Headline
Indonesia akan alihkan sebagian impor minyak mentah ke AS.
Indonesia akan alihkan sebagian impor minyak mentah ke AS.
Kumpulan Berita DPR RI
Bulan terbesar keempat Jupiter yang merupakan objek luar angkasa telah lama menarik minat para ilmuwan karena memiljki samudera di bawah permukaaan yanh dilapisi es berukuran tebal. Meskipun asing bagi manusia, ternyata Jupiter menyimpan kandungan yang amat familiar oleh manusia berupa natrium klorida alias garam dapur.
Baru-baru ini, para peneliti telah menemukan dua bentuk es garam baru yang dapat mengubah dasar kimia selama ini. Tapi, dua bentuk es garam yang sebelumnya belum ditemukan akan mengguncangkan banyak hal.
Berdasarkan penelitian terbaru yang ditampilkan dalam Proceedings of the National Academy of Sciences, garam dan es merupakan dua hal yang sangat normal terbentuk di planet Bumi dengan cara tertentu. Namun, untuk di luar angkasa, jenis air beku lainnya seperti garam es kni selalu menjadi misteri. Misalnya, terbentuknya bulan Jupiter bernama Europa.
Bulan diselimuti es jenis air yang aneh, bahkan dikatakan para ilmuwan lebih encer dari perkiraan. Alasan di balik air itu selalu misterius. Tapi, dengan ditemukannya dua bentuk es garam baru ini, misteri itu bisa menjadi peluang untuk mempelajari fenomena ruang angkasa lebih dalam lagi.
Tanda kimiawi dari garis merah permukaan Europa, yang dianggap sebagai campuran air dan garam yang membeku, tampak tidak biasa karena tidak cocok dengan zat apa pun yang dikenal di Bumi.
Tim peneliti menemukan bahwa menggabungkan air, garam dapur, suhu dingin, dan tekanan tinggi menghasilkan kristal padat jenis baru. Zat ini dapat eksis di permukaan Europa dan di dasar lautannya yang tersembunyi.
"Saat ini jarang ada penemuan mendasar dalam sains," kata penulis studi utama seperti dilansir CNN pada Selasa (21/2).
Menurut penelitian, saat mengalami tekanan yang lebih tinggi dan suhu yang lebih rendah dibanding yang ditemukan di Bumi, atom-atom dalam natrium klorida terhidrasi akan mengatur diri mereka sendiri dalam struktur yang tidak seperti ditemukan para ilmuwan sebelumnya.
Keyakinannya adalah dua bentuk es garam yang aneh ini bisa menjadi dasar dari es berair misterius yang menutupi Bulan seperti Europa. Selanjutnya, dengan mempelajari kondisi yang diperlukan untuk membuat es air asin semacam ini, para ilmuwan mungkin dapat mengetahui lebih banyak tentang atmosfer planet dan bulan yang ditutupi dengan bahan semacam ini.
Oleh karena itu, penemuan tersebut memiliki kemungkinan untuk mengubah beberapa dasar kimia, setidaknya sejauh bagaimana natrium klorida terhidrasi bereaksi di bawah tekanan dan suhu yang lebih dingin. Biasanya garam berfungsi sebagai antibeku alami. Itulah sebabnya beberapa kota menaruh garam di jalan sebelum badai es. Ini menurunkan titik beku air, memungkinkannya tetap cair lebih lama.
Konsep yang sama ini tampaknya dipajang di Europa dan bulan serupa lainnya. Dengan demikian, dapat menunjukkan dua bentuk baru es garam ini dan mempelajarinya dengan lebih baik memiliki potensi untuk membuka pintu baru untuk memahami bagaimana bulan tata surya kita muncul dan bahkan menawarkan pemahaman yang lebih baik tentang es kosmik.
Pada 2019, para ilmuwan menyepakati bahwa bagian kuning yang ada pada permukaan Europa disebabkan oleh adanya natrium klorida atau lebih dikenal sebagai garam meja.
Untuk membuka lebih banyak wawasan tentang Europa, yang akan dikunjungi oleh misi JUICE Badan Antariksa Eropa (kependekan dari Jupiter Icy Moons Explorer) dan misi Europa Clipper NASA dalam beberapa tahun ke depan, para ilmuwan bekerja untuk menciptakan kembali kondisi bulan di laboratorium.
Memahami kimia yang ada di dunia lautan seperti Europa akan memungkinkan para ilmuwan untuk lebih memahami data yang dikumpulkan oleh misi seperti JUICE dan Europa Clipper di masa mendatang.
“Ini adalah satu-satunya benda planet, selain Bumi, di mana air cair stabil pada skala waktu geologis, yang sangat penting untuk kemunculan dan perkembangan kehidupan,” kata Baptiste Journaux, asisten profesor ilmu bumi dan ruang angkasa dari University of Washington.
Menurut Journaux, Jupiter adalah tempat terbaik di tata surya untuk menemukan kehidupan di luar bumi, maka diperlukan untuk mempelajari lautan dan seluruh kandungan di dalamnya yang eksotis untuk lebih memahami bagaimana mereka terbentuk, berevolusi, dan dapat menahan air di wilayah dingin tata surya sangat jauh dari matahari.(M-3)
Penelitian terbaru mengungkap fenomena mengejutkan di bulan-bulan es seperti Enceladus dan Miranda. Penurunan tekanan akibat lelehan es bisa memicu samudra bawah tanah mendidih.
NASA izinkan astronaut bawa iPhone ke Bulan dalam misi Artemis 2026. Simak aturan berat, tantangan radiasi, dan suhu ekstrem di permukaan lunar.
Komet bernama 41P/Tuttle-Giacobini-Kresak dilaporkan mengalami perlambatan rotasi ekstrem hingga diduga berhenti total, sebelum akhirnya berbalik arah setelah mendekati Matahari.
Seiring meningkatnya misi komersial ke luar angkasa, para ahli memperingatkan adanya risiko kesehatan reproduksi yang terabaikan. Apakah manusia siap bereproduksi di orbit?
Fakta mengejutkan datang dari dunia sains, Bumi juga memiliki sesuatu yang menyerupai “ekor” raksasa di luar angkasa.
NAMA seorang romo sekaligus ilmuwan asal Indonesia oleh International Astronomical Union menetapkan nama Bayurisanto sebagai nama resmi sebuah asteroid
Update terbaru Jupiter Maret 2026: NASA ungkap Jupiter lebih kecil dan gepeng dari perkiraan. Cek juga jadwal parade planet dan pendekatan komet antarbintang.
Februari 2026 menghadirkan parade planet langka. Merkurius, Venus, Neptunus, Saturnus, Uranus, dan Jupiter akan terlihat bersamaan, puncaknya pada 28 Februari.
Fenomena parade planet akan menghadirkan enam planet di langit malam pada akhir Februari.
Temuan terbaru mengenai ukuran Jupiter ini dipublikasikan dalam jurnal Nature Astronomy pada Senin (2/2). Jurnal ini sekaligus disebut sebagai salah satu hasil penting
Temuan ini didapat dari pengukuran terbaru menggunakan data radio pesawat ruang angkasa Juno, yang sejak 2016 mengorbit planet terbesar di tata surya tersebut.
Penelitian yang dimuat dalam jurnal ilmiah menyebutkan bahwa tanpa kehadiran Jupiter, lingkungan orbit Bumi kemungkinan akan jauh lebih tidak stabil.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved