Headline
Diskoneksi antara tren rupiah dan IHSG dipengaruhi kredibilitas kebijakan makro.
Diskoneksi antara tren rupiah dan IHSG dipengaruhi kredibilitas kebijakan makro.
Kumpulan Berita DPR RI
MEMAAFKAN dan menerima kembali orang yang menyakiti Anda, bisa jadi dua hal berbeda. Untuk mengetahui apakah Anda benar-benar siap untuk menerima orang yang sudah menyakiti, psikolog menyarankan mempertimbangkan beberapa hal.
Psikolog dari Cornell University dan University of Colorado Boulder, Amerika Serikat, Mark Travers Ph.D., menyebutkan sejumlah pertanyaan berikut yang perlu terjawab sebelum Anda bisa memberi kesempatan kedua. Berikut hal tersebut, seperti dilansir dari Psikolog Today, Jumat (27/1).
1. Sudahkah mereka menyadari kesalahan?
Langkah pertama adalah Anda perlu mengetahui dengan benar jika orang tersebut sudah menyadari tindakannya. Pertanyaan ini sebenarnya kerap tidak akan terjawab gamblang dengan ucapan.
Bisa jadi orang yang membuat kesalahan, sekadar memberi jawaban manis. Bisa pula, Anda yang memang masih sulit mempercayai. Sebab itu jawaban nyata dari pertanyaan itu sebenarnya datang dari sederet perilaku orang tersebut. Pertama, tentu saja, apakah mereka sudah meminta maaf dengan sungguh-sungguh?
Kedua, kesadaran akan kesalahan semestinya diperlihatkan dengan perubahan sikap. Orang tersebut seharusnya tidak lagi mengulangi kesalahan yang sama. Sebab itu, perubahan sikap ini membutuhkan waktu untuk anda lihat.
2. Bisakah Anda memaafkan orang tersebut?
Tahap selanjutnya ialah memaafkan. Memaafkan menjadi langkah kedua karena sesungguhnya Anda pun membutuhkan waktu untuk menerima permintaan maaf dari bersangkutan dan kemudian semakin diyakini dengan melihat perubahan sikapnya.
Jika perubahan sikap sudah ada, namun Anda masih sulit benar-benar memaafkan maka saatnya perlu merenungi tentang maanfaat baik dari sifat pemaaf. Suatu studi yang diterbitkan dalam Journal of Personality and Social Psychology menemukan bahwa memaafkan menghasilkan perasaan kemanusiaan yang mendalam.
Travers menambahkan, jika masih tetap enggan memaafkan maka perlu pula Anda merenung akan dampak jika tidak memaafkan. Apakah menyimpan marah atau dendam akan baik bagi ketenangan diri? Selanjutnya bisa pula Anda membayangkan berada dalam posisi orang yang bersalah dan telah bersungguh-sungguh berubah.
3. Sudahkah Anda mengomunikasikan ekspektasi baru Anda?
Jika kedua pertanyaan di atas telah terjawab dan sesuai harapan Anda, maka hal terakhir yang perlu terjawab adalah soal ekspektasi baru Anda. Sudahkah Anda menyampaikan ekspektasi baru kepada orang yang bersangkutan?
Jawaban akan pertanyaan itu akan menentukan kesiapan Anda untuk kembali menerima orang tersebut. Sebab jika ekpektasi baru tidak terpenuhi atau tidak terkompromikan maka bisa jadi kebersamaan yang terjalin lagi hanya bertahan sesaat.
Kekecewaan akan mudah muncul dan bisa jadi justru timbul konflik yang lebih berat. Jika ketika pertanyaan di atas belum terjawab, bukan berarti pula Anda tidak dapat menerima orang tersebut. Bisa jadi jika Anda masih membutuhkan waktu. Apapun keadaannya, amarah dan dendam semestinya tidak dipertahankan demi kesehatan mental Anda sendiri. (M-1)
Studi terbaru mengungkap teknik "meta-cognitive doubt". Meragukan pikiran negatif ternyata lebih efektif untuk kembali berkomitmen pada tujuan jangka panjang.
Korps Relawan Bencana di bawah Himpunan Psikologi Indonesia (Himpsi), melaksanakan rangkaian Psychosocial Support Program bagi anak-anak yang terdampak gempa bumi di Kabupaten Poso.
Dialah Saparinah Sadli, perempuan berusia 99 tahun yang menjadi saksi hidup perjalanan panjang ilmu psikologi dan gerakan perempuan di Indonesia.
Talentlytica bersama Unit Usaha Akademik Unpad akan menggelar Workshop Pauli Reimagined pada 4 Oktober mendatang di Bandung, Jawa Barat
Penggunaan pacar AI di platform seperti Character.AI makin populer, tetapi pakar memperingatkan risikonya.
Cinta bukan hanya soal perasaan, tapi juga ilmiah. Pelajari efek hormon ini saat jatuh cinta dan patah hati.
Strategi pengampunan koruptor berkedok amnesti tersebut memperlihatkan wajah Rezim yang sesungguhnya yang memang hendak memberikan perlakuan istimewa bagi para koruptor.
Uskup Mar Mari Emmanuel dari Sydney, yang diserang dengan kejam selama khotbah yang disiarkan langsung, menyatakan dia sedang pulih dan telah memaafkan penyerangnya.
Manusia tidak lepas dari perbuatan salah. Sering kali apa yang diperbuat tidak berkenan di hati orang lain sehingga menimbulkan amarah.
SELAMA ini, 'memaafkan' cenderung dijadikan kajian pengetahuan agama. Padahal, kajian pengetahuan nonagama, 'memaafkan' ditemukan dalam filsafat dan psikologi dan baru pada dekade 1980.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved