Headline
Pada perdagangan kemarin, rupiah menguat tipis dan ditutup di level Rp16.936 per dolar AS.
Pada perdagangan kemarin, rupiah menguat tipis dan ditutup di level Rp16.936 per dolar AS.
Kumpulan Berita DPR RI
Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia memprediksi prospek pertumbuhan ekonomi Indonesia di 2020 akan jauh lebih rendah ketimbang 2019. Hal itu didasari pada kondisi ekonomi global yang terpukul oleh pandemi covid-19.
Bila pemerintah Indonesia mengambil langkah ketat dalam penananganan covid-19, puncak tekanan ekonomi akan terjadi pada kuartal II dan berangsung membaik di kuartal III dan IV.
"CORE Indonesia memprediksi pertumbuhan ekonomi Indonesia secara kumulatif tumbuh dikisaran -2% hingga 2%," ujar Direktur Eksekutif CORE Indonesia Mohammad Faisal melalui keterangan resmi, Minggu (29/3).
Sebagai informasi, pertumbuhan ekonomi 2019 berada di kisaran 5,02% dan tahun ini berada di kisaran 4,2% hingga 4,6% menurut prediksi Bank Indonesia.
Hal itu akan semakin buruk bila penanganan covid-19 di Indonesia dan negara mitra dagang berlangsung hingga melebih kuartal II. Bila itu terjadi, pertumbuhan ekonomi yang positif akan sulit tercapai.
Pasalnya covid-19 tidak saja melemahkan pertumbuhan ekonomi, berbagai sektor dan subsektor di dalamnya ikut terdampak. Bukan tidak mungkin, penanganan yang tidak tepat akan berbuah pada meningkatnya angka pengangguran dan kemiskinan.
Baca juga : 7 Jurus Agar Ekonomi Indonesia Selamat dari Covid-19
"Apabila penanganan pandemi berlangsung lama, periode pembatasan dan penurunan mobilitas orang akan semakin panjang. Akibatnya golongan rentan miskin dan hampir miskin yang bekerja di sektor informal akan sangat mudah kehilangan mata pencarian dan jatuh ke dalam kemiskinan," jelas Faisal.
Tercatat hingga Maret 2019, penduduk golongan rentan miskin dan hampir miskin di Indonesia mencapai 66,7 juta orang atau hampir tiga kali lipat jumlah penduduk di bawah garis kemiskinan. Sebagian besar dari golongan ini bekerja di sektor informal, termasuk yang mengandalkan upah harian. (E-1)
Pemerintah menyatakan perekonomian Indonesia sepanjang 2025 tetap menunjukkan ketahanan dan kinerja yang solid meskipun dihadapkan pada ketidakpastian ekonomi global.
Wakil Menteri Perindustrian (Wamenperin) Faisol Riza menargetkan pertumbuhan PDB industri pengolahan non migas (IPNM) 2026 di angka 5,51%.
Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat kontribusi PDB sektor ini pada 2024 sebesar Rp1.611,2 triliun atau 7,28% dari PDB nasional melebihi pertumbuhan PDB nasional 5,03%.
Komponen pengeluaran yang memberikan kontribusi terbesar terhadap PDB kuartal III 2025 adalah konsumsi rumah tangga sebesar 53,14%.
Perlambatan ini mencerminkan normalisasi musiman setelah periode hari raya keagamaan pada kuartal sebelumnya, yang biasanya mendorong konsumsi rumah tangga lebih tinggi.
OJK menyebut berdasarkan dari International Data Center Authority (IDCA) ekonomi digital telah berkontribusi lebih dari 15% terhadap PDB global di 2024.
INDONESIA tidak kekurangan uang. Yang kurang adalah arah. Ini bukan gejala siklikal atau persoalan sentimen pasar, melainkan kegagalan struktural.
Tanpa dorongan fiskal awal, ekonomi akan selalu menunggu.
Alih-alih memicu inflasi pangan, program prioritas pemerintah MBG dinilai justru akan menjadi stimulus bagi peningkatan produktivitas nasional dan penguatan ekonomi kerakyatan.
Berdasarkan data selama bulan Januari hingga Desember 2024, tercatat 38juta kunjungan wisatawan datang ke DIY.
berdasarkan hasil rapat DK OJK yang dilaksanakan pada 1 Oktober lalu menilai sektor jasa keuangan terjaga stabil.
INDONESIA dan Dewan Kerja Sama Teluk (Gulf Cooperation Council/GCC) telah melaksanakan Putaran Ketiga Perundingan Perjanjian Perdagangan Bebas antara kedua pihak (Indonesia-GCC FTA).
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved