Headline
Diskon transportasi hingga 30%, bantuan pangan, dan sistem kerja fleksibel bergulir.
Diskon transportasi hingga 30%, bantuan pangan, dan sistem kerja fleksibel bergulir.
Kumpulan Berita DPR RI
BADAN Pusat Statistik (BPS) mencatat nilai ekspor Indonesia pada Juni 2021 sebesar US$18,55 miliar, atau naik 9,52% dari Mei 2021 (month to month/mtm). Capaian itu juga naik 54,46% dari Juni 2020 (year on year/yoy). Kinerja ekspor dinilai menjanjikan untuk mendukung pemulihan ekonomi nasional.
“Ekspor dari Januari-Juni 2021 sangat menjanjikan. Terlihat semenjak Januari-Juni ini berada di atas nilai ekspor pada 2019 dan 2020. Semoga tren ini terus terjadi di bulan-bulan berikutnya. Sehingga, ekonomi Indonesia menuju pada pemulihan,” ujar Kepala BPS Margo Yuwono dalam rilis secara virtual, Kamis (15/7).
Kenaikan total nilai ekspor Indonesia, lanjut dia, disebabkan peningkatan ekspor migas dan nonmigas, baik secara bulanan maupun tahunan. Tercatat, nilai ekspor migas Indonesia pada Juni 2021 sebesar US$1,23 miliar. Capaian itu naik 27,23% (mtm) dan naik 117,15% (yoy). Adapun ekspor nonmigas Indonesia tercatat US$17,31 miliar, yang mana naik 8,45% (mtm) dan naik 51,35% (yoy).
Baca juga: Indonesia Surplus Neraca Dagang 14 Bulan Berturut
Secara bulanan, kenaikan nilai ekspor migas didorong peningkatan kinerja ekspor minyak mentah (28,52%), hasil minyak (63,34%) dan gas (18,14%). Lalu, secara tahunan, komoditas migas yang mendorong kenaikan nilai ekspor, yakni minyak mentah (581,78%), hasil minyak (26,77%) dan gas (75,90%).
Untuk ekspor nonmigas, secara bulanan mengalami kenaikan yang didukung peningkatan eskpor besi dan baja HS72 (32,31%). Lalu, kendaraan dan bagiannya HS87 (42,19%), biji perak dan abu logam HS26 (35,36%), mesin dan perlengkapan elektronik HS85 (15,87%), berikut alas kaki HS64 (33,01%).
Sedangkan secara tahunan, peningkatan ekspor terjadi pada komoditas besi dan baja HS72 (181,19%), Bahan Bakar Mineral HS27 (95,59%) dan lemak dan minyak hewan HS15 (32,56%). Faktor lain dari peningkatan kinerja ekspor Indonesia pada Juni 2021 ialah seluruh sektor usaha mengalami kenaikan, baik secara bulanan maupun tahunan. Tercatat, nilai ekspor pertanian sebesar US$0,32 miliar, yang mana naik 33,04% (mtm) dan dan naik 15,19% (yoy).
Baca juga: Menperin: Banyak Perusahaan Otomotif Tertarik Berinvestasi di RI
“Dari komoditas untuk kelompok sektor pertanian, secara bulanan yang naik cukup besar adalah komoditas tanaman obat, aromatik, rempah-rempah, kopi, sarang burung dan cengkeh. Lalu secara tahunan, yang naik adalah tanaman obat, aromatik, dan rempah-rempah, sarang burung dan cengkeh,” papar Margo.
Peningkatan nilai ekspor juga terjadi di sektor industri pengolahan sebesar US$14,08 miliar. Capaian itu naik 7,34% (mtm) dan naik 45,91% (yoy). Komoditas yang mendorong peningkatan nilai ekspor industri pengolahan secara bulanan, yakni besi dan baja, sepatu olahraga, peralatan listrik, kendaraan bermotor roda empat dan pakaian jadi. Sedangkan secara tahunan, yaitu minyak kelapa sawit, besi dan baja, kimia dasar organik dan kendaraan bermotor roda empat atau lebih.(OL-11)
Capaian tersebut menunjukkan tren pemulihan pascapandemi yang berkelanjutan. Meski demikian, tingkat kemiskinan Jakarta saat ini masih belum sepenuhnya kembali ke posisi sebelum pandemi.
PERTUMBUHAN ekonomi Indonesia pada kuartal IV 2025 tercatat sebesar 5,39 persen secara tahunan (year on year/YoY).
BADAN Pusat Statistik (BPS) menyampaikan bahwa penduduk bekerja pada November 2025 tercatat sebesar 147,91 juta orang.
Badan Pusat Statistik Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat kinerja perekonomian nasional yang solid di sepanjang 2025 dengan pertumbuhan sebesar 5,11% secara tahunan
Kepala Badan Pusat Statistik (BPS), Amalia Adininggar Widyasanti menyampaikan bahwa pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal IV 2025 mencapai 5,39%.
Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat total nilai impor Indonesia sepanjang Januari hingga Desember 2025 mencapai US$241,86 miliar, atau meningkat 2,83% dibandingkan tahun sebelumnya.
INDONESIA tidak kekurangan uang. Yang kurang adalah arah. Ini bukan gejala siklikal atau persoalan sentimen pasar, melainkan kegagalan struktural.
Tanpa dorongan fiskal awal, ekonomi akan selalu menunggu.
Alih-alih memicu inflasi pangan, program prioritas pemerintah MBG dinilai justru akan menjadi stimulus bagi peningkatan produktivitas nasional dan penguatan ekonomi kerakyatan.
Berdasarkan data selama bulan Januari hingga Desember 2024, tercatat 38juta kunjungan wisatawan datang ke DIY.
berdasarkan hasil rapat DK OJK yang dilaksanakan pada 1 Oktober lalu menilai sektor jasa keuangan terjaga stabil.
INDONESIA dan Dewan Kerja Sama Teluk (Gulf Cooperation Council/GCC) telah melaksanakan Putaran Ketiga Perundingan Perjanjian Perdagangan Bebas antara kedua pihak (Indonesia-GCC FTA).
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved