Selasa 28 Juli 2020, 14:32 WIB

Ada Ancaman Resesi, BEI Ingatkan Investor Lebih Waspada

Hilda Julaika | Ekonomi
Ada Ancaman Resesi, BEI Ingatkan Investor Lebih Waspada

Antara/Indrianto Eko
Layar pergerakan IHSG yang terpantul dari face shield yang dikenakan karyawan di BEI.

 

BURSA Efek Indonesia (BEI) mengingatkan investor untuk berhati-hati dalam mengambil keputusan investasi saham. Mengingat, Indonesia menghadapi ancaman resesi ekonomi yang berpotensi mengguncang bursa saham domestik.

Sebelumnya, Indonesia pernah mengalami market crash pada krisis ekonomi 2008 lalu. Meski tidak ingin berspekulasi lebih jauh terkait resesi ekonomi, namun penting bagi investor untuk mengenali objek saham yang menjadi tujuan investasi. Seperti, mencermati parameter makro, mikro dan kinerja perusahaan.

“Harus diperhatikan juga bagaimana tingkat ketahanannya dari dampak krisis ekonomi. Perlu ikut memantau perkembangan aspek masing-amsing saham, agar keputusan investasi terbaik dan berkelanjutan jika ada potensi resesi ekonomi,” ujar Direktur Pengembangan BEI, Hasan Fawzi, dalam seminar virtual, Selasa (28/7).

Baca juga: Pemerintah Yakin Pertumbuhan Ekonomi Tahun Ini Masih Positif

Di tengah ketidakpastian ekonomi akibat pandemi covid-19, lanjut dia, ada sejumlah saham yang tidak bisa bertahan. Kendati demikian, masih ada emiten yang justru diuntungkan dengan pandemi. Oleh karena itu, investor harus lebih cermat dalam mengamati situasi dan objek saham.

Guru Besar FEB Universitas Indonesia, Budi Frensidy, belum memiliki pandangan terhadap situasi pasar modal jika terjadi resesi ekonomi. Namun berdasarkan analisis, pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal II 2020 akan negatif.

Apabila perekonomian domestik pada kuartal III 2020 masih negatif, investor harus berbesar hati dengan pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di bawah 5.000.

“Apalagi Agustus itu terkenal dengan indeks yang turun. Dalam 20 tahun terakhir, hanya 10% yang indeks naik. Ini ditambah dengan laporan keuangan yang akan keluar di kuartal II 2020 dari emiten kita,” papar Budi.

Baca juga: Laporan Keuangan 2019, OJK: 77% Emiten Bukukan Laba

Praktisi pasar modal, Hans Kwee, menyoroti potensi market crash yang sangat bergantung pada kebijakan antisipasi pemerintah terhadap pandemi. Apabila lockdown dilakukan dengan cepat, lanjut dia, ada kemungkinan market akan turun. Sebab, terkonfirmasi data ekonomi yang buruk.

Namun, masyarakat global tampaknya sepakat bahwa kebijakan lockdown tidak bisa dilakukan dengan ketat. Seperti Amerika Serikat yang menerapkan pembatasan di tempat umum, lantaran berdampak secara ekonomi.

“Catatan saya, kerusakan ekonomi bukan karena pandemi tapi adanya lockdown yang ketat. Kalau pemerintah masih melakukan dengan parsial, mengulur waktu supaya pandemi tidak berkembang terlalu cepat, seiring dengan pengejaran vaksin,” tukas Hans.(OL-11)

 

Baca Juga

ANTARA/Septianda Perdana

Ekspor Sarang Burung Walet Berpotensi Meningkat Tajam

👤mediaindonesia.com 🕔Kamis 21 Januari 2021, 22:22 WIB
Saat ini Tiongkok menjadi salah satu importir terbesar sarang burung walet dengan total 262 ton per 2020 dengan harga rata-rata Rp25 juta...
Antara/Rahmad

Temuan UNDP, UMKM Tak Mampu Bertahan Lebih dari 10 Bulan

👤Insi Nantika Jelita 🕔Kamis 21 Januari 2021, 21:31 WIB
Ekonom UNDP Indonesia Rima Prama Artha menuturkan, 90% pelaku UMKM mengalami penurunan permintaan atas produk mereka selama...
Antara/Galih Pradipta

6 Program Ini Jadi Fokus Kemenkop-UKM Sepanjang 2021

👤Despian Nurhidayat 🕔Kamis 21 Januari 2021, 20:49 WIB
“Untuk bidang perkoperasian kami menargetkan outcome terwujudnya koperasi modern,” ungkap Menteri Koperasi dan UKM Teten...

E-Paper Media Indonesia

Baca E-Paper

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya