Headline
Kasus kuota haji diperkirakan merugikan negara Rp622 miliar.
Kumpulan Berita DPR RI
IBU saya yang berusia 72 tahun punya hobi mengisi teka-teki silang (TTS). Kebiasaan itu rutin beliau lakukan di akhir pekan. Kadang seluruh pertanyaan yang disusun mendatar dan menurun itu tidak dituntaskannya pada hari itu juga. Bisa dua hingga lima hari berikutnya. Sesekali beliau juga mengajak anak serta cucunya, tapi dengan syarat tidak boleh minta bantuan ‘mbah google’. Bagi ibu, itu ‘haram’ hukumnya. “Itu akan membuat kita malas berpikir. Kalau kamus tidak apa-apa, itu akan menambah kosa kata kalian,” begitu alasannya.
Ibu saya yang lansia tentu saja tergolong generasi lama (generasi old skul, kalau istilah anak sekarang), yang di masa remajanya belum mengenal teknologi smartphone. Generasi mereka merupakan generasi yang masih belajar menggunakan peta buta dan sempoa. Tidak mengherankan jika beliau masih hafal di mana letak Kota Bagan Siapi-api, misalnya, tanpa perlu menelusuri di mesin pencari. Bandingkan dengan anak zaman now yang sering gagap menyebut urutan sila yang menjadi dasar negara.
Zaman memang berbeda, tapi menurut saya kemampuan kognitif manusia tetap diperlukan selama mereka masih bernyawa. Kemampuan kognitif adalah sebuah kontruksi yang melibatkan otak, termasuk kemampuan untuk berpikir, mengingat, memecahkan masalah, dan mengambil keputusan. Apa gunanya Tuhan membekali kita akal, jika semuanya belum apa-apa diserahkan pada algoritma komputer. Begitu keluar rumah, serahkan semua urusan pada Waze atau Google Map.
Di Jepang, para orangtua tetap dibiarkan berpikir dan bekerja. Seni origami, seni melipat kertas (biasanya menjadi bunga, burung-burungan, atau kura-kura), justru biasa dilakukan lansia, bukan balita. Karya mereka juga dihargai seperti karya seni lainnya. Dengan kata lain, mereka tetap dipandang sebagai mahkluk produktif, bukan barang antik yang cuma perlu dirawat. Otak mereka tetap dipergunakan, tidak diparkir atau dipensiunkan dini. Begitulah cara mereka memperlakukan lansia.
Di Indonesia, berdasarkan survei Badan Pusat Statistik tahun 2020, jumlah lansia ada sekitar 26,82 juta jiwa atau 9,92% dari total populasi. Menurut PBB, Indonesia merupakan negara dengan jumlah lansia terbanyak ke-8 di dunia. Jumlah tersebut akan meningkat seiring dengan meningkatnya kualitas hidup masyarakat Indonesia. Permasalahan umum yang dialami para lansia ialah menurunnya tingkat kesehatan dan fungsi motorik. Hal ini lumrah seiring dengan bertambahnya usia mereka. Tentu butuh jaminan dan perlindungan kesehatan untuk mereka.
Selain itu, pemerintah juga perlu mempersiapkan warganya menghadapi proses penuaan dengan produktif. Hal lainnya ialah mengembangkan infrastruktur kota yang ramah terhadap lansia. Tapi, persoalan ini bukan semata tanggung jawab negara. Keluarga, sebagai lingkungan terdekat, justru berperan penting. Kota ramah lansia memang perlu, tapi keramahan kita selaku anggota keluarga justru jauh lebih krusial. Peringatan Hari Lansia pada 29 Mei kemarin yang bertema Lanjut usia bersama keluarga, kiranya harus jadi momentum untuk lebih memperhatikan mereka, terlebih di masa pandemi ini.
Selain percepatan pemberian vaksin, banyak hal lain yang juga bisa dilakukan seperti mengajak mereka dalam kegiatan berkebun, memasak, dan sebagainya. Bagi yang tinggal berjauhan, pemanfaatan teknologi bisa dilakukan dengan sering-sering mengajak berkomunikasi dan bersilaturahim secara virtual, agar mereka tidak merasa kesepian. Saya rasa itu lebih bermanfaat , daripada smaptphone cuma dipakai buat joget di Tiktok atau keseringan berswafoto di Instagram. Selamat Hari Lansia.
Efektivitas terapi kanker harus berjalan selaras dengan kondisi fisik dan psikologis pasien.
Kemensos bersama Badan Gizi Nasional (BGN) mematangkan skema pelaksanaan program Makan Bergizi Gratis (MBG) bagi lanjut usia (lansia) dan penyandang disabilitas.
Studi JAMA 2026 ungkap 32% kasus demensia terkait gangguan pendengaran. Simak tanda awal dan cara alat bantu dengar cegah penurunan kognitif hingga 50%.
Identifikasi trauma pada anak memerlukan kepekaan khusus karena mereka belum mampu mengomunikasikan perasaan mereka secara verbal.
Simak tips aman bagi lansia saat menjalani puasa Ramadan 1447 H, termasuk menu sahur bergizi, hidrasi cukup, olahraga ringan, dan istirahat yang cukup agar tetap sehat.
Seiring bertambahnya usia, kebutuhan nutrisi ikut berubah. Pada lansia, massa otot dan kepadatan tulang cenderung menurun, sementara daya tahan tubuh bisa melemah
Vaksinolog dan internis sekaligus Chief Medical Advisor Imuni, dr. Dirga Sakti Rambe, mengatakan bahwa vaksin tidak melulu hanya diberikan untuk anak-anak.
Tingginya mobilitas masyarakat, terutama pada momen libur lebaran, menjadi salah satu faktor risiko yang patut diwaspadai orangtua mengenai risiko campak pada anak.
Waktu ideal untuk pemberian vaksinasi adalah minimal 14 hari atau dua pekan sebelum keberangkatan guna memastikan perlindungan optimal selama liburan.
Dokter mengingatkan orang tua untuk melengkapi imunisasi anak minimal dua pekan sebelum mudik Lebaran.
Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (CDC) Amerika Serikat melaporkan peningkatan signifikan dalam jumlah kasus campak (measles) pada awal tahun 2026.
Malaria masih menjadi masalah kesehatan global yang kompleks akibat imunitas parsial, pembawa asimtomatik, dan resistensi insektisida.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved