Headline
Transparansi data saham bakal diperkuat demi kerek bobot RI.
Kumpulan Berita DPR RI
Cornelius Juan Prawira – 7 Januari 2026
Jakarta, Media Indonesia – Tahun 2026 menjadi tahun yang istimewa bagi para pencinta astronomi. Berdasarkan data lansiran NASA Science dan prediksi visibilitas dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Bumi akan mengalami empat fenomena gerhana sepanjang tahun ini, yang terdiri dari dua gerhana matahari dan dua gerhana bulan.
Meski terjadi empat kali, tidak semua fenomena tersebut dapat disaksikan dari langit Nusantara. Sorotan utama bagi masyarakat Indonesia tahun ini adalah Gerhana Bulan Total atau Blood Moon yang diprediksi akan menghiasi langit malam pada bulan Maret.
Berikut adalah rincian lengkap, jadwal, dan lokasi pengamatan untuk empat fenomena gerhana di tahun 2026:
Fenomena pembuka tahun ini adalah Gerhana Matahari Cincin, yang sering dijuluki sebagai "Cincin Api". Mengutip NASA, fenomena ini terjadi ketika Bulan menutupi pusat Matahari namun menyisakan tepian luar yang bercahaya terang menyerupai cincin.
Inilah fenomena yang paling dinanti oleh pengamat langit di Indonesia. Pada awal Maret, seluruh piringan Bulan akan masuk ke dalam bayangan inti (umbra) Bumi, menciptakan pemandangan Gerhana Bulan Total.
Berdasarkan data Time and Date, fase totalitas akan membuat Bulan tampak berwarna merah tembaga pekat. Warna ini muncul akibat pembiasan cahaya Matahari oleh atmosfer Bumi—sebuah fenomena yang dikenal sebagai Hamburan Rayleigh.
Peristiwa ini digadang-gadang sebagai salah satu fenomena astronomi terbesar dekade ini bagi benua Eropa. NASA mencatat ini adalah Gerhana Matahari Total pertama yang melintasi daratan Eropa dalam beberapa dekade terakhir. Di jalur totalitas, langit siang hari akan berubah menjadi gelap gulita selama beberapa menit, memungkinkan lapisan korona Matahari terlihat dengan mata telanjang.
Menutup rangkaian gerhana tahun ini, Gerhana Bulan Sebagian akan terjadi pada akhir Agustus. Pada fenomena ini, hanya sebagian wajah Bulan yang tertutup oleh bayangan umbra Bumi, sehingga Bulan akan tampak seperti "tergigit".
Untuk memudahkan Anda mencatat tanggal penting, berikut adalah ringkasan visibilitas gerhana tahun ini:
| Tanggal | Fenomena | Visibilitas di Indonesia |
|---|---|---|
| 17 Februari 2026 | Gerhana Matahari Cincin | Tidak Terlihat |
| 3 Maret 2026 | Gerhana Bulan Total | TERLIHAT (Seluruh Wilayah) |
| 12 Agustus 2026 | Gerhana Matahari Total | Tidak Terlihat |
| 28 Agustus 2026 | Gerhana Bulan Sebagian | Tidak Terlihat (Siang Hari) |
Bagi Anda yang ingin menyaksikan Gerhana Bulan Total pada 3 Maret mendatang, tidak diperlukan peralatan khusus seperti teleskop. Fenomena ini aman disaksikan dengan mata telanjang, namun penggunaan binokular akan memperjelas kontur kawah di permukaan Bulan saat warnanya berubah menjadi merah darah.
Sumber: NASA Science, Forbes, Time and Date.
Bulan purnama pertama di tahun 2026, yang dikenal sebagai Wolf Moon, mencapai puncaknya pada 3 Januari 2026. Penamaan Wolf Moon berasal dari tradisi budaya kuno
Pahami perbedaan gerhana matahari total, cincin, dan sebagian. Pelajari proses terjadinya, penyebab ilmiah, dan cara aman mengamatinya secara mendalam.
Fenomena astronomi langka akan kembali terjadi: Gerhana Matahari Total diprediksi melintasi sejumlah wilayah Eropa hingga kawasan Arktik pada 12 Agustus 2026.
Fenomena astronomi langka akan kembali menghiasi langit dunia. Gerhana Matahari Total terlama pada abad ke-21 dipastikan terjadi pada 2 Agustus 2027.
PLANET Mars atau yang kerap disebut dengan planet merah kian menarik perhatian dengan warnanya yang terang tersebut. Jika diamati dari waktu ke waktu, Mars tidak selalu tampak sama terang.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved