Headline
Publik diminta terus bersikap kritis terhadap tindakan aparat.
Publik diminta terus bersikap kritis terhadap tindakan aparat.
Kumpulan Berita DPR RI
Februari lalu, Perseverance, kendaraan penjelajah milik NASA mendarat di Mars. Tak lama setelah itu, dua mikrofonnya mulai merekam audio, memungkinkan para ilmuwan untuk mendengar seperti apa rasanya di Planet Merah untuk pertama kalinya.
Dalam sebuah penelitian yang diterbitkan dalam jurnal Nature, Jumat (1/4), mereka (para ilmuwan) memberikan analisis pertama mereka tentang lima jam suara yang diambil oleh mikrofon Perseverance.
Para ilmuwan mengatakan rekaman audio pertama di Mars mengungkapkan sebuah planet yang tenang dengan hembusan angin sesekali di mana dua kecepatan suara yang berbeda akan memiliki efek tertunda yang terdengar aneh.
“Audio mengungkapkan turbulensi yang sebelumnya tidak diketahui di Mars, “ kata Sylvestre Maurice, penulis utama studi dan co-direktur ilmiah SuperCam, kamera seukuran kotak sepatu yang dipasang di tiang pesawat penjelajah yang memiliki mikrofon utama.
Studi ini mengkonfirmasi untuk pertama kalinya bahwa kecepatan suara lebih lambat di Mars, dengan kecepatan 240 meter per detik, dibandingkan dengan 340 meter per detik di Bumi. “Hal ini telah diperkirakan karena atmosfer Mars terdiri dari 95% karbon dioksida - dibandingkan dengan 0,04% di Bumi, dan sekitar 100 kali lebih tipis sehingga membuat suara 20 desibel lebih lemah,” kata studi tersebut, seperti dikutip AFP.
Tetapi para ilmuwan terkejut ketika suara yang dihasilkan oleh laser yang ditembakan membutuhkan waktu 250 meter per detik -- 10 meter lebih cepat dari yang diperkirakan. "Saya sedikit panik," kata Maurice. "Saya berkata pada diri sendiri bahwa salah satu dari dua pengukuran itu salah karena di Bumi Anda hanya memiliki satu kecepatan suara."
Para ilmuwan telah menemukan ada dua kecepatan suara di permukaan Mars -- satu untuk suara bernada tinggi seperti ledakan laser, dan satu lagi untuk frekuensi yang lebih rendah seperti deru rotor helikopter. Ini berarti telinga manusia akan mendengar suara bernada tinggi sedikit lebih awal. "Di Bumi, suara dari orkestra mencapai Anda dengan kecepatan yang sama, baik rendah atau tinggi. Tapi bayangkan di Mars, jika Anda agak jauh dari panggung, akan ada penundaan besar,” kata Maurice.
“Semua faktor ini akan mempersulit dua orang untuk melakukan percakapan hanya dengan jarak lima meter (16 kaki),” kata lembaga penelitian CNRS Prancis dalam sebuah pernyataan.
Di Mars begitu sunyi sehingga para ilmuwan berulang kali khawatir ada sesuatu yang salah, kata CNRS, yang mungkin memicu ingatan tentang dua kegagalan sebelumnya upaya pada tahun 1999 dan 2008 untuk merekam suara di sana. "Ada beberapa sumber suara alami kecuali angin," kata para ilmuwan dalam sebuah pernyataan yang terkait dengan penelitian tersebut.
“Mikrofon memang menangkap banyak suara "decitan" dan "dentang" saat roda logam pesawat penjelajah berinteraksi dengan batu,” kata studi tersebut.
Maurice mengatakan dia merasa "pertaruhan ilmiah" membawa mikrofon ke Mars sukses. Thierry Fouchet dari Observatorium Paris, yang juga terlibat dalam penelitian tersebut, mengatakan mendengarkan turbulensi, seperti angin vertikal yang dikenal sebagai gumpalan konveksi, akan memungkinkan mereka menyempurnakan model numerik untuk memprediksi iklim dan cuaca. (M-4)
Fakta mengejutkan datang dari dunia sains, Bumi juga memiliki sesuatu yang menyerupai “ekor” raksasa di luar angkasa.
NAMA seorang romo sekaligus ilmuwan asal Indonesia oleh International Astronomical Union menetapkan nama Bayurisanto sebagai nama resmi sebuah asteroid
NASA laksanakan evakuasi medis pertama dalam sejarah ISS.
NASA merilis foto luar biasa kolaborasi James Webb dan Chandra. Dua galaksi, IC 2163 dan NGC 2207, tertangkap sedang memulai proses tabrakan dahsyat.
Para astronom untuk pertama kalinya berhasil mendeteksi ledakan besar yang dilepaskan oleh sebuah bintang di luar tata surya.
Sejumlah astronom menemukan cadangan air terbesar yang pernah diketahui di alam semesta. Lautan ini ditemukan di sebuah quasar raksasa yang berjarak sekitar 12 miliar tahun cahaya dari Bumi.
Pemetaan semacam ini dipandang sebagai terobosan signifikan karena memungkinkan para ilmuwan untuk memahami kondisi atmosfer di luar tata surya.
Samudra Europa berpotensi tidak memiliki dinamika geologis yang cukup untuk mendukung kehidupan, khususnya akibat minimnya aktivitas hidrotermal di dasar lautnya.
Para astronom untuk pertama kalinya berhasil mendeteksi ledakan besar yang dilepaskan oleh sebuah bintang di luar tata surya.
Para ilmuwan NASA kembali membuat terobosan besar dalam dunia astronomi.
Hambatan terbesar dalam mewujudkan perjalanan antarbintang ternyata bukan terletak pada kapal, mesin, ataupun bahan bakar.
Lima dekade setelah misi Apollo menapakkan kaki di permukaan Bulan, teka-teki terbesar tentang struktur internal satelit alami Bumi itu akhirnya berhasil dipecahkan.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved