Jumat 04 November 2022, 10:00 WIB

Pemanasan Global Dituding Penyebab Meningkatnya Kebakaran Lahan di Siberia

Adiyanto | Weekend
Pemanasan Global Dituding Penyebab Meningkatnya Kebakaran Lahan di Siberia

Dimitar DILKOFF/ AFP
Pemandangan dari udara, tanah yang hangus terbakar di sebelah barat kota Yakutsk Rusia di Siberia pada Juli 2021

 

Pemanasan global bertanggung jawab atas kebakaran yang semakin meningkat di Siberia.  Menurut sebuah laporan yang diterbitkan Kamis (3/11), dalam beberapa dekade ke depan dampak kebakaran itu akan melepaskan sejumlah besar karbon yang sekarang terperangkap di dalam tanah.

Para peneliti khawatir pelepasan karbon itu bakal melebihi ambang batas suhu di wilayah tersebut. Perubahan kecil suhu juga dapat menyebabkan peningkatan eksponensial di area yang terbakar di wilayah itu.

Pada 2019 dan 2020, kebakaran di bagian dunia yang terpencil ini menghancurkan luas permukaan yang setara dengan hampir setengah dari luas yang terbakar dalam 40 tahun sebelumnya, sebut penelitian ini yang diterbitkan dalam jurnal Science.

Kebakaran yang terjadi baru-baru ini telah memuntahkan sekitar 150 juta ton karbon ke atmosfer.

“Area di atas lingkaran Arktik (Kutub Utara) memanas empat kali lebih cepat daripada bagian planet lainnya dan amplifikasi iklim inilah yang menyebabkan aktivitas kebakaran menjadi abnormal," ujar David Gaveau, salah satu penulis studi ini, kepada AFP.

Para peneliti berkonsentrasi pada area di Siberia terutama di wilayah yang berukuran lima setengah kali ukuran Prancis. Dengan gambar satelit mereka mengamati area permukaan lahan yang terbakar setiap tahun dari 1982 hingga 2020.

Pada 2020, kebakaran menghanguskan lebih dari 2,5 juta hektare (6,2 juta hektar) lahan dan melepaskan, dalam setara CO2, sebanyak yang dipancarkan oleh negara Spanyol dalam satu tahun, para ilmuwan menyimpulkan.

Tahun itu, musim panas di Siberia rata-rata tiga kali lebih panas daripada tahun 1980. Kota Verkhoyansk di Rusia mencapai 38 derajat Celcius di musim panas, sebuah rekor untuk kawasan Arktik (Kutub Utara)

Suhu udara rata-rata di musim panas, dari Juni hingga Agustus, melampaui 10 derajat Celcius hanya empat kali dalam periode yang diteliti, yakni pada tahun 2001, 2018, 2019, dan 2020. Ini ternyata menjadi tahun-tahun dengan kebakaran paling banyak di wilayah tersebut.

“Para peneliti khawatir bahwa ambang batas pada 10 derajat Celcius ini akan menjadi titik puncak yang semakin sering dilampaui,” kata Gaveau. (AFP/M-3)

Baca Juga

Dok. Jaman Studio

Film Horor Anak Titipan Setan Siap Tayang Awal 2023

👤Fathurrozak 🕔Sabtu 10 Desember 2022, 11:20 WIB
Anak Titipan Setan merupakan film yang dibiayai Perum Produksi Film Negara (PFN) dan diproduksi Jaman...
Dok. 123RF/belchonock

Senyawa Kentang dan Tomat Berpotensi Sebagai Obat Kanker Baru

👤Nike Amelia Sari 🕔Sabtu 10 Desember 2022, 10:30 WIB
Sekelompok peneliti asal Polandia menemukan fakta, senyawa glikoalkaloid pada kentang dan tomat memiliki potensi untuk melawan sel...
Dok. Penerbit Haru

Misteri Dua Sahabat dari Minato Kanae

👤Pro/M-2 🕔Sabtu 10 Desember 2022, 07:50 WIB
BAGI penggemar sastra populer Asia, khususnya yang bergenre misteri dan thriller, nama Minato Kanae mungkin sudah tak lagi...

E-Paper Media Indonesia

Baca E-Paper

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya