Headline
Pemerintah tetapkan 1 Ramadan pada Kamis, 19 Februari 2026.
Kumpulan Berita DPR RI
Para ahli biologi kelautan memperingatkan kematian massal bulu babi (landak laut) yang mungkin disebabkan oleh penyakit misterius, membuat ekosistem terumbu karang di Laut Merah terancam.
Selama ini keberadaan makhluk berduri panjang ini berfungsi memakan alga yang dapat membuat karang mati lemas. “Kematian mereka (bulu babi) ini dapat menghancurkan seluruh ekosistem terumbu karang",” kata ilmuwan Lisa-Maria Schmidt memperingatkan.
Di resor Eilat di Laut Merah Israel, yang berbatasan dengan Yordania dan Mesir, Schmidt mengenang saat dia dan rekan-rekannya pertama kali menyaksikan penurunan populasi.
“Saat kami melompat ke dalam air, tiba-tiba semua spesimen yang biasa kami lihat sebelumnya hilang, dan yang kami lihat hanyalah kerangka dan tumpukan duri,” katanya kepada AFP.
Tim tersebut pertama kali mendengar laporan pada Januari bahwa spesies bulu babi di lepas pantai Eilat sedang sekarat dengan cepat, sehingga mereka pergi ke lokasi yang terkenal dengan kelimpahan spesies Diadema setosum.
Mereka awalnya berpikir bahwa polusi lokal adalah penyebabnya. Namun, dalam waktu dua minggu, invertebrata berduri ini juga mulai mati di pesisir pantai, termasuk di fasilitas yang diberi makan air laut di Inter-University Institute for Marine Sciences.
Para ilmuwan semakin khawatir ketika kematian massal menyebar ke selatan melalui Laut Merah. Tim menemukan bahwa penyakit misterius ini menyerang dua jenis bulu babi, Diadema setosum dan Echinothrix calamaris, sementara spesies lain di lingkungan yang sama masih aman.
Kematian massal serupa juga pernah menimpa spesies bulu babi di Karibia, sehingga meningkatkan spekulasi bahwa suatu penyakit mungkin datang ke Laut Merah melalui kapal, yang memiliki pemberat. Sehingga air dapat membawa patogen dan spesies eksotik.
“Saya pikir hal ini sangat menakutkan bagi wilayah tersebut, terutama di Laut Merah,” kata Mya Breitbart, ahli biologi dari University of South Florida di Amerika Serikat.(AFP/M-3)
Ilmuwan temukan fakta mengejutkan dari fosil telinga ikan: rantai makanan terumbu karang menyusut drastis akibat aktivitas manusia. Simak dampaknya!
KECERDASAN buatan (AI) kini melampaui sekadar asisten digital atau pengolah teks.
Kerentanan di perairan Raja Ampat salah satunya karena ketidakakuratan peta navigasi elektronik global (ENC) yang sering gagal memotret profil terumbu karang yang dinamis.
Studi terbaru mengungkap terumbu karang bertindak sebagai "konduktor" yang mengatur ritme harian mikroba laut, melampaui perubahan musiman.
PHE WMO melakukan konservasi terumbu karang melalui metode transplantasi karang menggunakan kubah beton berongga, yang merupakan modul pertama di Indonesia dan telah mendapatkan Hak Cipta.
Peneliti Universitas Queensland memperingatkan Great Barrier Reef akan mengalami penurunan terumbu karang yang cepat sebelum 2050 akibat pemanasan global.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved