Headline
Utusan AS mengungkapkan Dewan Perdamaian juga akan beroperasi di wilayah selain Gaza.
Utusan AS mengungkapkan Dewan Perdamaian juga akan beroperasi di wilayah selain Gaza.
Kumpulan Berita DPR RI
TERSIAR kabar pemerintah akan menggeser dan menambah jumlah hari libur nasional pada tahun ini. Langkah itu bertujuan meningkatkan permintaan dari masyarakat, agar insentif pariwisata dapat berjalan optimal.
Upaya serupa pernah ditempuh pemerintah pascabom Bali, dan hasilnya pun positif. Dalam surat edaran itu, pemerintah disebut berencana menambah cuti bersama sebanyak 3 hari. Berikut, menggeser hari raya keagamaan yang tidak memiliki ritual.
Pemerintah akan menggeser libur Isra Mi'raj pada Minggu (22/3) ke Senin (23/3) dan Selasa (24/3) menjadi cuti bersama. Kemudian, libur Tahun Baru Islam akan digeser dari Kamis (20/8) ke Jumat (21/8).
Demikian pula hari libur Maulid Nabi Muhammad SAW yang semula Kamis (29/10), pindah ke Jumat (30/10). Sedangkan pada Kamis (28/5) dan Jumat (29/5), pemerintah berencana menjadikannya sebagai cuti bersama Hari Raya Idul Fitri.
Baca juga: Sektor Pariwisata Bisa Rugi Rp 2,7 Triliun Imbas Virus Korona
Saat dikonfirasi, Menteri Ketenagakerjaan, Ida Fauziyah, mengatakan pemerintah tengah meninjau rencana penggeseran dan penambahan libur nasional pada 2020. Langkah itu diambil untuk memperkuat perekonomian domestik di tengah wabah virus korona (COVID-19).
"Menko PMK akan mengundang beberapa kementerian/lembaga untuk melakukan review terkait itu. Kita baru diundang Menko PMK Senin (9/3) besok," ujar Ida, Minggu (8/3).
Dihubungi terpisah, Direktur Eksekutif Intstitute for Development of Economics and Finance (Indef), Tauhid Ahmad, menilai rencana tersebut tidak efektif dan kurang berdampak pada perekonomian nasional.
"Di tengah situasi seperti ini, justru pusat keramaian akan dihindari masyarakat karena takut terpapar virus korona. Jadi, kalau tambahannya hanya 1-2 hari, itu tidak akan menjamin orang untuk melakukan konsumsi di sektor pariwisata. Saya kira tidak terlalu efektif," pungkas Tauhid.
Baca juga: Menkeu: Dampak Korona Lebih Rumit Dibanding Krisis Ekonomi 2008
Penanganan di sektor kesehatan, lanjut Tauhid, harusnya menjadi prioritas pemerintah. Sebab, dampak virus korona sangat nyata pada kesehatan manusia.
"Masalah kesehatan yang ditanggulangi dulu, baru bicara ekonomi. Pemerintah sudah mulai berupaya, tetapi banyak yang sasarannya belum pas. Misal, tiket pesawat. Kan sekarang memang lagi low season, jadi ya tiket turun. Kalau begitu, mau dikasih apapun masyarakat tidak bisa dipaksa untuk berpariwisata," sambungnya.
Tauhid berpendapat ketimbang fokus pada sektor pariwisata, pemerintah harus mencari jalan keluar terhadap wabah virus korona. Misalnya, penyediaan masker gratis dan penanganan khusus di wilayah terdampak COVID-19.
Penanganan yang tepat dan cepat nantinya akan berimbas pada manisnya perekonomian nasional. "Harusnya dipikirkan bagaimana memberi insentif bantuan sosial. Saya setuju itu ditingkatkan, diperluas," tutup Tauhid.(OL-11)
Proyeksi Dana Moneter Internasional (IMF) yang memperkirakan pertumbuhan ekonomi Indonesia sekitar 5,0% pada 2025 dan 5,1% pada 2026.
BI memutuskan menahan BI Rate di level 4,75% dalam RDG Januari 2026. Kebijakan ini ditempuh untuk menjaga rupiah dan mendorong pertumbuhan ekonomi.
Berdasarkan data Pemerintah Provinsi Lampung, total kunjungan wisatawan nusantara dan mancanegara mencapai 24.702.664 orang, atau meningkat 53,50 persen dibandingkan 2025.
Pemerintah dan pelaku usaha mendorong pembentukan Tim Percepatan Pembangunan dan Pengembangan Kawasan Industri untuk merealisasi Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional.
PERWAKILAN Aliansi Ekonom Indonesia (AEI) sekaligus Secretary General of the International Economic Association Lili Yan Ing menegaskan target pertumbuhan ekonomi 2026 di angka 5,4% tidak bisa hanya mengandalkan konsumsi masyarakat.
KAMAR Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia menilai bahwa tekanan terhadap kelompok kelas menengah bawah menjadi pekerjaan rumah (PR) terbesar khususnya bagi pemerintah dalam menjaga pertumbuhan ekonomi nasional ke depan.
Setelah mendapatkan persetujuan dari para peserta sidang yang diiringi ketukan palu, Rano kemudian membacakan poin kesimpulan kedua yang berfokus pada pembenahan internal.
Data survei juga mengungkap fakta menarik bahwa penolakan ini tidak terkonsentrasi pada satu kelompok demografi atau politik tertentu
SATU tahun pemerintahan Prabowo-Gibran dinilai berjalan mulus bukan karena kinerja pemerintah yang efisien, melainkan karena lemahnya peran DPR
Publik masih menunggu langkah pemerintahan Prabowo dalam merespons berbagai masalah dengan langkah-langkah korektif.
Sikap partai berlambang banteng tersebut sejalan dengan arahan Ketua Umum Megawati Soekarnoputri.
Presiden Prabowo Subianto menyoroti maraknya perilaku masyarakat yang merasa paling tahu segalanya, terutama soal isu-isu politik dan pemerintahan.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved