Kamis 20 Januari 2022, 18:08 WIB

Inflasi Cetak Rekor, Sri Lanka Naikkan Suku Bunga

Mediaindonesia.com | Ekonomi
Inflasi Cetak Rekor, Sri Lanka Naikkan Suku Bunga

AFP.
Orang-orang mengantre untuk membeli tabung liquefied petroleum gas (LPG) di Kolombo, ibu kota Sri Lanka, pada 19 Januari 2022.

 

BANK sentral Sri Lanka menaikkan suku bunga pada Kamis (20/1) dalam upaya menjinakkan inflasi yang merajalela dan mencegah belanja konsumen. Pasalnya, negara itu menderita kekurangan mata uang asing dan tertatih-tatih di ambang default.

Negara kepulauan berpenduduk sekitar 22 juta tersebut telah mengalami kekurangan makanan dan bahan bakar serta penjatahan listrik. Lembaga pemeringkat memperingatkan mungkin negara itu tidak dapat memenuhi pembayaran utangnya. Inflasi mencapai rekor 12,1% pada bulan lalu.

Bank sentral menaikkan suku bunga deposito dan pinjaman sebesar 50 basis poin masing-masing menjadi 5,5% dan 6,5%. Pendakian tersebut merupakan yang pertama sejak Agustus lalu.

Dikatakan dalam suatu pernyataan bahwa biaya pinjaman yang lebih tinggi akan mendorong tabungan dan mengurangi konsumsi. Ini akan mengurangi permintaan impor pada saat cadangan devisa negara berada di bawah tekanan. "Kami ingin memberikan pesan yang sangat jelas bahwa inflasi sedang ditangani," kata Gubernur Bank Sentral Ajith Nivard Cabraal kepada wartawan.

Baca juga: Seratusan Miliarder Tuntut Negara Pajaki Mereka dengan Adil

Sektor pariwisata dan pengiriman uang pekerja migran, sumber pendapatan utama pemerintah, telah terpukul oleh pandemi. Dikatakan ekonomi tumbuh 4,0% tahun lalu, setelah mengalami rekor kontraksi 3,6% pada 2020.

Kolombo menegaskan akan menghormati kewajiban utang luar negeri senilai US$35 miliar. Cabraal kembali menegaskan bahwa dana talangan dari Dana Moneter Internasional tidak diperlukan.

"Orang-orang memiliki fiksasi pada IMF. Tidakkah Anda memiliki gagasan tentang program kami?" dia berkata. "Program kami memiliki banyak manfaat."

Para ekonom telah mendesak Kolombo untuk meminta bantuan IMF dalam merestrukturisasi senilai US$6,9 miliar dalam pembayaran utang luar negeri yang jatuh tempo tahun ini. Namun Cabraal mengatakan dia yakin bahwa pengetatan lebih lanjut dari pembatasan valuta asing akan memungkinkan Sri Lanka untuk mengatasi krisis.

Baca juga: Tolak Bantuan IMF, Sri Lanka Cari Pinjaman Baru Tiongkok

Aturan baru mengharuskan semua nonpenduduk untuk membayar barang dan jasa dalam mata uang asing mulai Kamis. Langkah ini menurut Cabraal diperlukan untuk memberi bank lebih banyak likuiditas dolar. (AFP/OL-14)

Baca Juga

AFP/Sam Panthaky.

Miliarder Gautam Adani Akuisisi Perusahaan Semen Holcim India

👤Mediaindonesia.com 🕔Senin 16 Mei 2022, 18:39 WIB
Saham Ambuja Cments naik 3,80%. Saham di ACC Ltd naik 6% di Mumbai setelah pengumuman...
Antara/M N Kanwa

Sinergi Bank Raya dan BRI, Bidik Pencairan Pinjaman Rp7,7 Triliun Lewat Agen BRILink

👤Mediandonesia.com 🕔Senin 16 Mei 2022, 18:32 WIB
Agen BRILink merupakan salah satu bagian penting yang tak terpisahkan dalam mewujudkan strategi BRIVolution...
MI/Cri Qanon Ria Dewi.

PTPN VII Optimistis Capai Target Produksi 112 Ribu Ton Gula

👤Cri Qanon Ria Dewi 🕔Senin 16 Mei 2022, 18:11 WIB
Manajer Off Farm PT BCN Unit Cintamanis Andhiyan Yuwono saat dikonfirmasi tentang kesiapan buka giling 2022 menyatakan sudah...

E-Paper Media Indonesia

Baca E-Paper

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya