Senin 28 November 2022, 11:28 WIB

Studi: Stres Pada Tingkat Tertentu Baik untuk Otak

Nike Amalia Sari | Weekend
Studi: Stres Pada Tingkat Tertentu Baik untuk Otak

Dok. studyfinds.org/ Pedro Figueras
Ilustrasi

 

Temuan baru dari University of Georgia menunjukkan, sedikit stres sebenarnya bisa sangat bermanfaat bagi tubuh dan otak. Stres pada tingkat ringan dapat mendorong seseorang keluar dari zona nyaman yang baik untuk meningkatkan kerja otak.

Tim peneliti mengatakan tingkat stres yang rendah hingga sedang dapat meningkatkan kemampuan otak dalam merekam memori kerja. Memori kerja mengacu pada informasi jangka pendek yang digunakan orang untuk menyelesaikan tugas sehari-hari.

Contohnya termasuk mengingat nomor telepon seseorang, atau mengingat arah saat mengemudi. Tidak mengherankan, penulis penelitian menekankan bahwa manfaat ini terbatas pada stres sedang. Karena begitu tingkat stres mencapai tingkat tinggi, kondisi itu dapat merusak kesehatan seseorang.

“Hasil buruk dari stres cukup jelas dan bukan hal baru,” kata penulis studi utama Assaf Oshri, profesor asosiasi di Sekolah Tinggi Ilmu Keluarga dan Konsumen, seperti dikutip dari situs Study Finds, Rabu (23/11).

Terus-menerus merasa sangat stres dapat mengubah struktur otak seseorang. Saat seseorang sangat stres secara teratur, itu menyebabkan berkurangnya kemampuan otak yang berperan melakukan pengendalian otot, pengambilan keputusan, pengendalian diri, pengaturan emosi, dan banyak lagi. Stres kronis juga terkait dengan peningkatan kerentanan terhadap berbagai penyakit mulai dari mual dan migrain hingga hipertensi dan penyakit jantung.

“Tapi ada sedikit informasi tentang efek stres yang lebih terbatas. Temuan kami menunjukkan bahwa tingkat stres yang dirasakan rendah hingga sedang dikaitkan dengan peningkatan aktivitas saraf memori kerja, menghasilkan kinerja mental yang lebih baik," kata Oshri.

Pada studi terbaru ini, tim menganalisis rangkaian pemindaian magnetic resonance imaging (MRI) terhadap lebih dari 1.000 orang dari berbagai latar belakang ras dan etnis. Peserta penelitian diberi pertanyaan tentang seberapa sering mereka mengalami pikiran atau perasaan tertentu.

Misalnya, seberapa sering ia merasa kesal dalam waktu satu bulan, seberapa puas ia pada berbagai hal dalam hidupnya, dan bagaimana lingkar pertemanan di hidupnya berperan dalam aktivitas sosialnya.

Jejaring sosial peserta juga dianalisis melalui sejumlah ukuran berbeda. Contohnya bagaimana perasaan mereka tentang kemampuan mereka sendiri untuk menangani kejadian tak terduga, seberapa puas mereka terhadap hidupnya, dan ketersediaan dukungan berbasis teman di seluruh jaringan sosial mereka.

Khususnya, orang yang melaporkan dukungan sosial tingkat tinggi dari teman dan keluarga lebih mampu mengatasi tingkat stres rendah hingga sedang dengan cara yang sehat.

“Bagi sebagian orang, menghadapi kesulitan adalah hal yang baik. Tapi bagi yang lain, mungkin tidak," tutur Oshri.

(M-4)

Baca Juga

Dok. Media Indonesia Publishing

Perihal Kopi Nusantara

👤Pro/M-2 🕔Sabtu 04 Februari 2023, 08:15 WIB
KOPI bukan hanya sekadar biji tumbuhan bercita rasa khas. Kopi digemari dan dicari sebagai sumber kepuasan dan...
MI/Duta

Mendobrak Dominasi lewat Koplo

👤Putri Rosmalia 🕔Sabtu 04 Februari 2023, 08:10 WIB
Dangdut koplo disebut sang penulis mewakilkan semangat 'oplosan' karena mencampurkan berbagai hal menjadi sebuah genre dangdut...
DOK IST

De Margo Tambah List Tempat Nongkrong di Jaksel

👤Gana Buana 🕔Jumat 03 Februari 2023, 19:10 WIB
Saat ini menu makanan Italia seperti pasta dan pizza memang sudah cukup dikenal di masyarakat...

E-Paper Media Indonesia

Baca E-Paper

Berita Terkini

Selengkapnya

Top Tags

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya