreng, semestinya pemerintah mampu bikin harga lebih murah," kata legislator dapil Aceh I tersebut. (RO/OL-09)

Baca Juga

Dok. BP Batam

Kepala BP Batam Terima Dianugerah Bintang Bhakti Tri Dharma Nararya di HUT PP Polri

👤Mediaindonesia.com 🕔Kamis 30 Juni 2022, 16:42 WIB
Penghargaan disematkan kepadanya, atas inovasi dan semangat juang dalam pembangunan Negara Kesatuan Republik Indonesia khususnya di Batam,...
Ist

Bertemu Dubes Spanyol, Menhub Tawarkan Proyek di IKN Nusantara

👤mediaindonesia.com 🕔Kamis 30 Juni 2022, 16:30 WIB
Dalam pertemuan tersebut, Pemerintah Kerajaan Spanyol menawarkan bantuan untuk proyek transportasi di...
Antara

Pertamina: Pembelian BBM Lewat Aplikasi Hanya untuk Roda Empat

👤Insi Nantika Jelita 🕔Kamis 30 Juni 2022, 16:22 WIB
Kendaraan roda empat yang dimaksud mencakup kendaraan pribadi, angkutan konvensional, hingga angkutan daring. Pada tahap awal, kebijakan...

E-Paper Media Indonesia

Baca E-Paper

Berita Terkini

Selengkapnya

Top Tags

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya