Headline
Pada perdagangan kemarin, rupiah menguat tipis dan ditutup di level Rp16.936 per dolar AS.
Pada perdagangan kemarin, rupiah menguat tipis dan ditutup di level Rp16.936 per dolar AS.
Kumpulan Berita DPR RI
Menonton video tentang cara memasak, makan lebih sedikit, dan memilih makanan yang lebih sehat, dapat membantu anak-anak obesitas menurunkan berat badan, mengurangi risiko diabetes, dan menjadi lebih bahagia, menurut sebuah penelitian.
Dokter di balik temuan ini percaya bahwa video emacam itu dapat membantu dalam mengobati obesitas pada masa kanak-kanak karena mereka menunjukkan bahwa perawatan kesehatan online bisa sama efektifnya dengan janji tatap muka.
Sebuah tim peneliti yang dipimpin oleh Dr Felix Reschke, dari rumah sakit anak-anak di Hanover, Jerman, mempelajari 108 anak-anak yang mengikuti program penurunan berat badan berbasis video saat negara itu berada dalam penguncian kedua covid-19 pada akhir 2020.
Percobaan tersebut mendorong banyak peserta makan lebih banyak buah dan sayuran dan jauh lebih sedikit makanan manis seperti permen, makanan ringan dan minuman ringan. Selain itu, mereka mengurangi jumlah makanan yang mereka makan setiap hari, meskipun mereka rata-rata masih makan 4,1 kali sehari, sebagai hasil dari “pendidikan terstruktur berbasis video”.
Peserta studi itu berkisar antara delapan hingga 17 tahun dan usia rata-rata mereka adalah 12 tahun.
Semua sudah terdaftar dalam program hidup sehat rawat jalan KiCK untuk anak di bawah 18 tahun yang kelebihan berat badan atau obesitas. Akibat covid, kegiatan ini dilakukan secara online.
Ini juga termasuk seminar dan lokakarya pendidikan, serta sesi memasak online dan diskusi tentang mata pelajaran yang sulit seperti "emotional eating" dan konsekuensi kesehatan dari obesitas, yang dapat mencakup diabetes dan risiko jantung, pernapasan, dan masalah sendi.
“Pengobatan obesitas anak yang berhasil adalah pekerjaan yang menantang, tetapi kami telah menunjukkan bahwa remaja dengan obesitas dapat dibantu melalui pelatihan berbasis video. Peserta menunjukkan peningkatan dalam pilihan makanan mereka, mengontrol nafsu makan, dan ukuran porsi, yang tercermin dalam ukuran kesehatan metabolisme dan kualitas hidup mereka yang lebih baik," kata Reschke, seperti dikutip dari situs The Guardian, Kamis (15/9). (M-4)
Seorang pria paruh baya mengalami pembesaran perut yang tidak wajar selama bertahun-tahun. Awalnya, ia mengira kondisi tersebut hanyalah akibat kenaikan berat badan atau obesitas biasa
Program ini dirancang sebagai layanan berbasis medis yang aman. Melalui skrining ketat, penentuan dosis personal, hingga pendampingan ahli gizi.
Data kesehatan terbaru menunjukkan 1 dari 4 orang dewasa di Indonesia hidup dengan kondisi obesitas atau kelebihan lemak perut.
Studi terbaru mengungkap tingkat obesitas di AS melonjak drastis hingga 70% setelah standar pengukuran baru yang menggabungkan BMI dengan lingkar pinggang diterapkan.
Tingginya angka obesitas menjadi salah satu alasan utama masyarakat menjadikan diet sebagai resolusi tahunan.
Hormon menjadi faktor adanya penumpukan lemak, memang risikonya terjadi pada usia di atas 40, terutama pada perempuan.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved