Headline

Pada perdagangan kemarin, rupiah menguat tipis dan ditutup di level Rp16.936 per dolar AS.

Kompleksitas dalam Satu Seduhan

Rizky Noor Alam [email protected]
07/4/2019 05:00
 Kompleksitas dalam Satu Seduhan
Teh(MI/SUSANTO)

DEWASA ini, teh telah menjadi minuman sehari-hari bagi banyak orang di Indonesia. Mulai minuman teh kemasan sampai teh seduhan sendiri. Bagi para pencinta teh, meminumnya menjadi seni tersendiri. Mulai memilih daun teh, menyeduh, sampai menyiapkan wadah dan meneguknya.

Media Indonesia, pada Rabu (27/3), menyimak langsung seluk-beluk meminum teh, langsung dari pakarnya, Ratna Somantri.

Siang itu, sekitar pukul 13.30 WIB, Media Indonesia dan sejumlah orang lain berkumpul di suatu ruang kerja bersama (coworking space) di kawasan Senayan, Jakarta. Di meja, sudah tertata beraneka macam teh, lengkap dengan pelbagai perlengkapannya, seperti teko-teko yang terbuat dari kaca, keramik, bahkan tanah liat.

Ratna memulai kelas tersebut dengan menjelaskan konsep teh. Teh ialah minuman yang berasal dari seduhan daun teh. Minuman yang berasal dari seduhan bahan-bahan lain selain daun teh, ujarnya, bukanlah teh, melainkan tisane atau infusion.

Ia kemudian menjabarkan berbagai varian teh, mulai white tea, green tea, oolong tea, black tea, hingga dark tea. Setiap jenis punya cara penyeduhan masing-masing. Demikian pula material wadah yang digunakan, suhu, jenis, dan kualitas air, hingga lama penyeduhan. Semua faktor penyeduhan tersebut punya peran dalam menciptakan keunikan rasa masing-masing teh.

"Agar hasil seduhan maksimal, yang pertama memengaruhi ialah kualitas daun teh yang digunakan. Kemudian, peralatan dan material. Air juga penting, seperti suhu air, dan air apa yang kita gunakan, apakah air keran, air mineral. Begitu pula rasio teh terhadap air, berapa banyak teh yang digunakan, ukuran teko, dan waktu seduh. Semua itu penting sekali," jelas perempuan dengan gaya tutur halus tersebut.

Soal menyeduh, ada dua teknik yang lazim dipakai, yaitu secara modern atau tradisional, yang dikenal dengan istilah gongfu cha.

Untuk cara modern, biasanya penyeduhan dilakukan dengan material dari metal. Untuk mendapatkan hasil optimal seduhan teh hijau dengan cara modern, misalnya, yang diperlukan ialah 2,5 gram teh dengan jumlah air 250 mililiter bersuhu 70-80 derajat celsius, dan diseduh selama kurang lebih 3 menit.

Dengan teknik gongfu cha, teko yang dipakai terbuat dari keramik. Untuk penyeduhan teh hijau, komposisi idealnya ialah 5 gram daun teh hijau yang dibilas lebih dulu, 150 ml air dengan suhu 70-80 derajat celsius, dan waktu penyeduhan 30-60 detik.

"Kebanyakan orang menyeduh teh itu dibiarkan terus-menerus sehingga seduhan tehnya menjadi terlalu pekat. Padahal, waktu seduh itu sangat menentukan hasil seduhan nantinya kalau ingin tehnya enak dan khasiatnya maksimal," papar Ratna.

Lalu, lanjutnya, teh hijau jangan diseduh dengan air mendidih. Jika tidak ada termometer, diamkan sesaat air yang telah mendidih sebelum dipakai untuk menyeduh. "Kalau terlalu panas, nanti tehnya menjadi terlalu pahit," kata dia.

Wadah netral

Saat ini terdapat bermacam-macam peralatan membuat teh di pasaran. Mana yang disarankan Ratna?

"Kalau mempraktikkan di rumah, saya sarankan pakai wadah keramik atau kaca, yang bisa didapatkan dengan mudah di mana saja untuk peralatan tekonya," ujarnya.

Kedua material tersebut bersifat 'netral', memungkinkan rasa teh terjaga keautentikannya. Berbeda dengan, umpama, wadah teh dari metal, atau dari tanah liat. Wadah metal dapat merusak cita rasa teh karena menimbulkan sensasi semacam rasa pahit di lidah. Sementara itu, tanah liat yang berpori cenderung memerangkap rasa dan aroma dalam waktu lama. Alhasil, jika suatu wadah tanah liat sudah untuk menyeduh teh jenis tertentu, akan lebih baik jika seterusnya dipakai dengah teh yang sama.

Ratna juga mengingatkan lagi untuk tidak membiarkan daun teh terendam air terlalu lama. Jika teko yang dipakai tidak memiliki saringan, teh yang sudah diseduh harus langsung dituang ke gelas atau cangkir.

Ia pun menyarankan penggunaan cangkir yang bermulut tipis nan lebar agar saat diminum, air teh akan mengenai lidah bagian depan lebih dahulu sebelum menyebar ke seluruh bagian dalam mulut.

Salah satu peserta, Jessica, 23, mengatakan dirinya menikmati wawasan baru yang ia peroleh. "Ternyata teh itu banyak macamnya. Beda takaran air, beda suhu, beda rasio teh itu rasanya bisa macam-macam. Yang tadinya saya rasa tehnya tidak enak, tapi ketika diseduhnya pas, rasanya bisa enak. Dari sini belajar penyeduhan dan ternyata itu sangat penting padahal kita biasanya buat hanya tuang air panas tanpa dipikirkan konsep teorinya dan ternyata sedetail ini dan tidak kalah susah dengan kopi," ungkap Jessica. (M-2)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Triwinarno
Berita Lainnya