Minggu 09 Mei 2021, 22:37 WIB

Indonesia Apresiasi Penerimaan EFTA terhadap Kelapa Sawit

M. ilham Ramadhan Avisena | Ekonomi
Indonesia Apresiasi Penerimaan EFTA terhadap Kelapa Sawit

Antara
Kelala Sawit

 

WAKIL Menteri Perdagangan Jerry Sambuaga mengapresiasi negara-negara EFTA yang telah menandatangani perjanjian ekonomi komprehensif Indonesia-EFTA CEPA. 

Menurutnya, hal itu merupakan peluang yang sangat positif, termasuk dalam kaitannya dengan penerimaan produk kelapa sawit Indonesia.

Sebab, selama ini kelapa sawit Indonesia telah diperlakukan berbeda dengan produk minyak nabati lainnya di Kawasan Uni Eropa. Jerry menilai penerimaan EFTA terhadap produk kelapa sawit Indonesia menunjukkan resistensi sebenarnya tidak dilakukan oleh semua negara Eropa.

Bahkan di Uni Eropa hanya beberapa negara saja yang kebetulan punya pengaruh di parlemen yang menghambat perdagangan kelapa sawit Indonesia di Kawasan itu.

"Empat negara tersebut, yaitu Lietchtenstein, Swiss, Norwegia dan Islandia menambah deretan negara-negara Eropa yang sebenarnya menerima kelapa sawit kita. Kalau kita bertemu dengan pemerintah maupun parlemen di banyak negara Eropa sebenarnya memang menunjukkan sambutan yang positif," kata Jerry dikutip dari siaran pers, Minggu (9/5).

Melihat kecenderungan itu, di makin optimis dengan arah perjuangan Indonesia untuk menghapus diksriminasi ini. Pada intinya, menurut Jerry, negara-negara Uni Eropa harus melihat persoalan sawit dengan obyektif dan proporsional. Kebutuhan minyak nabati semakin besar di seluruh dunia. 

Tidak semua sumber minyak nabati bisa memenuhi kebutuhan dengan efisien seperti kelapa sawit.

"Dilihat secara relative dan obyektif. Kalau kita menanam sumber minyak nabati lain seperti rapeseed, sebenarnya kebutuhan lahan dan dampak ekologisnya 6 kali lebih besar dari kelapa sawit. Jadi secara ekologis dan ekonomi tidak efisien. Justru kelapa sawit menjadi solusi yang tepat untuk itu," jelasnya.

Jerry juga menilai, teknologi perkebunan, pemupukan, pengolahan air, pengolahan dan berbagai hal yang berkaitan dengan industri kelapa sawit terus berkembang. Ini membuat kelapa sawit akan makin efisien secara ekologis. Selain itu standarisasi produksi dan lingkungan kelapa sawit juga semakin ketat.

"Jadi sebenarnya produk kelapa sawit kita itu sudah melewati berbagai standarisasi dan penjaminan mutu produk serta dampaknya dalam berbagai sisi. Banyak sertifikasi yang harus dipenuhi dan itu tidak mudah karena melibatkan berbagai Lembaga yang kompeten," tuturnya.

Untuk itu ia berharap parlemen dan eksekutif Uni Eropa melihat dengan kerangka yang lebih luas, bukan hanya dalam perspektif persaingan dagang. Ia berharap kelapa sawit justru memicu inovasi baru untuk menghasilkan minyak nabati yang makin baik dan murah.

Indonesia saat ini sedang bersiap menghadapi sidang-sidang mengenai diskriminasi kelapa sawit oleh Uni Eropa di WTO. Sidang kasus berkode DS 593 tersebut dihadapi optimis oleh Pemerintah Indonesia khususnya Kemendag. (OL-8)

Baca Juga

Freepik.com

Kebutuhan Tenaga Kerja Tinggi, Qyusi Global Indonesia Bakal Ekspansi Bisnis Manpower Supply

👤Mediaindonesia.com 🕔Sabtu 03 Desember 2022, 10:55 WIB
Direktur PT Qyusi Global Indonesia Eko Budi Sektiono menuturkan jasa manpower supply miliknya akan memudahkan bagi klien perusahaan dalam...
Ist/DPR

Anggota DPR: Jati Diri Koperasi Berbeda dengan Sektor Jasa Keuangan

👤mediaindonesia.com 🕔Sabtu 03 Desember 2022, 10:03 WIB
Anggota Komisi XI DPR RI Ecky Awal Mucharam menegaskan, jati diri koperasi seharusnya tidak memasuki ranah sektor jasa...
DOK Pribadi.

Inspired Parfum Lokal ini Klaim Pertama Raih Sertifikat BPOM

👤Mediaindonesia.com 🕔Sabtu 03 Desember 2022, 05:00 WIB
Farah parfum merupakan brand lokal Jakarta yang lahir pada 2017 dan menjadi yang pertama memiliki sertifikat...

E-Paper Media Indonesia

Baca E-Paper

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya