Headline
Diskoneksi antara tren rupiah dan IHSG dipengaruhi kredibilitas kebijakan makro.
Diskoneksi antara tren rupiah dan IHSG dipengaruhi kredibilitas kebijakan makro.
Kumpulan Berita DPR RI
PEMANASAN global tidak hanya meningkatkan suhu bumi, tetapi juga secara perlahan mengubah pola curah hujan dan salju di berbagai belahan dunia. Fenomena ini mulai menimbulkan dampak besar pada sektor pertanian, keseimbangan ekosistem, hingga ketahanan infrastruktur.
Mengutip dari laman phys.org, Sebuah penelitian yang dipimpin oleh Prof. Chen Yaning dari Xinjiang Institute of Ecology and Geography (XIEG) di bawah naungan Chinese Academy of Sciences (CAS) menemukan bahwa pemanasan global memberikan dampak yang berbeda terhadap dua jenis presipitasi antara hujan (cair) dan salju (padat). Hasil penelitian tersebut dipublikasikan dalam jurnal Advances in Climate Change Research.
Dengan menggunakan data reanalisis ERA5-Land dari tahun 1950 hingga 2022, tim peneliti menganalisis tren jangka panjang, sensitivitas suhu, dan faktor pendorong di balik hujan ekstrem serta salju ekstrem di wilayah belahan Bumi utara.
Hasilnya, selama 70 tahun terakhir, curah hujan ekstrem meningkat cukup tajam, yaitu sekitar 0,269 milimeter setiap tahun. Angka ini hampir sembilan kali lebih cepat dibandingkan peningkatan salju ekstrem, yang hanya naik 0,029 milimeter per tahun.
Peneliti juga menemukan bahwa semakin tinggi suhu udara, semakin deras hujan ekstrem yang terjadi. Sebaliknya, salju ekstrem justru berkurang seiring pemanasan, terutama di wilayah lintang menengah seperti Asia Tengah, Eropa, dan sebagian Amerika Utara.
Secara geografis, wilayah yang mengalami peningkatan hujan ekstrem kini mencakup sekitar 22% dari belahan Bumi utara, sedangkan area yang menunjukkan peningkatan salju ekstrem hanya 4,7%, terbatas pada kawasan berlintang tinggi dan daerah pegunungan.
Penelitian ini juga menunjukkan bahwa porsi hujan ekstrem terhadap total curah hujan meningkat 0,038% per tahun, sementara salju ekstrem naik 0,017% per tahun. Kondisi ini mengarah pada masa depan dengan siklus air yang lebih intens dan tidak stabil, yang berpotensi meningkatkan risiko banjir di wilayah lintang menengah dan membuat lapisan salju semakin rapuh di daerah dingin.
“Presipitasi ekstrem merupakan faktor penting dalam manajemen risiko, wilayah lintang menengah perlu lebih waspada terhadap banjir akibat meningkatnya hujan. Sedangkan, wilayah pegunungan dan lintang tinggi harus memperhatikan bahaya yang disebabkan oleh perubahan pola salju,” ujar peneliti dalam studi ini, Li Yupeng dikutip dari laman yang sama.
Penelitian ini menjadi dasar ilmiah penting untuk memahami perubahan pola presipitasi ekstrem secara global serta membantu pemerintah dan masyarakat dalam merancang strategi adaptasi iklim dan mitigasi bencana yang lebih tepat.
Sumber: phys.org
Efektivitas OMC telah teruji pada saat puncak hujan akhir pekan lalu.
BMKG tetapkan status SIAGA hujan ekstrem di NTT dan hujan sangat lebat di Jawa pada 19 Januari 2026 akibat Siklon Nokaen dan dua bibit siklon.
Indonesia perlu mengembangkan konsep Cyclone Ready Community sebagai bagian dari upaya pengurangan risiko bencana.
Bencana hidrometeorologi adalah jenis bencana alam yang dipengaruhi oleh kondisi cuaca dan siklus hidrologi, seperti hujan ekstrem, angin kencang hingga curah hujan tinggi.
MKG mencatat adanya hujan berintensitas tinggi di wilayah Kabupaten Cilacap dan sekitarnya, pada Kamis (13/11). Tanah longsor
Menghadapi musim hujan ekstrem yang disertai angin kencang, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Klaten, Jawa Tengah, meminta masyarakat agar meningkatkan kewaspadaan.
Pemanasan global membuat suhu Bumi melonjak dan es kutub mencair. Mungkinkah justru fenomena ini menunda datangnya zaman es berikutnya di masa depan?
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved