Headline
Pada perdagangan kemarin, rupiah menguat tipis dan ditutup di level Rp16.936 per dolar AS.
Pada perdagangan kemarin, rupiah menguat tipis dan ditutup di level Rp16.936 per dolar AS.
Kumpulan Berita DPR RI
PENGUATAN industri manu faktur dalam negeri menjadi kian urgen untuk disegerakan. Sebab, persaingan ketat akan terjadi pada sektor tersebut pada saat Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) berlaku di akhir 2015.
''Tantangannya ialah competitiveness, persaingan akan lebih terbatas di manufacturing industry, tidak ada persaingan di natural resources,'' ujar Wakil Presiden Jusuf Kalla dalam seminar Peluang dan Tantangan Indonesia dalam MEA, di Jakarta, Jumat (30/1) malam.
Menurutnya, untuk menghadapi kompetisi yang mengetat, produktivitas industri manufaktur domestik perlu dipacu. Itu amat mungkin diwujudkan melalui pengembangan teknologi, kualitas sumber daya manusia, serta pengadaan infrastruktur yang mumpuni bersama investasi. Hasil akhir yang diharapkan, produk-produk industri yang berdaya saing tinggi dengan harga kompetitif.
''Dasar persaingan lebih baik ialah murah dan cepat. Yang menang ialah yang lebih baik, lebih cepat delivery-nya, dan lebih murah,'' kata Wapres.
Efisiensi juga akan optimal jika volume produknya besar. Hal tersebut bisa diwujudkan justru melalui MEA. Ia mencontohkan, dalam sektor otomotif Indonesia bisa memproduksi bodi mobil, semen tara mesinnya di Thailand. Hasilnya lantas menjadi satu komoditas andalan ASEAN untuk menyerbu pasar global. ''Industri apa pun, salah satu tingkat efisiensinya bekerja dalam volume besar,'' ucap Wapres.
Tiga sektor
Dalam kesempatan serupa, Menteri Keuangan Bambang Brodjonegoro mengamini peran krusial industri manufaktur di dalam MEA.Menurutnya, paling tidak ada tiga sektor manufaktur Indonesia yang siap bersaing di lingkup regional.
Pertama, industri manufaktur yang berbasis sumber daya alam. Selama ini Indonesia lebih cenderung mengekspor dalam bentuk barang mentah. Itu harus dihindari sebab hanya akan menguntungkan negara lain.
Kemudian, lanjutnya, industri manufaktur yang berbasis konsumsi masif. Pendekatan itu menurut Bambang adalah pendekatan yang digunakan Tiongkok. Indonesia yang memiliki pasar konsumen yang masif pun bisa memanfaatkannya. ''Dalam teori economies of scale, makin banyak kita memproduksi, makin bagus skala ekonominya, cost per unit makin rendah,'' papar Bambang.
Negara-negara tetangga, lanjutnya, tidak punya 'kemewahan' berupa pasar besar. Dengan begitu, akan lebih sulit bagi industri manufaktur mereka untuk memangkas cost per unit.
Berikutnya ialah industri manufaktur untuk barang substitusi impor. Namun, bukan sembarang barang impor. Manufaktur itu harus difokuskan kepada bahan baku dan barang modal yang dimanfaatkan untuk infrastruktur.
''Umpama, percuma kita punya galangan, kalau tidak ada kapalnya.Daripada impor, kita bangun substitusi kapal. Atau untuk pembangkit listrik, kalau kebutuhan boiler, turbin, dan trafo bisa dikembangkan di Indonesia, industri akan hidup,'' tutur Bambang.
Ketua Umum Kadin Indonesia Suryo B Sulisto sepakat tiga jenis sektor manufaktur yang disebutkan Menkeu perlu didorong. ''Industri-industri itu juga yang banyak menghemat devisa,'' ujarnya.
Menurut Suryo, aspek penting lain yang perlu dipikirkan pemerintah untuk mengembangkan industri manufaktur tersebut ialah insentif, baik insentif fiskal atau moneter.Pemerintah juga diminta memerhatikan suplai sumber daya manusia yang memadai. Jangan sampai perkembangan industri terhambat karena menunggu ketersediaan di dalam negeri. (Dro/Ire/E-2)
KOLABORASI lintas BUMN dan pemangku kepentingan menjadi kunci dalam mempercepat pemulihan masyarakat pascabencana banjir yang melanda Aceh.
Dia mengatakan industri pertahanan dalam negeri, misalnya PT Pindad, saat ini mampu memproduksi peluru-peluru kaliber kecil misalnya yang berukuran 5,56 mm dan 7,62 mm.
Pemerintah bersiap melakukan intervensi strategis di sektor tekstil nasional menyusul kolapsnya PT Sri Rejeki Isman Tbk (Sritex), salah satu pemain terbesar industri tekstil.
CEO Danantara Rosan Perkasa Roeslani mengungkapkan pemerintah tengah mengkaji pembentukan badan usaha milik negara (BUMN) di sektor tekstil.
ANGGOTA Komisi VI DPR RI dari Fraksi Partai NasDem Asep Wahyuwijaya menilai, inisiatif pemerintah untuk mendirikan BUMN tekstil merupakan langkah yang tepat dan strategis.
Kritik Prabowo itu khususnya ditujukan pada direksi dan komisaris perusahaan pelat merah yang mencatatkan kerugian namun tetap meminta tantiem atau bonus.
Danantara selalu menerapkan studi kelayakan (feasibility study) serta asesmen menyeluruh dari setiap rencana investasi yang dilakukan, termasuk terhadap sektor tekstil.
Indonesia kembali berada di persimpangan strategis antara penguatan kapasitas negara untuk pembangunan jangka panjang atau konsolidasi kekuasaan ekonomi.
MENTERI Investasi dan Hilirisasi/Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Rosan Perkasa Roeslani optimistis akan investasi penanaman modal dalam negeri (PMDN).
CEO Danantara Rosan Perkasa Roeslani mengungkapkan pemerintah tengah mengkaji pembentukan badan usaha milik negara (BUMN) di sektor tekstil.
PT Bank Syariah Indonesia Tbk (BSI) menyerahkan 90 unit Huntara di Aceh Tamiang. Sinergi BUMN Danantara sediakan hunian layak pasca-bencana.
Banjir susulan masih mengancam sejumlah wilayah terdampak bencana Sumatra.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved