Headline
Sekitar 50% anak pengguna internet pernah terpapar konten seksual di medsos.
Sekitar 50% anak pengguna internet pernah terpapar konten seksual di medsos.
Kumpulan Berita DPR RI
PLATFORM Google kini menghadapi gugatan hukum serius di California Utara terkait fitur kecerdasan buatan (AI) miliknya. Google dituding menghasilkan dan membocorkan informasi kontak pribadi para korban Jeffrey Epstein, sebuah langkah yang memicu perdebatan panas mengenai tanggung jawab moral dan hukum perusahaan teknologi.
Laporan The Tech Buzz pada Jumat (27/3 menyebutkan bahwa kasus ini menjadi sorotan utama dalam isu perlindungan data. Gugatan ini mempertanyakan apakah perusahaan teknologi dapat dimintai pertanggungjawaban ketika algoritme mereka menampilkan informasi sensitif yang seharusnya tetap privat.
Bagi para korban yang telah lama berjuang menjaga anonimitas dari skandal pelecehan seksual tersebut, dugaan kebocoran ini dianggap sebagai pelanggaran privasi yang fatal. Gugatan menyatakan bahwa fitur AI Google secara otomatis menghasilkan informasi kontak para korban, yang berpotensi memicu pelecehan baru, sorotan media yang tidak diinginkan, hingga trauma tambahan.
Menariknya, pengaduan ini tidak hanya menyeret Google, tetapi juga mencantumkan pemerintahan Trump sebagai tergugat. Hal ini mengindikasikan adanya dugaan pengelolaan data yang keliru pada beberapa lapisan, termasuk kemungkinan keterlibatan catatan pemerintah atau dokumen resmi yang membuat informasi sensitif tersebut dapat diakses oleh sistem AI.
Kasus ini mencuat di tengah persaingan ketat perusahaan teknologi dalam meluncurkan AI generatif, seperti AI Overviews dan Search Generative Experience milik Google. Meski menjanjikan jawaban instan, para kritikus telah lama memperingatkan risiko sistem ini dalam "menghalusinasi" informasi palsu atau justru menampilkan data privat.
Sistem AI tersebut dilatih menggunakan dataset masif dari internet, yang diduga mencakup dokumen bocor, catatan pengadilan, atau basis data yang tidak aman. Bagi korban Epstein, keberadaan data tersebut dalam sistem AI dianggap sebagai kegagalan total dalam perlindungan data.
Hingga saat ini, Google belum memberikan komentar publik terkait tuduhan spesifik tersebut. Meski Google mengklaim sistem mereka memiliki filter untuk mencegah konten berbahaya dan informasi pribadi, gugatan ini menunjukkan bahwa filter tersebut gagal berfungsi sebagaimana mestinya.
Para ahli hukum menilai kasus ini akan menjadi preseden penting bagi masa depan AI. Pertanyaan besarnya adalah: apakah perusahaan teknologi bertanggung jawab secara hukum atas informasi yang dihasilkan AI-nya, meskipun data tersebut diambil dari internet terbuka?
Jika pengadilan memenangkan penggugat, kasus ini dapat memaksa industri teknologi untuk merombak total pendekatan mereka terhadap privasi data dan keamanan model AI. Bagi para korban yang terjebak di tengah inovasi teknologi, kejelasan hukum ini menjadi harapan terakhir untuk mendapatkan keadilan privasi.
(Ant/P-4)
Penyerang memanfaatkan domain email resmi `@google.com` dan sistem notifikasi tepercaya untuk melewati filter keamanan email tradisional.
Google uji coba aplikasi Gemini untuk Mac dengan fitur Desktop Intelligence. Siap saingi ChatGPT & Claude di macOS dengan integrasi layar real-time.
Mahkamah Agung (MA) resmi menolak kasasi Google LLC. Google wajib bayar denda Rp202,5 Miliar terkait monopoli Google Play Billing System di Indonesia.
Kementerian Pekerjaan Umum (PU) menggandeng Google untuk menghadirkan layanan informasi posko mudik langsung di Google Maps.
Google Pixel 10a hadir dengan layar 3.000 nits, fitur Satellite SOS, dan update Android 7 tahun. Cek spesifikasi dan harga terbaru Rp8 jutaan di sini!
Keamanan data dan kepatuhan terhadap regulasi seperti UU PDP bukan hanya kewajiban hukum, tetapi juga fondasi penting untuk membangun kepercayaan dalam ekosistem digital
Sebagian besar kebocoran data tidak hanya disebabkan oleh celah sistem, tetapi juga oleh kelalaian individu.
Kementerian Komunikasi dan Digital menegaskan tautan cek penerima BSU yang beredar di media sosial adalah palsu dan berpotensi mencuri data pribadi.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved