Headline
Buka puasa bersama bukan sekadar rutinitas seremonial.
Buka puasa bersama bukan sekadar rutinitas seremonial.
Kumpulan Berita DPR RI
KEMENTERIAN Kelautan dan Perikanan (KKP) melalui Direktorat Jenderal Pengawasan Sumber Daya Kelautan dan Perikanan membekali para Nakhoda Kapal Pengawas Perikanan dengan tongkat komando. Tongkat ini sebagai simbolisasi amanah dan tanggung jawab yang diberikan negara.
Hal ini merupakan upaya penguatan semangat, tanggungjawab, dan kemampuan personel dalam menghadapi tantangan pengawasan di lapangan serta mengawal program-program prioritas Menteri kelautan dan Perikanan Sakti Wahyu Trenggono, termasuk penangkapan ikan terukur.
"Tradisi penyerahan tongkat komando kepada para Nakhoda Kapal Pengawas Perikanan merupakan hal baru yang kami lakukan sebagai upaya melecut semangat dan tanggung jawab mereka untuk menjaga laut kita, termasuk mengawal program prioritas Menteri Kelautan dan Perikanan," ujar Laksda Adin Nurawaluddin, Direktur Jenderal Pengawasan Sumber Daya Kelautan dan Perikanan yang melaksanakan prosesi penyerahan tongkat komando secara langsung kepada para Nakhoda Kapal Pengawas Perikanan.

Prosesi penyerahan tongkat komando ini dilakukan di tengah-tengah pelaksanaan kegiatan penyegaran teknis menembak bagi Nakhoda Kapal Pengawas Perikanan dan Kepala Unit Pelaksana Teknis Pengawasan Sumber Daya Kelautan dan Perikanan (UPT PSDKP) di Markas Marinir Cilandak Jakarta. Kegiatan yang diikuti oleh 30 Nakhoda Kapal Pengawas Perikanan dan 14 Kepala UPT PSDKP ini dilaksanakan bekerja sama dengan Markas Komando Marinir Cilandak Jakarta, pada Kamis (4/11/2021).
“Ini upaya meningkatkan ketangguhan mental, tanggung jawab, dan kecakapan petugas kami di lapangan," ujar Adin.
Lebih lanjut Adin menjelaskan bahwa menjelang implementasi penangkapan ikan terukur, maka kesehatan jasmani, semangat, tanggung jawab, psikologis, dan keterampilan para Nakhoda Kapal Pengawas Perikanan dan Kepala UPT PSDKP dievaluasi dan dilakukan penyegaran. Hal ini agar mereka siap dalam kondisi prima.
Ini merupakan salah satu komitmen KKP untuk memastikan kegiatan pengawasan dalam rangka mengawal program-program prioritas Menteri Kelautan dan Perikanan dapat terlaksana dengan baik. Sebelumnya, pada bulan Oktober 2021, tradisi pengambilan dan penyerahan Tongkat Komando juga telah dilaksanakan terhadap 14 Kepala UPT PSDKP.

“Dinamika di lapangan semakin kompleks seiring dengan program kerja Bapak Menteri Kelautan dan Perikanan yang semakin kuat untuk tata kelola sumber daya kelautan dan perikanan yang seimbang antara ekonomi dan ekologi yang berorientasi pada kesejahteraan nelayan. Ini tentu memerlukan semangat, daya juang dan mentalitas yang baik,” tegas Adin.
Dalam pelaksanaan pemberian tongkat komando ini sendiri, Ditjen PSDKP KKP menggandeng TNI AL yang juga memberikan keterampilan penggunaan dan perawatan senjata api kepada para Nakhoda dan Kepala UPT PSDKP.
"Ini sebagai bentuk sinergi antara KKP dan Marinir sekaligus agar nilai-nilai kedisiplinan dan keterampilan yang dimiliki anggota Marinir bisa ditularkan kepada peserta latihan," jelas Adin.
Dilengkapi senjata api
Sementara itu, terkait dengan peningkatan kemampuan dalam penggunaan Senjata Api bagi aparat di lapangan, Direktur Pemantauan dan Operasi Armada, Pung Nugroho Saksono, menyampaikan bahwa aparat Pengawas Perikanan memang dapat dilengkapi dengan senjata api sebagai sarana perlindungan diri. Lebih lanjut Ipunk menjelaskan bahwa hal tersebut sejalan dengan ketentuan Undang-Undang Nomor 45 Tahun 2009 Pasal 66C Ayat (2) yang memberikan kewenangan pada Pengawas Perikanan untuk memiliki dan menggunakan senjata api dalam mendukung pelaksanaan tugasnya.
“Untuk kepentingan penugasan, para Nakhoda Kapal Pengawas Perikanan dan Kepala UPT PSDKP memang dapat dibekali dengan senjata api,” terang Ipunk.
Lebih lanjut Ipunk menjelaskan bahwa sebelumnya kegiatan penyegaran keterampilan menembak telah dilaksanakan rutin setiap tahun. Namun untuk tahun ini lebih komprehensif. Selain menembak, peserta juga diasah kembali keterampilan merawat senjata, dan juga kesehatan mental dan psikologinya.
"Salah satu bagian utama dari kegiatan penyegaran ini adalah psikotes yang dilakukan oleh Tim Psikologi dari Polda Metro Jaya sebagai penguji. Dengan psikotes ini kami memonitor terus menerus kondisi psikologi para personel. Hal ini untuk memastikan kesiapan mental dan tanggung jawab mereka untuk membawa senjata api," tutup Ipunk.
Sebelumnya, Menteri Kelautan dan Perikanan, Sakti Wahyu Trenggono, Menteri Kelautan dan Perikanan, Sakti Wahyu Trenggono menyampaikan komitmennya untuk menjadikan ekologi sebagai panglima dalam pengelolaan perikanan di Indonesia. Oleh karena itu, peningkatan pengawasan di laut Indonesia baik perairan territorial maupun Zona Ekonomi Ekslusif (ZEE) mutlak harus dilaksanakan.
Langkah ini bukan sebatas untuk memerangi Illegal, Unreported and Unregulated (IUU) Fishing, tapi juga menjaga kelestarian ekosistem laut secara berkelanjutan. (RO/OL-10)
Komoditas ikan patin kini naik kelas, bukan sekadar ekspor, melainkan masuk ke rantai pasok pangan haji dan umrah dunia,
KKP memastikan ketersediaan ikan hasil budi daya aman untuk memenuhi kebutuhan masyarakat selama Ramadan hingga Idulfitri 1447 Hijriah.
Menteri KKP menjelaskan polemik anggaran kapal yang disebut sudah cair oleh Menkeu. Industri galangan belum terima order karena proses pengadaan masih berjalan.
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa mengungkapkan, dana untuk pembelian kapal yang ada di Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) sejatinya memang belum dicairkan
MENTERI Kelautan dan Perikanan Sakti Wahyu Trenggono merespons pernyataan Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa terkait dana pembelian kapal.
Ia menegaskan akan meminta persoalan tersebut segera ditangani agar tidak berulang dan tidak menimbulkan dampak lebih luas terhadap aktivitas nelayan.
Cuaca ekstrem berupa hujan lebat yang mengguyur wilayah Bandung Barat selama dua hari berturut-turut memicu pergeseran tanah skala besar.
PEMERINTAH memisahkan pendataan korban sipil dan personel TNI dalam peristiwa longsor di Cisarua, tepatnya di Desa Pasirlangu, Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bandung Barat.
Selain faktor alam, posisi menembak yang tidak stabil juga menuntut pengendalian emosi, konsentrasi tinggi, serta pengaturan pernapasan yang presisi demi menjaga akurasi tembakan.
Dalam latihan tersebut, prajurit Korps Marinir tergabung bersama pasukan Korps Artileri Kerajaan Yordania dan personel dari berbagai negara sahabat.
Personel TNI Gabungan Bersama Gulkarmat Membersihkan Sisa-Sisa Kerusuhan
KOMANDAN Korps Marinir TNI AL, Mayor Jenderal TNI Endi Supardi, menegaskan bahwa Satria Arta Kumbara tetap harus menjalani hukuman satu tahun penjara jika kembali ke Indonesia
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved