Headline
PERADABAN tidak pernah tumbuh di ruang hampa. Ia dibangun oleh gagasan, dirawat oleh nilai, dan dijaga oleh nalar.
PERADABAN tidak pernah tumbuh di ruang hampa. Ia dibangun oleh gagasan, dirawat oleh nilai, dan dijaga oleh nalar.
Kumpulan Berita DPR RI
TELESKOP Luar Angkasa James Webb (JWST) kembali menghadirkan pemandangan luar biasa dari kedalaman alam semesta. Dalam gambar terbarunya, dua galaksi kerdil, NGC 4490 dan NGC 4485, terlihat berada di tengah proses tabrakan kosmik yang menampilkan jembatan gas bercahaya, aliran bintang muda, serta tarikan gravitasi yang terus membentuk ulang keduanya.
Gambar yang dirilis Badan Antariksa Eropa (ESA) ini memperlihatkan bagaimana kedua galaksi, yang berjarak sekitar 24 juta tahun cahaya, saling tarik-menarik dalam interaksi gravitasi yang dramatis. Galaksi kerdil menjadi objek penting bagi astronom karena struktur dan komposisinya yang mirip dengan galaksi di alam semesta awal, bermassa rendah, kaya gas, dan minim logam. Karena itu, proses tabrakan di antara mereka memberikan petunjuk berharga tentang bagaimana galaksi pertama terbentuk dan berevolusi.
Dalam citra tersebut, NGC 4490 tampak mendominasi sisi kiri bingkai dengan jalinan debu dan bintang muda. Sementara itu, NGC 4485 terlihat bersinar di sisi kanan atas. Keduanya dihubungkan jembatan gas dan debu yang terang, dihiasi gugusan bintang baru berwarna kebiruan, kontras dengan cahaya kemerahan dari debu antar bintang yang hangat. ESA menyebut interaksi antara dua galaksi inilah yang memicu ledakan pembentukan bintang.
“Selain dua pendamping kerdil Bima Sakti, Awan Magellan Besar dan Kecil, ini adalah sistem galaksi kerdil berinteraksi terdekat yang diketahui, di mana astronom dapat mengamati langsung jembatan gas dan populasi bintangnya,” kata pejabat ESA dalam pernyataan resmi.
Sebelumnya, pasangan galaksi yang dikenal sebagai Arp 269 ini telah dipelajari menggunakan Teleskop Hubble. Namun, kemampuan inframerah JWST mengungkap detail yang belum pernah terlihat sebelumnya, termasuk struktur halus gas yang mengalir di antara keduanya hingga bintang-bintang individual di dalam galaksi tersebut.
“Dengan membedah galaksi ini bintang demi bintang, para peneliti dapat memetakan lokasi bintang muda, paruh baya, hingga yang tua, sekaligus menelusuri garis waktu interaksi kedua galaksi,” ujar ESA.
Analisis menunjukkan NGC 4490 dan NGC 4485 kemungkinan melintas sangat dekat sekitar 200 juta tahun lalu. Saat itu, NGC 4490 menarik sebagian gas dari galaksi pasangannya, membentuk jembatan gas yang terlihat hari ini sekaligus memicu gelombang pembentukan bintang. Beberapa di antaranya bahkan terbentuk baru 30 juta tahun yang lalu.
“Dengan menangkap sejarah tarian kosmik NGC 4490 dan NGC 4485, Webb mengungkap detail baru tentang bagaimana galaksi kerdil berinteraksi, memberi kita gambaran tentang bagaimana galaksi kecil tumbuh dan berevolusi,” tambah ESA. (Space/Z-2)
Peneliti temukan fenomena 'faint-end suppression' di mana jumlah galaksi kecil menyusut drastis. Simak bagaimana radiasi bintang purba menghambat pertumbuhan mereka.
Teleskop James Webb menangkap cahaya supernova tertua yang pernah terdeteksi, berasal dari 13 miliar tahun lalu.
Pengamatan terbaru teleskop James Webb ungkap permukaan bulan-bulan kecil Uranus yang lebih merah, lebih gelap, dan miskin air dibandingkan satelit besarnya, serta menemukan satu bulan baru.
Astronom menemukan radiasi ultraviolet tak terduga di sekitar lima protobintang di Ophiuchus menggunakan JWST.
Teleskop James Webb menangkap spiral debu berlapis di sistem bintang tiga Apep, yang memiliki dua bintang Wolf-Rayet langka.
Hubble menangkap citra galaksi Mrk 178 yang penuh misteri. Meski kecil, galaksi ini menyimpan bintang Wolf-Rayet raksasa yang menantang pemahaman astronom.
Ilmuwan menemukan lubang hitam supermasif di galaksi kecil Segue 1, mengguncang teori lama tentang peran materi gelap dalam menjaga kestabilan galaksi.
Astronom menemukan kelompok galaksi kerdil yang memiliki pola rotasi seragam dan tersusun dalam garis hampir lurus, menantang teori materi gelap dingin.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved