Rabu 27 Januari 2021, 07:12 WIB

Menguak Rahasia Kehidupan Lewat Lukisan Wayan Apel Hendrawan

Mediaindonesia.com | Weekend
Menguak Rahasia Kehidupan Lewat Lukisan Wayan Apel Hendrawan

Dok Galeri Zen1
Sang Diri, lukisan karya Wayan Apel Hendrawan dipamerkan di Galeri Zen1 Tuban, Kuta, Bali, mulai hari ini, Rabu (27/1/2021)

SENIMAN Wayan 'Apel' Hendrawan (46) menggelar pameran tunggal kelimanya yang bertajuk Into the Secret of Cosmic Energy di Galeri Zen1, Tuban, Kuta, Bali, mulai hari ini Rabu 27 Januari hingga 9 Februari 2021. Di tengah pandemi covid-19, Wayan Apel Hendrawan justru produktif dan tetap berkarya sekaligus memamerkan karya lukisannya kepada publik.

Sebanyak 12 karya berciri khas spiritualisme Bali ditampilkan dalam pameran tersebut. Ia mulai mengerjakan semua lukian sejak awal 2020 untuk dipamerkan pada hari ini secara luring.

Seniman sekaligus pendeta (pemangku) di Bali ini menjelaskan tema Into the Secret of Cosmic Energy dipilih  untuk menggambarkan isi dari kekuatan, karakteristik diri manusia dan alam semesta (Bhuana Alit dan Bhuana Agung) yang banyak menyimpan rahasia indah. Jauh di atas itu juga tentang kemahakuasaan Tuhan. Hal tersebut kemudian yang mengilhami Jro Apel, sapaan akrabnya untuk memilih tema berbau kosmis ini.

"Sebelum saya mengambil tema figur wanita dengan mata terpejam, dan seiring berjalannya waktu bergeser ke bentuk kosmik seperti figur dewata, alam, dan binatang. Tapi, dengan tidak meninggalkan ciri khas seperti guratan-guratan atau aksen aksara Bali (rerajahan)," ungkap Jro Apel yang gemar melukis sejak kelas 4 SD itu.

Lukisan Jro Apel cenderung bergaya ekspresionis dengan ciri khas penggunaan aksara Bali sebagai aksennya. Ia mengaku tugasnya sebagai pemangku yang digelutinya sejak 2008 itu cukup mempengaruhi periode gaya melukisnya yang kini bergeser ke arah spiritualis.

"Mungkin tugas di spiritual ini tanpa disadari memengaruhi juga seperti mengalir saja. Dan tema alam mungkin karena saya ikut beberapa tahun kebelakang ini banyak di kegiatan aktivis lingkungan," imbuh Jro Apel yang juga menekuni seni patung dan tattoo itu.

Sementara itu, Arif Bagus Prasetyo, kurator seni rupa didapuk untuk menguratori karya-karya yang akan dipamerkan Jro Apel. Terpilihlah sekitar 12 karya dengan kisaran dimensi 100 hingga 300 cm. Dalam esai yang ditulisnya, Arif menjabarkan banyak hal yang ditemuinya dalam seni lukis Wayan Apel Hendrawan. Salah satunya mengenai hal mencengangkan semacam kebetulan atau takdir yang seperti diramalkan Jro Apel melalui karya-karyanya.

"Beberapa tahun silam, Apel tergerak melukis gunung meletus. Ketika lukisan itu dipamerkan di Jerman, Gunung Agung meletus. Kemudian, awal tahun lalu, Apel terdorong membuat ogoh-ogoh Sang Hyang Penyalin yang diyakini sebagai simbol penolak bala. Tidak lama kemudian, pagebluk Covid-19 melanda dunia. Mungkin dua kejadian itu kebetulan belaka, mungkin tidak," tulis Arif di salah satu alinea akhir esainya.

baca juga: Roadtrip dan Staycation Diprediksi jadi Primadona di 2021

Sebelum menjadi seperti sekarang, kehidupan Jro Apel penuh gejolak. Perjalanan hidupnya diabadikan di sebuah buku bertajuk Resurrection yang ditulis oleh Richard Hortsman dan Wayan Seriyoga Parta. Seniman yang tinggal di Sanur ini juga telah menggelar empat pameran tunggal, di antaranya, di Gabrig Gallery, Miami (1989), Resurrection From Darkness into Light di Santrian Gallery, Sanur (2013), Resurrection II serangkaian APEC di Nusa Dua Beach Hotel (2013), dan Resurrection III Sabda Pertiwi di Messehale, Hamburg, Jerman (2017). (OL-3)


 

Baca Juga

Ist

Start-up Lokal Ini Padukan Kopi dan Ayam Goreng

👤mediaindonesia.com 🕔Kamis 25 Februari 2021, 22:00 WIB
Ayam goreng merupakan salah satu  makanan yang paling disukai masyarakat...
Daniel ROLAND / AFP

Berburu jadi Gaya Hidup Baru Generasi Muda di Jerman

👤Adiyanto 🕔Kamis 25 Februari 2021, 16:30 WIB
Lisensi berburu kini semakin populer di Jerman, negara yang mayoritas penduduknya gemar mengonsumsi...
Unsplash/ Jason Leung

Koi Tertua di Dunia Diperkirakan Berusia 226 Tahun

👤Galih Agus Saputra 🕔Kamis 25 Februari 2021, 14:45 WIB
Ikan bernama Hanako itu mati pada 1977 dan usianya diyakini masih yang terpanjang hingga saat...

E-Paper Media Indonesia

Baca E-Paper

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya