Headline
Ada kelompok yang nyaman dengan kelakuan lama, ingin intervensi meski tak lagi berkuasa.
Ada kelompok yang nyaman dengan kelakuan lama, ingin intervensi meski tak lagi berkuasa.
Kumpulan Berita DPR RI
Upaya untuk membatasi jarak sosial dan fisik di masa pandemi korona memang diapresiasi oleh banyak pihak, khususnya kalangan ilmuwan kesehatan masyarakat. Akan tetapi, rupanya tak sedikit pula dari mereka yang mewanti-wanti agar masyarakat tetap menjaga kesehatan, terlebih yang berhubungan dengan pola makan harian.
Pakar Epidemiologi, Mailman School of Public Health, Columbia University, Amerika Serikat, Andrew Rundle dalam sebuah risalah yang terbit di jurnal 'Obesity Society' menjelaskan bahwa banyaknya waktu di rumah berpotensi menaikan berat badan pada seseorang.
"Mungkin ada konsekuensi jangka panjang untuk kenaikan berat badan saat anak-anak libur sekolah. Ketika seorang mengalami obesitas di usia muda, kemungkinan risiko tidak sehat akan ditanggung hingga usia pertengahan," tuturnya, seperti dilansir Sciencedaily.
Meski begitu, Andrew menjelaskan bahwa banyaknya waktu di rumah bukanlah faktor tunggal dalam masalah obesitas. Sebab, selama ini juga banyak anak di AS yang mengalami persoalan serupa di saat masih aktif sekolah. Jenis makanan dan intesitas kegiatan fisik juga menjadi bahan pertimbangan ketika berbicara masalah berat badan.
Aktivitas fisik menjadi tantangan yang cukup kompleks selama masa pembatasan jarak fisik dan sosial. Pada satu sisi, sesorang membutuhkan hal tersebut, namun di sisi lain ia juga harus menjaga higienitas dengan menghindari sentuhan atau waspada menggunakan fasilitas publik. Maka dari itu, lanjut Andrew, tidak mengherankan jika saat ini statistik juga terlihat meningkat berkenaan dengan durasi penggunaan video gim, hingga televisi.
"Pandemi Covid-19 telah menyebabkan penyakit dan kematian yang meluas, memberatkan sistem perawatan kesehatan, mematikan sistem ekonomi, dan menutup sekolah. Walaupun ini (pembatasan jarak -red) merupakan prioritas untuk mengurangi dampak langsung, penting juga mempertimbangkan strategi pencegahan dampak jangka panjang, tak terkecuali obesitas di masa kecil," imbuhnya. (ScienceDaily/M-2)
Vaksin penguat atau booster Covid-19 masih diperlukan karena virus dapat bertahan selama 50-100 tahun dalam tubuh hewan.
ORGANISASI Kesehatan Dunia (WHO) baru-baru ini mencatatkan jumlah kasus covid-19 secara global mengalami peningkatan 52% dari periode 20 November hingga 17 Desember 2023.
PJ Bupati Majalengka Dedi Supandi meminta masyarakat untuk mewaspadai penyebaran Covid-19. Pengetatan protokol kesehatan (prokes) menjadi keharusan.
PEMERINTAH Palu, Sulawesi Tengah, mengimbau warga tetap waspada dan selalu disiplin menerapkan protokol kesehatan menyusul dua kasus positif covid-19 ditemukan di kota itu.
ORGANISASI Kesehatan Dunia (WHO) mengklasifikasikan jenis virus covid-19 varian JN.1 sebagai VOI atau 'varian yang menarik'.
DINAS Kesehatan (Dinkes) Batam mengonfirmasi bahwa telah terdapat 9 kasus baru terpapar Covid-19 di kota tersebut,
Setelah diproduksi, minyak mentah bagian milik negara harus diserahkan kepada Pertamina.
Secara sederhana, zoonosis adalah penyakit infeksi yang ditularkan dari hewan vertebrata ke manusia.
Berikut adalah analisis mendalam mengenai perbedaan Virus Nipah dan COVID-19 berdasarkan data medis dan epidemiologi terkini.
DIREKTUR Pascasarjana Universitas YARSI, Prof Tjandra Yoga Aditama, menjelaskan potensi influenza A (H3N2) subclade K atau Super Flu menjadi pandemi tergantung dari 3 faktor.
Peneliti simulasi wabah H5N1 pada manusia. Hasilnya, hanya ada jendela waktu sangat sempit untuk mencegah pandemi sebelum penyebaran tak terkendali.
ANCAMAN kesehatan global kembali muncul dari Tiongkok. Setelah virus corona yang menyebabkan pandemi covid-19, kali ini virus baru influenza D (IDV) ditemukan.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved