Headline
Tanpa kejelasan, DPR bisa ganti hakim yang telah dipilih.
Tanpa kejelasan, DPR bisa ganti hakim yang telah dipilih.
Kumpulan Berita DPR RI
KEBIJAKAN pengelola Museum Nasional Indonesia (MNI) yang menaikkan harga tiket masuk secara signifikan per 1 Januari 2026 menuai kritik tajam. Kebijakan ini dinilai dapat menghambat akses masyarakat terhadap pengetahuan dan menurunkan minat wisata edukasi yang saat ini masih tergolong rendah.
Pegiat pendidikan dari Sanggar Askala Edukasi, Nurfahmi Budi, mendesak pihak pengelola agar lebih transparan dalam menjelaskan alasan di balik keputusan tersebut.
Menurutnya, publik berhak mengetahui latar belakang kuat yang mendasari lonjakan harga tiket yang dirasa cukup mahal tersebut.
"Masyarakat perlu mengetahui apa latar belakang kuat dinaikkannya harga tiket masuk yang mahal ke Museum Nasional. Jangan sekadar berdalih peningkatan mutu layanan," ujar Nurfahmi dalam keterangan resminya di Jakarta, Sabtu.
Nurfahmi menekankan bahwa sebagai lembaga yang dikelola pemerintah, Museum Nasional mengemban tanggung jawab moral untuk mempermudah akses pendidikan bagi warga negara.
Ia menyayangkan kenaikan harga yang mencapai dua kali lipat tersebut karena dianggap dilakukan tanpa pertimbangan yang matang.
Lebih lanjut, ia mengingatkan bahwa Museum Nasional tidak boleh bertindak layaknya institusi swasta yang berorientasi pada keuntungan semata.
Mengingat statusnya sebagai aset negara, alasan perbaikan layanan seharusnya dapat dipenuhi melalui alokasi APBN, bukan dengan membebankan biaya tinggi kepada pengunjung.
"Sudah pasti ada ketersediaan anggarannya dari negara karena Museum Nasional punya pemerintah. Jadi alasan perbaikan layanan bisa dialokasikan dari anggaran negara. Dengan begitu masyarakat tidak harus mahal untuk berkunjung belajar ke museum," tegas Pendiri Sanggar Askala Edukasi tersebut.
Nada serupa juga datang dari kalangan guru. Kartini, seorang guru asal Bekasi, Jawa Barat, mengeluhkan dampak kenaikan tarif ini terhadap kegiatan belajar-mengajar di luar sekolah. Ia khawatir anggaran yang harus dikeluarkan siswa untuk melakukan kunjungan studi akan membengkak drastis.
Keresahan ini sangat beralasan jika melihat struktur tarif baru yang diterapkan. Berdasarkan data yang dihimpun, kelompok pelajar yang sebelumnya mendapatkan akses cuma-cuma, kini dibebankan biaya yang cukup terasa bagi kantong pelajar.
Berikut adalah rincian perbandingan tarif tiket Museum Nasional sebelum dan sesudah 1 Januari 2026:
Kenaikan tarif ini menjadi tantangan baru bagi dunia pendidikan di awal tahun 2026, di tengah upaya pemerintah mendorong literasi sejarah melalui museum. (Ant/Z-1)
Target ini disertai dengan fokus pada kualitas kunjungan, melalui penguatan kurasi pameran, program edukasi, serta peningkatan kenyamanan pengunjung.
KEBIJAKAN kenaikan harga tiket masuk Museum Nasional Indonesia mendapat kritikan tajam Sejarawan Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Universitas Airlangga (UNAIR), Edy Budi Santoso.
GURU besar ilmu sejarah Universitas Indonesia, Anhar Gonggong, menilai kenaikkan harga tiket masuk Museum Nasional terutama untuk pelajar sangat berat dan bisa membatasi siswa untuk belajar.
Kebijakan kenaikan tersebut perlu diimbangi dengan peningkatan pelayanan, perawatan, pengamanan koleksi, pemeliharaan, dan penambahan koleksi
Selama pengelola museum masih menerima dana dari APBN, masyarakat tidak seharusnya dibebani biaya tinggi untuk mengakses fasilitas negara.
Kenaikan tarif Museum Nasional dari sebelumnya yang sebesar Rp25.000 merupakan langkah krusial untuk memenuhi standar pemeliharaan internasional.
MNI tengah menyiapkan alih fungsi auditorium pada basement gedung jadi masjid. Fasilitas ibadah itu ditargetkan dapat digunakan pada akhir Januari 2026.
Selama pengelola museum masih menerima dana dari APBN, masyarakat tidak seharusnya dibebani biaya tinggi untuk mengakses fasilitas negara.
Gol A Gong menilai kebijakan pengelola Museum Nasional Indonesia (MNI) yang menaikkan harga tiket masuk bisa membebankan pengunjung.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved