Rabu 21 Juli 2021, 16:57 WIB

Pengusaha Tekstil Bantah Pemaksaan Kerja bagi Buruh Positif Covid-19

Insi Nantika Jelita | Ekonomi
Pengusaha Tekstil Bantah Pemaksaan Kerja bagi Buruh Positif Covid-19

Antara/Aditya Pradana Putra.
Buruh memproduksi pakaian jadi di salah satu pabrik garmen di Bergas, Kabupaten Semarang, Jawa Tengah, Kamis (24/5).

 

KETUA Umum Asosiasi Pertekstilan Indonesia (API) Jemmy Kartiwa membantah kabar soal pemaksaan kerja terhadap buruh yang dinyatakan positif covid-19. Dia bahkan meminta para pekerja untuk melaporkan ke pihaknya atau Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) bila ditemukan pemaksaan tersebut.

"Kalau kondisi yang sakit dipaksa bekerja, kami tidak menemukan. Kalau ada perusahaan yang seperti itu, tolong laporkan ke Apindo dan API supaya kami tegur," kata Jemmy dalam konferensi pers virtual, Rabu (21/7).

Pernyataan Jeremy tersebut merespons laporan dari Federasi Serikat Buruh Persatuan Indonesia (FSBPI) yang menyebut, para pekerja terpaksa masuk kerja meski terjangkit covid-19 karena khawatir akan diganti statusnya menjadi pekerja kontrak, bila tidak masuk kantor.

Ketua Umum API itu berpendapat, bila ada klaster covid-19 di suatu perusahaan, justru akan merugikan pihak tersebut. "Saya rasa enggak mungkin orang sakit disuruh bekerja. Owner-owner yang ada semakin stres besar kalau ada itu. Kalau kasus positif makin besar juga akhirnya merugikan perusahaan. Jadi, itu saya kira kondisi tidak benar," ucapnya.

Jeremy pun mengklaim para pengusaha tekstil sudah mematuhi protokol kesehatan (prokes) selama masa pengetatan aktivitas ini. "Alat pelindung diri (APD) atau hand sanitizer sudah menjadi standar prokes. Kepada anggota API, kami minta prokes dijalankan," terangnya.

Sebelumnya, Ketua Federasi Serikat Buruh Persatuan Indonesia (FSBPI) Dian Septi Trisnanti menuturkan, dari laporan yang diterima, banyak perusahaan yang mengancam akan mengubah status buruhnya menjadi pekerja kontrak. Karenanya, para buruh terpaksa tetap bekerja, meski terjangkit covid-19.

Baca juga: PPKM Diperpanjang, Kadin: Roda Perekonomian Jangan Berhenti

"Mereka juga takut kehilangan upah. Klaster pabrik sangat agresif, buruh TGSL (tekstil, garmen, sepatu, dan kulit), dalam dua minggu saja di Cakung, Tangerang, Subang, dan Solo sudah ribuan anggota kami terpapar," ujarnya dalam konferensi pers beberapa waktu lalu. (OL-14)

Baca Juga

Ant/Yusuf Nugroho

Harga Emas Kembali Naik Setelah Sempat Turun Didorong Dolar

👤Muhammad Fauzi 🕔Selasa 03 Agustus 2021, 08:15 WIB
HARGA Emas berjangka di divisi COMEX New York Mercantile Exchange naik pada Senin atau Selasa WIB (3/8) karena dolar AS...
Ist/bpjamsostek

BPJS Ketenagakerjaan dan IAPI Ajak Akuntan Pahami Pentingnya Jaminan Sosial

👤mediaindonesia.com 🕔Selasa 03 Agustus 2021, 07:30 WIB
Ketua Umum IAPI Tarkosunaryo mengatakan para akuntan dapat lebih memahami terkait pentingnya perlindungan jaminan sosial serta perlakuan...
Ist/Kementan

Benih Bermutu Kunci Kesuksesan Kampung Bawang Merah

👤mediaindonesia.com 🕔Selasa 03 Agustus 2021, 07:04 WIB
Pengembangan kawasan kampung hortikultura harus dimulai dengan penggunaan benih yang bermutu dan...

E-Paper Media Indonesia

HALAMAN FOKUS EKSTRA 4 HALAMAN

Fokus Edisi

Ini Adalah Pekerjaan Kita

POLDA Metro Jaya menggelar program Vaksinasi Merdeka dengan target seluruh warga DKI Jakarta sudah menerima vaksin covid-19 tahap pertama pada 17 Agustus 2021.

Baca E-Paper

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya