Headline
Diskoneksi antara tren rupiah dan IHSG dipengaruhi kredibilitas kebijakan makro.
Diskoneksi antara tren rupiah dan IHSG dipengaruhi kredibilitas kebijakan makro.
Kumpulan Berita DPR RI
PENGAMATAN terbaru menunjukkan komet antarbintang 3I/ATLAS kemungkinan telah kehilangan sebagian besar massanya. Hal tersebut terjadi setelah melintasi titik terdekat dengan Matahari atau perihelion. Fenomena itu diamati sejumlah teleskop di berbagai belahan dunia dari 31 Oktober hingga 4 November 2025.
Komet 3I/ATLAS pertama kali ditemukan pada 1 Juli oleh tim astronom dalam program Asteroid Terrestrial-impact Last Alert System (ATLAS). Objek tersebut melintas dengan kecepatan tinggi dan menunjukkan lintasan dengan eksentrisitas lebih dari satu, menandakan ia bukan objek dari Tata Surya kita.
Dengan demikian, 3I/ATLAS menjadi pengunjung antarbintang ketiga yang pernah terdeteksi, setelah 1I/ʻOumuamua dan 2I/Borisov. Berbeda dengan berbagai spekulasi yang menyebutkan komet ini sebagai pesawat luar angkasa alien, para astronom menegaskan 3I/ATLAS adalah objek alami yang memperlihatkan perilaku khas komet. Data dari Minor Planet Center juga menunjukkan banyak teleskop memantau lintasan dan aktivitas objek ini secara intensif.
Selama beberapa bulan terakhir, komet ini sempat tidak terlihat karena posisinya berada di balik Matahari. Namun, pengamatan dari wahana antariksa Mars Express dan ExoMars Trace Gas Orbiter (TGO) milik Badan Antariksa Eropa (ESA) tetap memberikan gambaran aktivitasnya dari orbit Mars. Kini, setelah kembali muncul dari balik Matahari, pengamatan lanjutan kembali dilakukan dari Bumi.
Para ilmuwan tertarik untuk mengetahui bagaimana radiasi Matahari memengaruhi struktur dan perilaku komet ini. Sejumlah anomali terdeteksi, termasuk munculnya ekor anti yang jarang ditemukan, rasio kelimpahan besi terhadap nikel yang tidak biasa, serta perubahan warna atau pemutihan pada permukaannya saat mendekati perihelion.
Selain itu, komet ini juga menunjukkan percepatan non-gravitasi, yakni gerakan yang tidak dapat dijelaskan oleh pengaruh gravitasi semata. Astronom Harvard, Avi Loeb, menjelaskan bahwa 3I/ATLAS mengalami percepatan radial menjauhi Matahari sebesar 1,1×10⁻⁶ satuan astronomi per hari kuadrat, serta percepatan transversal sebesar 3,7×10⁻⁷ satuan astronomi per hari kuadrat.
Menurut Loeb, percepatan ini disebabkan penguapan material di permukaan komet akibat pemanasan dari Matahari. Proses tersebut menyebabkan pelepasan massa dan menghasilkan dorongan sesuai hukum konservasi momentum. Berdasarkan perhitungan, Loeb memperkirakan 3I/ATLAS kehilangan lebih dari 13% massanya di sekitar perihelion, dengan kecepatan ejeksi partikel mencapai sekitar 300 meter per detik, nilai yang masih tergolong alami untuk komet.
Meskipun jumlah massa yang hilang tergolong besar, hal ini bukan peristiwa langka. Namun, karena 3I/ATLAS merupakan objek antarbintang, karakteristik komposisinya tampak berbeda dibandingkan komet di Tata Surya. Para astronom berharap pengamatan berikutnya dapat mengungkap lebih jauh tentang asal usul dan sifat lingkungan tempat komet ini terbentuk.
Kehilangan massa tersebut juga diperkirakan menimbulkan awan gas besar di sekitar komet. Pengamatan terbaru menyakini hal itu, dengan peningkatan kecerahan hingga lima kali lipat di band hijau. Fenomena ini menunjukkan bahwa 3I/ATLAS masih aktif dan terus berperilaku seperti komet pada umumnya. Hal ini memberikan peluang baru bagi para ilmuwan untuk mempelajari materi purba dari wilayah lain di galaksi kita. (iflscience/Z-2)
Matahari meletuskan ledakan X-Class dan CME raksasa melaju ke Bumi. Badai geomagnetik kuat berpotensi terjadi dalam 24 jam ke depan.
Fenomena pertama gerhana matahari cincin dijadwalkan terjadi pada 17 Februari 2026.
SELAMA ini ekor planet sering dikaitkan dengan benda langit tertentu. Namun, riset ilmiah menunjukkan bahwa bumi pun memiliki “ekor” sendiri yang terbentang jauh ke luar angkasa
Sseorang yang terbiasa terpapar sinar matahari aktif umumnya memiliki risiko lebih rendah terhadap penyakit kardiovaskular (CVD) dan kematian nonkanker/non-CVD.
Medan magnet Bumi terbentuk oleh inti Bumi yang terdiri dari besi cair yang berputar di kedalaman sekitar 2.900 kilometer. Medan ini melindungi permukaan Bumi dari partikel bermuatan
Ini adalah pertama kalinya para ilmuwan melihat CME dengan variasi suhu seperti itu pada bintang muda yang mirip Matahari. Temuan ini dianggap penting karena menunjukkan bahwa aktivitas
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved