Headline
Pada perdagangan kemarin, rupiah menguat tipis dan ditutup di level Rp16.936 per dolar AS.
Pada perdagangan kemarin, rupiah menguat tipis dan ditutup di level Rp16.936 per dolar AS.
Kumpulan Berita DPR RI
FENOMENA langit kembali akan menghiasi malam di awal Oktober 2025. Hujan meteor Draconid siap memukau pengamat langit pada Selasa malam (8/10) hingga dini hari (9/10). Bagi pecinta astronomi, ini merupakan salah satu momen yang sayang untuk dilewatkan.
Hujan meteor Draconid berasal dari sisa debu komet 21P/Giacobini-Zinner, yang setiap tahunnya meninggalkan jejak partikel debu di orbit Bumi. Ketika Bumi melintas melalui jalur partikel tersebut, debu-debu itu terbakar di atmosfer dan menciptakan kilatan cahaya yang kita sebut meteor.
Nama “Draconid” diambil dari rasi bintang Draco (Naga), tempat titik asal meteor ini tampak muncul di langit malam.
Menurut prediksi dari Space & Telescope dan EarthSky, puncak aktivitas hujan meteor Draconid akan terjadi sekitar pukul 19:00 UTC atau 02.00 WIB (Waktu Indonesia Barat) pada 9 Oktober 2025.
Namun, untuk wilayah Indonesia, waktu terbaik untuk mengamati meteor ini adalah antara pukul 20.00 hingga 24.00 WIB pada malam 8 Oktober 2025, saat langit mulai gelap dan rasi Draco masih berada di posisi tinggi di langit utara.
Sayangnya, pada malam puncak hujan meteor Draconid 2025, bulan berada dalam fase gibbous (hampir penuh). Ini berarti cahaya bulan bisa mengganggu visibilitas meteor, sehingga hanya meteor paling terang yang akan terlihat jelas tanpa bantuan alat.
Namun, kamu tetap berpeluang melihat beberapa kilatan meteor jika kondisi langit cerah dan bebas polusi cahaya.
Berikut tips untuk menikmati fenomena hujan meteor Draconid:
Mulai pengamatan sejak pukul 20.00 WIB, dan bersabarlah sekitar 30 menit agar mata menyesuaikan dengan kegelapan.
Tidak perlu teleskop atau alat khusus, pengamatan dengan mata telanjang sudah cukup.
Selain Draconid, bulan Oktober juga akan menghadirkan hujan meteor Orionid, yang mencapai puncaknya pada 22 Oktober 2025. Jadi, langit Oktober tahun ini akan penuh pertunjukan menakjubkan bagi para pemburu bintang. (Space & Telescope/EarthSky/Z-10)
NAMA seorang romo sekaligus ilmuwan asal Indonesia oleh International Astronomical Union menetapkan nama Bayurisanto sebagai nama resmi sebuah asteroid
Para astronom kini berburu tanda-tanda kehidupan di 6.000 exoplanet. Mulai dari deteksi gas atmosfer hingga misi masa depan NASA, inilah cara kita menjawab apakah Bumi itu unik.
Teleskop James Webb menampilkan detail baru Nebula Helix, memperlihatkan struktur gas, debu, dan akhir kehidupan bintang dengan resolusi inframerah tinggi.
Lubang hitam supermasif di galaksi J1007+3540 kembali aktif dengan ledakan plasma sejauh 1 juta tahun cahaya.
Fenomena astronomi langka akan kembali menghiasi langit dunia. Gerhana Matahari Total terlama pada abad ke-21 dipastikan terjadi pada 2 Agustus 2027.
Pernahkah Anda bertanya mengapa orbit planet berbentuk datar seperti piringan? Simak penjelasan ilmiahnya.
Fenomena hujan meteor Draconid akan mencapai puncaknya pada Rabu, 8 Oktober 2025. Saksikan keindahan “fireball” Draconid yang muncul setelah senja.
Supermoon pertama tahun ini, alieas Bulan Panen, akan menghiasi langit pada 7 Oktober 2025. Fenomena langka ini menampilkan bulan purnama terbesar dan tercerah.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved