Headline

YLKI mengultimatum pemerintah agar melakukan tindakan korektif yang nyata.

Alphabet Incar Dana Segar Rp315 Triliun untuk AI Google di Tengah Bayang-Bayang Risiko Investasi

Thalatie K Yani
10/2/2026 08:05
Alphabet Incar Dana Segar Rp315 Triliun untuk AI Google di Tengah Bayang-Bayang Risiko Investasi
CEO Alphabet, Sundar Pichai(Media Sosial X)

RAKSASA teknologi Alphabet Inc., induk perusahaan Google, kembali memasuki pasar utang untuk mendanai ambisi besarnya di bidang Kecerdasan Buatan (AI). Di balik langkah agresif ini, perusahaan mulai mengakui adanya risiko baru yang membayangi stabilitas keuangan dan bisnis inti mereka.

Dalam laporan keuangan tahunan terbarunya, Alphabet menyoroti potensi dampak AI terhadap bisnis periklanan inti mereka. Perusahaan juga mencemaskan kemungkinan terjadinya "kapasitas berlebih" akibat investasi infrastruktur yang sangat mahal.

"Untuk memenuhi permintaan kapasitas komputasi pelatihan dan inferensi AI, serta layanan komputasi awan tradisional, kami menjalin perjanjian sewa yang signifikan dengan operator pihak ketiga, yang dapat meningkatkan biaya dan kompleksitas operasional," ungkap perusahaan dalam dokumen resmi kepada SEC.

Investasi Jumbo dan Penjualan Obligasi

Tahun ini, Alphabet memproyeksikan belanja modal (capex) hingga angka fantastis sebesar US$185 miliar  (sekitar Rp2.915 triliun). Angka ini meningkat lebih dari dua kali lipat dibandingkan belanja modal tahun 2025.

Untuk membiayai ambisi tersebut, Alphabet berencana menggalang dana sebesar US$20 miliar (sekitar Rp315 triliun) melalui penjualan obligasi dalam mata uang dolar AS. Penjualan ini dilaporkan terbagi dalam empat tahap, termasuk penawaran obligasi berdurasi 100 tahun dalam mata uang poundsterling. Minat pasar dikabarkan sangat tinggi, dengan permintaan yang mencapai lima kali lipat dari nilai yang ditawarkan.

CFO Alphabet, Anat Ashkenazi, menegaskan pentingnya keseimbangan dalam ekspansi ini.

"Kami ingin memastikan kami melakukannya dengan cara yang bertanggung jawab secara fiskal, dan kami berinvestasi dengan tepat, namun melakukannya dengan cara yang mempertahankan posisi keuangan yang sangat sehat bagi organisasi," ujarnya.

Tantangan Infrastruktur dan Bisnis Iklan

CEO Alphabet, Sundar Pichai, mengakui pemenuhan infrastruktur adalah tantangan terbesar saat ini. Ketika ditanya mengenai apa yang paling mengkhawatirkan para eksekutif, Pichai menjawab singkat, "kapasitas komputasi."

"Tenaga listrik, lahan, kendala rantai pasokan, bagaimana Anda meningkatkan kapasitas untuk memenuhi permintaan yang luar biasa pada saat ini?" tambah Pichai.

Meskipun aplikasi AI Gemini kini telah menjangkau lebih dari 750 juta pengguna aktif bulanan, tantangan nyata justru datang dari perilaku konsumen. Dengan adopsi AI generatif, Google menghadapi risiko penurunan penggunaan mesin pencari tradisional, yang berpotensi mengganggu dominasi bisnis iklan mereka.

Dalam laporan risikonya, Google mengakui tidak ada jaminan strategi iklan baru mereka akan sukses menghadapi pergeseran tren ini. Sejauh ini, Google masih mampu menepis kekhawatiran tersebut dengan mencatatkan kenaikan pendapatan iklan sebesar 13,5% menjadi US$82,28 miliar pada kuartal keempat. Namun, dengan utang jangka panjang yang melonjak empat kali lipat menjadi 46,5 miliar dolar AS pada tahun 2025, Alphabet kini berada di persimpangan jalan antara inovasi masa depan dan keberlanjutan finansial. (CNBC/Z-2)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Thalatie Yani
Berita Lainnya