Headline
Pada perdagangan kemarin, rupiah menguat tipis dan ditutup di level Rp16.936 per dolar AS.
Pada perdagangan kemarin, rupiah menguat tipis dan ditutup di level Rp16.936 per dolar AS.
Kumpulan Berita DPR RI
DALAM perdagangan pasar Selasa (16/2), nilai tukar rupiah ditutup melemah 30 point di level Rp13.920 dari penutupan sebelumnya di level Rp 13.910.
Membaiknya data Neraca Perdagangan Indonesia pada Januari 2021 belum bisa mengangkat sentimen positif terhadap mata uang rupiah.
"Namun membaiknya data NPI tersebut membuktikan bahwa pemerintah bekerja keras untuk menghidupkan kembali perekonomian yang sebelumnya terjadi stagnasi yang disebabkan oleh pandemi Covid-19 yang belum ada kejelasan kapan akan berakhir," kata Direktur PT.TRFX Garuda Berjangka Ibrahim Assuaibu, Selasa (16/2).
Sebagai informasi, nilai impor bulan Desember 2020 adalah USD 13,34 miliar. Turun 6,49% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya (yoy).
Adapun nilai ekspor per Januari 2021 sebesar USD 15,3 miliar atau naik 12,24%.
Sehingga, neraca perdagangan Indonesia membukukan surplus USD 1,96 miliar. Surplus neraca perdagangan sudah terjadi selama sembilan bulan beruntun.
Baca juga : LPI Punya Modal Rp75 Triliun untuk Tawarkan Investasi
Selain itu, pelaku pasar juga menanti kebijakan suku bunga acuan Bank Indonesia (BI) untuk periode Februari 2021. Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia (RDGBI) akan dilaksanakan pada 17-18 Februari mendatang dan hasil dari rapat tersebut akan disampaikan pada 18 Februari mendatang.
"Berdasarkan informasi yang saya terima ada sebagian analis yang mengharapkan suku bunga acuan di turunkan 0,25 persen dan sebagian lagi analis tetap mempertahankan suku bunga di 3,75 persen," kata Ibrahim.
Dari informasi tersebut, ada kemungkinan besar Bank Indonesia akan mempertahankan suku bunga acuan di 3,75 persen. Hal ini melihat Bank Sentral Global sampai masih mempertahankan suku bunga dalam setiap pertemuannya.
Selain itu menguatnya mata uang rupiah di bawah Rp14.000 sudah cukup bagus dan mengindikasikan bahwa fundamental ekonomi masih bisa dikendalikan.
"Sedangkan untuk perdagangan besok, rupiah kemungkinan dibuka melemah, namun bisa ditutup menguat di rentang Rp13.900 - Rp13.950," kata Ibrahim. (OL-7)
INDONESIA tidak kekurangan uang. Yang kurang adalah arah. Ini bukan gejala siklikal atau persoalan sentimen pasar, melainkan kegagalan struktural.
Tanpa dorongan fiskal awal, ekonomi akan selalu menunggu.
Alih-alih memicu inflasi pangan, program prioritas pemerintah MBG dinilai justru akan menjadi stimulus bagi peningkatan produktivitas nasional dan penguatan ekonomi kerakyatan.
Berdasarkan data selama bulan Januari hingga Desember 2024, tercatat 38juta kunjungan wisatawan datang ke DIY.
berdasarkan hasil rapat DK OJK yang dilaksanakan pada 1 Oktober lalu menilai sektor jasa keuangan terjaga stabil.
INDONESIA dan Dewan Kerja Sama Teluk (Gulf Cooperation Council/GCC) telah melaksanakan Putaran Ketiga Perundingan Perjanjian Perdagangan Bebas antara kedua pihak (Indonesia-GCC FTA).
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa memproyeksikan pertumbuhan ekonomi Triwulan IV 2025 mencapai 5,45%, menandai momentum pembalikan arah ekonomi yang solid.
IHSG mencetak sejarah baru (All Time High) di level 8.859, mengabaikan tensi geopolitik global berkat solidnya data neraca perdagangan dan inflasi domestik.
Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat neraca perdagangan Indonesia pada November 2025 mengalami surplus sebesar 2,66 miliar dolar AS.
Badan Pusat Statistik (BPS) mengumumkan neraca perdagangan barang Indonesia mengalami surplus sebesar US$38,54 miliar atau setara Rp645,7 triliun di sepanjang Januari-November 2025.
Pemerintah menyatakan perekonomian Indonesia sepanjang 2025 tetap menunjukkan ketahanan dan kinerja yang solid meskipun dihadapkan pada ketidakpastian ekonomi global.
Laporan Badan Pusat Statistik (BPS), pada Oktober 2025, ekspor tercatat US$24,24 miliar dan impor US$21,84 miliar sehingga surplus US$2,39 miliar.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved