Headline
Pelibatan tokoh dan elite politik akan memperkuat legitimasi kebijakan pemerintah.
Pelibatan tokoh dan elite politik akan memperkuat legitimasi kebijakan pemerintah.
Kumpulan Berita DPR RI
MENTERI Perdagangan, Agus Suparmanto berjanji akan segera membenahi urusan ekspor dan impor yang dinilai kerap bermasalah dalam waktu dekat. Saat ini, ia mengaku upaya itu baru sebatas pada evaluasi.
Secara garis besar, kata dia, kebijakan impor merupakan upaya pemerintah untuk mengisi kekosongan di dalam negeri. Oleh karena itu ia akan lebih selektif dalam mengeluarkan kebijakan impor ke depan.
Baca juga: Perbaiki Neraca Dagang, Pemerintah Dorong Kinerja Ekspor-Impor
"Impor akan dievaluasi apabila ada subtitusi akan kami kurangi. Impor-impor bahan baku akan kami tingkatkan sehingga mendapatkan bisa meningkatkan ekspor produk-produk yang butuh barang dari luar, jadi nilai tambah ekspor kita naik," ucap Agus seusai menghadiri rapat koordinasi di kantor Kemenko Perekonomian, Jakarta, Rabu (30/10).
Upaya itu, imbuh dia, sesuai dengan visi Presiden Joko Widodo untuk meningkatkan ekspor.
Mengenai hal yang perlu dievaluasi pada sisi regulasi, Agus menyebutkan akan mengecek sejumlah perjanjian yang telah dilakukan pemerintah. Jika ada perjanjian yang tidak menguntungkan Indonesia, ia akan merevisinya, utamanya pada sektor kelapa sawit.
"Sawit sangat potensial, tapi ada diskriminatif," tegasnya. (Mir/A-3)
BPSĀ melaporkan nilai impor Indonesia Januari 2026 mencapai US$21,20 miliar, naik 18,21% yoy, didorong kenaikan impor migas dan non-migas terutama bahan baku dan barang modal.
Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat nilai ekspor mencapai US$22,16 miliar. Angka itu meningkat 3,39% secara tahunan.
Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan bahwa neraca perdagangan Indonesia pada Januari 2026 mencatat surplus sebesar 0,95 miliar dolar AS.
Menkeu Purbaya Yudhi Sadewa menyatakan sejalan dengan usulan Wakil Ketua DPR RI Sufmi Dasco Ahmad yang meminta agar rencana impor 105 ribu unit mobil pikap dan truk dari India ditunda
AS menetapkan tarif global 10 persen saat kesepakatan nol bea masuk RI untuk sawit hingga semikonduktor belum berlaku dan masih menunggu ratifikasi.
Neraca perdagangan Indonesia yang tetap mencatatkan surplus sepanjang 2025 mencerminkan daya tahan sektor eksternal.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved