Headline
Menkeu disebut tidak berwenang mengganti pejabat, terutama untuk eselon I dan II.
Menkeu disebut tidak berwenang mengganti pejabat, terutama untuk eselon I dan II.
Kumpulan Berita DPR RI
PARA ilmuwan mungkin telah selangkah lebih dekat untuk mengungkap salah satu misteri terbesar alam semesta: materi gelap. Berdasarkan analisis terbaru menggunakan Teleskop Ruang Angkasa Sinar Gamma Fermi milik NASA, para peneliti menduga mereka telah mendeteksi sinyal yang berpotensi menjadi bukti langsung pertama keberadaan materi gelap.
Selama hampir satu abad, materi gelap hanya dapat disimpulkan keberadaannya melalui pengaruh gravitasi. Gagasan ini pertama kali dikemukakan oleh astronom Fritz Zwicky pada 1933, lalu diperkuat pada 1970-an oleh Vera Rubin melalui pengamatan rotasi galaksi spiral yang tidak dapat dijelaskan oleh massa materi biasa saja. Sejak itu, para ilmuwan meyakini bahwa galaksi-galaksi besar, termasuk Bima Sakti, tertanam dalam halo materi gelap yang luas dan tak terlihat.
Materi gelap sendiri diperkirakan menyumbang sekitar 85 persen dari seluruh materi di alam semesta. Namun, karena hampir tidak berinteraksi dengan cahaya, materi ini tidak memancarkan, menyerap, atau memantulkan radiasi elektromagnetik, membuatnya sangat sulit untuk dideteksi secara langsung.
Dalam penelitian terbaru, tim yang dipimpin oleh Tomonori Totani dari Departemen Astronomi Universitas Tokyo memusatkan perhatian pada pusat Galaksi Bima Sakti, wilayah yang diprediksi memiliki konsentrasi materi gelap sangat tinggi.
Dengan menganalisis data sinar gamma dari teleskop Fermi, tim tersebut menemukan emisi sinar gamma berenergi tinggi dengan pola menyerupai halo galaksi.
“Kami mendeteksi sinar gamma dengan energi foton sekitar 20 gigaelectronvolt yang membentang menuju pusat Bima Sakti,” ujar Totani. “Komponen emisi ini sangat sesuai dengan bentuk halo materi gelap yang diprediksi oleh model teoretis.”
Energi dan distribusi sinyal tersebut juga cocok dengan skenario annihilasi WIMP (Weakly Interacting Massive Particles), partikel hipotetis yang selama ini dianggap sebagai kandidat utama penyusun materi gelap.
Dalam model ini, partikel materi gelap akan saling memusnahkan ketika bertabrakan, menghasilkan pancaran sinar gamma yang dapat ditangkap oleh teleskop sensitif.
Menurut Totani, hingga saat ini belum ada fenomena astrofisika lain yang mampu menjelaskan karakteristik sinar gamma tersebut secara sederhana. “Jika interpretasi ini benar, sejauh pengetahuan kami, ini akan menjadi pertama kalinya umat manusia ‘melihat’ materi gelap secara langsung,” katanya.
Meski demikian, para peneliti menegaskan bahwa klaim ini masih bersifat sementara. Komunitas ilmiah internasional akan membutuhkan lebih banyak data dan verifikasi independen sebelum kesimpulan final dapat ditarik. “Dengan pengumpulan data tambahan, kami berharap dapat memastikan apakah sinyal ini benar-benar berasal dari materi gelap,” tambah Totani.
Jika dikonfirmasi, temuan ini tidak hanya akan mengubah pemahaman manusia tentang struktur galaksi, tetapi juga membuka babak baru dalam fisika fundamental dan kosmologi modern.
Sumber: Space
Astronom memprediksi hujan meteor dahsyat di Venus pada Juli mendatang. Berasal dari pecahan asteroid misterius, mungkinkah terlihat dari Bumi?
Empat astronaut misi Artemis 2 resmi memulai karantina. NASA targetkan peluncuran ke Bulan paling awal Februari 2026.
Misi ini dirancang oleh NASA sebagai bagian dari program Mars Exploration Rover untuk mengeksplorasi sejarah geologi dan iklim Mars
Aktivitas gunung berapi ini menarik perhatian para peneliti karena fenomena gelembung dan perubahan pada permukaan laut yang terdeteksi melalui citra satelit.
NASA memasuki fase penting pada 2026 dengan misi krusial seperti Artemis II, Pandora, dan Aspera untuk menjelajah Bulan, exoplanet, serta memahami alam semesta lebih dalam.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved