Headline
Diskoneksi antara tren rupiah dan IHSG dipengaruhi kredibilitas kebijakan makro.
Diskoneksi antara tren rupiah dan IHSG dipengaruhi kredibilitas kebijakan makro.
Kumpulan Berita DPR RI
Bagi remaja belasan tahun, ponsel adalah kehidupan. Mereka enggan terpisah dengan ponsel meski sebentar. Aktivitas mereka lebih banyak bersifat hiburan seperti Instagram dibandingkan mengakses informasi.
Tren itu terjadi pada hampir seluruh anak usia remaja. Menurut organisasi nirlaba MediaSmarts yang fokus pada literasi, lebih dari separuh anak berusia 10-13 tahun memiliki ponsel pintar. Organisasi yang berbasis di Kanada itu mengungkap jumlah kepemilikan ponsel pintar akan semakin meningkat seiring bertambahnya usia mereka.
Survei yang dilakukan Common Sense Media di Amerika Serikat, 47% orangtua di AS berpikir anak mereka kecanduan perangkat seluler.
Ponsel pintar memang punya banyak fitur dan layanan yang mengasyikkan. Tidak mengejutkan jika banyak orangtua menganggap kecanduan ponsel pintar sebagai sumber konflik antara orangtua dan anak.
Layaknya orangtua yang peduli terhadap tumbuh kembang anak, pasti akan miris dengan perilaku tersebut. Sayangnya, sebagian orangtua cenderung reaktif. Mereka mengomel dan membentak saat melihat anak menghabiskan waktu dengan ponsel pintar.
Berikut cara berkomunikasi dengan anak tanpa membentak mereka.
Jadikan Ponsel sebagai Perhatian Bersama
Menyuruh anak berpisah dengan ponsel sama sulitnya dengan meminta orangtua tidak mengangkat telepon. Keduanya sama-sama penasaran.
Kabar baik selalu layak ditunggu, meski kedatangannya belum dapat dipastikan. Rasa penasaran itu yang membangkitkan gairah ketika ada pemberitahuan. Fenomena itu dikenal dengan istilah respon intermiten.
"Respon intermiten itulah yang membuatnya begitu membentuk kebiasaan," kata direktur pendidikan MediaSmarts Matthew Johnson sebagaimana dilansir Todaysparent.
Orangtua dapat berbicara tentang bagaimana mereka mematikan pemberitahuan guna menghentikan kebiasaan itu. Orangtua bisa menunjukkan cara agar tidak terpaku dengan ponsel mereka.
Hindari menjelekkan teknologi
"Orangtua harus tahu bahwa anak-anak menyukai media. Semua orang suka media. Jadi, jika orangtua bersikap negatif, anak-anak akan mengabaikan," tambah Johnson.
Daripada menghina teknologi, mending bicara tentang manfaat ponsel. Lalu tunjukkan manfaat lain ketika tidak bersama ponsel, misalnya bergaul dan bermain bersama teman.
"Kasih mereka masukkan bahwa hal itu bisa berdampak negatif pada sisi lain kehidupan mereka," kata Johnson.
Perlu juga menunjukkan cara cepat bermedia sosial. Misalnya cara cepat memberi ikon suka pada unggahan teman.
Baca juga : Optimalkan Periode Emas Tumbuh Kembang Anak
Buat Kesepakatan Bersama
Orangtua bisa berdiskusi menentukan waktu bagi anak-anak bisa berponsel, begitu pula zona tanpa ponsel. Semua anggota keluarga wajib mematuhi kesepakatan bersama itu.
"Orangtua harus menjadi panutan. Anak-anak meniru kebiasaan berponsel dari orang dewasa," terang salah satu pendiri Parenting Power, Gail Bell.
Gunakan Argumen Berbasis Fakta dan Riset
Argumen berbasis bukti ilmiah ternyata tidak selalu efektif. Argumen ketergantungan ponsel bisa mengganggu perkembangan remaja dapat dengan mudah dipatahkan oleh mereka. Pilihlah argumen yang tepat seperti terlalu lama menatap layar ponsel sebelum tidur bisa mengurangi kualitas tidur. (M-3)
TREN warna personal (personal color) semakin populer di kalangan gen Z sebagai cara mengekspresikan gaya. Kini preferensi warna tersebut juga bisa diterapkan pada gadget (gawai).
Meski waktu ideal bermain gawai untuk kebutuhan hiburan maksimal dua jam per hari, kenyataannya banyak anak dan remaja tetap mencari celah untuk melanggarnya.
Hands-on play melatih kemampuan memecahkan masalah, mengasah fokus, dan memicu imajinasi, hal-hal yang sering terabaikan saat melakukan screen time berlebihan.
Lingkungan yang mendukung untuk interaksi hangat yang dimaksud ialah saat interaksi berlangsung, orangtua tidak memberikan tekanan bahwa anak harus bercerita tentang kehidupannya.
Jika sebelumnya seorang kreator membutuhkan perangkat kamera profesional, kini seluruh kebutuhan dokumentasi dapat dilakukan hanya melalui ponsel.
ANGGOTA Komisi E DPRD DKI Jakarta Abdul Aziz menilai penggunaan gawai (gadget) tak baik jika dijadikan alat utama pembalajaran untuk anak sekolah di jenjang SD, SMP maupun SMA.
WHO menyebut lebih dari 100 juta orang kini menggunakan rokok elektrik termasuk sedikitnya 15 juta anak usia 13–15 tahun.
Orang dengan trauma membutuhkan suatu pelampiasan yang bisa membuatnya senang dengan intensitas yang besar, maka itu mereka lebih mudah kecanduan.
"Pengguna bisa jadi terdorong oleh penawaran reward. Apalagi orang lebih suka apabila mendapatkan reward daripada punishment,”
Dalam wawancara dengan Time yang terbit Sabtu (14/12), Elton yang pernah kecanduan selama 20 tahun menyebut konsumsi marijuana akan mengarahkan pada obat-obatan lain.
Mereka harus melakukan detoksifikasi, yaitu dengan menghindarkan diri dari permainan judi online tersebut, minimal selama tiga minggu,"
Judi online semakin menjadi fenomena yang meresahkan masyarakat Indonesia. Dalam beberapa waktu terakhir, masalah ini terkait erat dengan adiksi yang semakin meluas.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved