Headline

BEI sempat hentikan sementara perdagangan karena IHSG terkoreksi 8%.

Menjaga Produktivitas di Era Kerja Hibrida: SASE sebagai Benteng Digital Baru

Basuki Eka Purnama
28/1/2026 19:41
Menjaga Produktivitas di Era Kerja Hibrida: SASE sebagai Benteng Digital Baru
Ilustrasi(MI/HO)

WAJAH dunia kerja di Indonesia telah berubah secara fundamental. Jika dulu bekerja identik dengan kehadiran fisik di kantor dari pagi hingga sore, kini fleksibilitas menjadi napas baru dalam keseharian. Bekerja dari rumah, kafe, hingga luar kota bukan lagi pemandangan asing, melainkan bagian dari transformasi digital dan model kerja hibrida yang mulai menjadi norma di berbagai sektor industri.

Namun, di balik kemudahan tersebut, muncul tantangan besar yang sering luput dari perhatian: keamanan siber. 

Ketika karyawan tidak lagi berada dalam satu jaringan kantor yang terlindungi, akses digital dari berbagai lokasi justru membuka celah risiko bagi data dan sistem perusahaan.

Transformasi Pascapandemi

Pandemi covid-19 menjadi katalis utama perubahan ini. Edwin Lim, Country Director Fortinet Indonesia, menuturkan bahwa situasi tersebut memaksa organisasi untuk berpikir ulang mengenai cara kerja baku.

“Sebelumnya, sebagian besar pekerjaan itu kan di kantor. Begitu covid-19 datang, kita mulai berpikir, bagaimana cara bekerja kalau tidak bisa ke kantor?” ujar Lim.

Perubahan ini tidak hanya menyasar sektor teknologi, tetapi juga merambah ke Aparatur Sipil Negara (ASN) hingga pegawai BUMN. 

Masalahnya, penggunaan Wi-Fi publik atau jaringan pribadi yang tidak terkelola dengan baik menciptakan kerentanan. 

“Bagaimana kita tahu kalau Wi-Fi itu aman? Apalagi di tempat umum, seperti exhibition hall, banyak orang bisa saja mencoba masuk,” tambahnya.

SASE: Solusi Keamanan Adaptif

Untuk menjawab risiko tersebut, konsep Secure Access Service Edge (SASE) mulai diadopsi secara luas. SASE dapat dianalogikan sebagai “penjaga pintu digital” perusahaan. 

Sistem ini memastikan siapa pun yang mengakses data kerja—baik dari rumah maupun tempat umum—tetap berada dalam jalur yang aman.

Fortinet memandang SASE bukan sekadar soal keamanan, melainkan pendukung produktivitas. 

Dengan sistem yang terpusat, perusahaan dapat menjamin kelancaran operasional meski dalam situasi darurat, sekaligus meminimalkan kesenjangan kemampuan digital antar-pegawai melalui akses yang seragam dan aman.

Tantangan dan Peran Teknologi Masa Depan

Di Indonesia, penerapan keamanan digital masih menghadapi tantangan, mulai dari ketergantungan pada infrastruktur lama hingga kesiapan organisasi beralih ke sistem berbasis cloud. 

Lim menegaskan bahwa dukungan manajemen puncak adalah kunci utama perubahan ini. 

“Kalau top management tidak melihat ini sebagai kebutuhan ke depan, mau sehebat apa pun tim di bawahnya, tidak akan jalan,” tegasnya.

Sebagai penguat, Fortinet juga mengandalkan teknologi Kecerdasan Buatan (AI) untuk deteksi ancaman cepat dan prinsip Zero Trust yang memverifikasi setiap akses secara ketat. 

Namun, Lim mengingatkan bahwa teknologi tetap membutuhkan peran manusia. 

“AI itu kalau tidak didukung oleh orang yang pintar, AI itu bodoh,” ujarnya, menekankan bahwa AI adalah alat bantu, bukan pengganti manusia.

Kini, keamanan siber bukan lagi urusan teknis semata, melainkan fondasi bagi keberlanjutan bisnis dan produktivitas nasional di tengah masa depan kerja yang semakin dinamis. (Z-1)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Berita Lainnya