Headline
Sekitar 50% anak pengguna internet pernah terpapar konten seksual di medsos.
Sekitar 50% anak pengguna internet pernah terpapar konten seksual di medsos.
Kumpulan Berita DPR RI
KETUA Umum Serikat Petani Indonesia Henry Saragih mengungkapkan penyebab utama Indonesia akhirnya harus mengimpor beras pada 2018 adalah kesalahan data yang disuguhkan Kementerian Pertanian (Kementan).
Kementan, yang kala itu dipimpin Amran Sulaiman, mengklaim bahwa produksi beras pada 2018 akan mencapai 48 juta ton.
Dengan asumsi kebutuhan beras per tahun 29 juta ton, Indonesia memiliki surplus yang melimpah ruah hingga 19 juta ton.
Namun, pada kenyataannya, di lapangan, harga beras melonjak naik.
Stok beras di Pasar Induk Beras Cipinang mengalami penyusutan tajam.
Pada awal 2018, ketersediaan beras di PIBC hanya 23 ribu ton. Padahal, angka aman cadangan beras ditetapkan 25 ribu ton.
Kala itu, stok beras di gudang Perum Bulog pun tidak lebih dari satu juta ton. Tepatnya hanya 900 ribu ton, yang menandakan stok sedang kritis.
Dengan ketersediaan yang semakin minim, harga pun terus merangkak naik.
Akhirnya, pemerintah mengabaikan data surplus kementan. Melalui Rapat Koordinasi Terbatas yang dipimpin Menteri Koordinator Bidang Perekonomian saat itu Darmin Nasution, pemerintah memutuskan membuka keran impor sebanyak 1,8 juta ton sepanjang 2018.
"Dengan kondisi itu, impor memang dibutuhkan untuk cadangan beras kita. Pemerintah harus punya cadangan beras yang cukup," ujar Henry di kantornya, Jakarta, Selasa (10/12).
Belajar dari kesalahan, pemerintah akhirnya menugaskan Badan Pusat Statistik bersama Kementerian Agraria dan Tata Ruang, Lembaga Antariksa dan Penerbangan Nasional dan Badam Informasi Geospasial menghitung ulang luas baku sawah dan produksi beras menggunakan metode yang lebih mutakhir yakni Kerangka Sampel Area.
Terbukti, data yang dikumpulkan tim gabungan tersebut menunjukkan bahwa produksi beras hanya 32,5 juta ton. Jauh dari klaim Kementan yang mencapai 48 juta ton.
"Jadi sekarang perlu ditanyakan kepada Amran, dari mana data produksi sebanyak itu dulu didapatkan," ucapnya.(OL-4)
BPSĀ melaporkan nilai impor Indonesia Januari 2026 mencapai US$21,20 miliar, naik 18,21% yoy, didorong kenaikan impor migas dan non-migas terutama bahan baku dan barang modal.
Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat nilai ekspor mencapai US$22,16 miliar. Angka itu meningkat 3,39% secara tahunan.
Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan bahwa neraca perdagangan Indonesia pada Januari 2026 mencatat surplus sebesar 0,95 miliar dolar AS.
Menkeu Purbaya Yudhi Sadewa menyatakan sejalan dengan usulan Wakil Ketua DPR RI Sufmi Dasco Ahmad yang meminta agar rencana impor 105 ribu unit mobil pikap dan truk dari India ditunda
AS menetapkan tarif global 10 persen saat kesepakatan nol bea masuk RI untuk sawit hingga semikonduktor belum berlaku dan masih menunggu ratifikasi.
Neraca perdagangan Indonesia yang tetap mencatatkan surplus sepanjang 2025 mencerminkan daya tahan sektor eksternal.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved