Headline
Taksiran kerugian itu belum yang diderita masyarakat, termasuk para pelaku usaha.
Taksiran kerugian itu belum yang diderita masyarakat, termasuk para pelaku usaha.
Kumpulan Berita DPR RI
Sebuah studi dari Tata-Cornell Institute for Agriculture and Nutrition (TCI) mengungkapkan jeda kelahiran yang tepat dapat membantu mengurangi kemungkinan stunting pada anak-anak.
Dalam sebuah artikel yang diterbitkan dalam Prosiding National Academy of Sciences of the United States of America, TCI postdoctoral associate Sunaina Dhingra menemukan bahwa perbedaan tinggi badan antara anak sulung dan anak yang baru lahir mungkin disebabkan oleh jeda waktu kelahiran yang tidak telat.
Menurutnya, jeda waktu kelahiran yang tepat untuk mencegah terjadinya stunting adalah tiga tahun.
Studi TCI menunjukkan bahwa menempatkan fokus yang lebih besar pada jarak kelahiran yang memadai dalam kebijakan gizi ibu dan anak serta program kesehatan masyarakat dapat membantu mencegah stunting.
"Penelitian kami menunjukkan bahwa jarak kelahiran yang memadai dapat secara signifikan menurunkan stunting dan berbagai efek buruk yang ditimbulkannya. Pembuat kebijakan harus memastikan bahwa program keluarga berencana menekankan pentingnya memberikan waktu yang cukup di antara kehamilan, selain mengurangi jumlah kelahiran dan menunda kehamilan pertama," jelas Sunaina Dhingra.
Sebagai penanda kekurangan gizi kronis, selain tinggi badan yang rendah, stunting membuat anak-anak rentan terhadap penyakit dan berisiko memiliki kemampuan kognitif yang lebih rendah.
Di antara penyebab stunting yang diketahui adalah kemiskinan, gizi kurang, pola makan yang buruk, kesehatan ibu yang buruk selama kehamilan dan menyusui, kehamilan remaja, lingkungan penyakit yang buruk, dan sering sakit.
Bukti yang cukup besar juga menunjukkan bahwa urutan kelahiran mempengaruhi stunting, dengan risiko yang lebih tinggi pada anak yang lahir setelah anak pertama.
Dhingra memastikan jeda waktu antara kehamilan memengaruhi kesehatan ibu dan anak dalam beberapa hal. Setelah persalinan, tubuh ibu membutuhkan waktu untuk mengisi kembali mikronutrien kunci. Jadi, hamil lagi terlalu cepat dapat mengurangi nutrisi yang tersedia untuk janin dan membatasi produksi ASI.
Memiliki anak yang terlalu berdekatan juga bisa mempersulit sebagian orang tua untuk mencurahkan waktu dan sumber daya yang cukup untuk setiap anak.
Fokus entitas adalah pada pemberdayaan, baik melalui peningkatan kemampuan komunikasi strategis maupun melalui dukungan emosional dan edukasi bagi perempuan.
Pernyataan itu juga menyampaikan bahwa KJRI Jeddah turut memfasilitasi pemulangan satu WNI dengan kondisi lumpuh akibat sakit ke Indonesia.
Lestari Moerdijat mendorong penguatan peran perempuan sebagai bagian dari langkah strategis pelestarian budaya nasional.
Perempuan pascamenopause menghadapi berbagai tantangan kesehatan, mulai dari penurunan kepadatan tulang hingga melemahnya sistem imun.
Ketua Umum Kadin DKI Jakarta, Diana Dewi, meraih penghargaan Tokoh Perempuan Penggerak Ekonomi dan UMKM.
Kanker serviks masih menjadi ancaman serius bagi kesehatan perempuan Indonesia.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved