Headline
Taksiran kerugian itu belum yang diderita masyarakat, termasuk para pelaku usaha.
Taksiran kerugian itu belum yang diderita masyarakat, termasuk para pelaku usaha.
Kumpulan Berita DPR RI
Bagi kamu pemelihara kucing atau anjing, pasti familiar dengan beberapa gangguan penyakit yang dialami oleh para anabul tersebut. Seperti muntah dan diare.
Lalu, bagaimana sebenarnya itu bisa terjadi? Serta mengenali penanganan yang tepat?
Menurut Vet Pillar Head Royal Canin Indonesia, drh. Donny Bustaman, permasalahan kesehatan yang sering diidap oleh para kucing di Indonesia termasuk kucing kampung adalah gangguan pencernaan.
“Penyakit yang paling banyak diderita untuk kucing adalah gangguan saluran kemih dan gangguan pencernaan. Salah satu gejala yang muncul adalah seperti muntah dan diare,” kata drh. Donny dalam sesi wawancara bersama media di kantor Royal Canin Indonesia, Jakarta Selatan, Selasa, (21/2).
Sementara, drh. Donny menjelaskan penyakit yang kerap dialami anjing di Indonesia adalah penyakit kulit (dermatologis). Menurutnya, kesadaran masyarakat terhadap gangguan kulit pada anjing masih rendah. Ia menilai, banyak dari masyarakat yang menganggap anjing yang menggaruk kulit mereka terlalu banyak masih dianggap normal.
Drh. Donny menambahkan, untuk bisa menjaga dan mengobati anabul yang sakit penanganan yang dilakukan harus secara menyeluruh. Bukan saja memerhatikan nutrisi makanan yang diberikan tapi juga membawa anabul ke layanan kesehatan. Di samping itu, faktor lingkungan dan perilaku manusia pemeliharanya menjadi hal penting diperhatikan.
“Contoh, gangguan dermatologis pada anjing itu disebabkan gangguan jamur atau parasit yang membuat alergi. Itulah kenapa perlu diskusi dengan dokter hewan. Meski diberikan nutrisi, tapi kalau misalnya jendela ruangan enggak pernah dibuka atau anjing itu alergi pada putik bunga, kalau penyebab belum ditangani, percuma juga diberikan nutrisi pakan yang sesuai. Sehingga membuat kondisi kesehatan mereka tidak baik.”
Ditambahkan Regulatory Affairs Specialist Royal Canin Indonesia, drh. Novi Wulandari, penyakit kedua yang juga sering dialami anabul adalah infeksi virus dan parasit seperti cacing.
“Bisa juga karena metabolisme. Infeksi saluran kemih yang terjadi pada kucing, itu bisa disebabkan infeksi dari luar maupun oleh metabolisme di dalam tubuh mereka. Kucing kemudian akan mudah memproduksi kristal, ini karena kurang minum,” lanjut drh. Novi.
Menurut drh. Novi, kucing merupakan salah satu hewan peliharaan yang cukup memerhatikan kebersihan mereka. Sehingga ketika wadah minum mereka kotor, kucing jadi enggan minum.
Lalu, apakah setelah anjing dan kucing sudah diberikan vaksin mereka jadi tidak terkena penyakit? Drh. Novi menjelaskan anabul akan tetap terkena penyakit meski telah divaksin. Tapi dengan vaksin, gejala yang muncul akan lebih ringan dan akan cepat sembuh. Karena di tubuh mereka sudah terbentuk antibodi. Sehingga penyakitnya tidak parah.
(M-4)
Dengan tekstur yang lebih padat, kucing bisa mendapatkan asupan gizi yang lebih konsentrat meski dalam satu suapan kecil sekalipun.
Peneliti UC Davis menemukan virus corona pada kucing (FIP) mampu menginfeksi berbagai sel imun dan "bersembunyi". Temuan ini menjadi petunjuk penting bagi fenomena Long covid pada manusia.
Isu yang kerap beredar di masyarakat tersebut berkaitan dengan infeksi parasit Toxoplasma gondii, bukan karena kucing itu sendiri.
Sebuah studi terbaru mengungkapkan kucing lebih vokal saat menyapa pemilik pria dibanding perempuan. Apakah ini bentuk manipulasi atau sekadar adaptasi sosial?
Studi terbaru mengungkap dua peristiwa pendinginan global mengubah bentuk tubuh hewan karnivora dari musang menjadi kucing dan beruang. Simak faktanya!
Pergub Nomor 36 tahun 2025 merupakan perubahan atas Peraturan Gubernur nomor 1999 tahun 2016 tentang Pengendalian Hewan Penular Rabies.
Studi terbaru mengungkap dua peristiwa pendinginan global mengubah bentuk tubuh hewan karnivora dari musang menjadi kucing dan beruang. Simak faktanya!
Penelitian terbaru menemukan DNA serigala masih tersisa pada mayoritas ras anjing modern.
Pergub Nomor 36 tahun 2025 merupakan perubahan atas Peraturan Gubernur nomor 1999 tahun 2016 tentang Pengendalian Hewan Penular Rabies.
Penelitian yang diterbitkan dalam jurnal Science ini menganalisis 643 tengkorak anjing dan serigala baik modern maupun purba yang berusia hingga sekitar 50.000 tahun.
Pergub diharapkan akan bermanfaat terutama untuk melindungi hewan-hewan peliharaan yakni anjing dan kucing.
Terlebih rencana ini sudah lama menjadi aspirasi konstituen PDI Perjuangan, partai yang menjagokan Pramono Anung-Rano Karno dalam Pilkada 2024.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved