Headline
Pemerintah tetapkan 1 Ramadan pada Kamis, 19 Februari 2026.
Kumpulan Berita DPR RI
FENOMENA langit kembali akan menghiasi malam di awal Oktober 2025. Hujan meteor Draconid siap memukau pengamat langit pada Selasa malam (8/10) hingga dini hari (9/10). Bagi pecinta astronomi, ini merupakan salah satu momen yang sayang untuk dilewatkan.
Hujan meteor Draconid berasal dari sisa debu komet 21P/Giacobini-Zinner, yang setiap tahunnya meninggalkan jejak partikel debu di orbit Bumi. Ketika Bumi melintas melalui jalur partikel tersebut, debu-debu itu terbakar di atmosfer dan menciptakan kilatan cahaya yang kita sebut meteor.
Nama “Draconid” diambil dari rasi bintang Draco (Naga), tempat titik asal meteor ini tampak muncul di langit malam.
Menurut prediksi dari Space & Telescope dan EarthSky, puncak aktivitas hujan meteor Draconid akan terjadi sekitar pukul 19:00 UTC atau 02.00 WIB (Waktu Indonesia Barat) pada 9 Oktober 2025.
Namun, untuk wilayah Indonesia, waktu terbaik untuk mengamati meteor ini adalah antara pukul 20.00 hingga 24.00 WIB pada malam 8 Oktober 2025, saat langit mulai gelap dan rasi Draco masih berada di posisi tinggi di langit utara.
Sayangnya, pada malam puncak hujan meteor Draconid 2025, bulan berada dalam fase gibbous (hampir penuh). Ini berarti cahaya bulan bisa mengganggu visibilitas meteor, sehingga hanya meteor paling terang yang akan terlihat jelas tanpa bantuan alat.
Namun, kamu tetap berpeluang melihat beberapa kilatan meteor jika kondisi langit cerah dan bebas polusi cahaya.
Berikut tips untuk menikmati fenomena hujan meteor Draconid:
Mulai pengamatan sejak pukul 20.00 WIB, dan bersabarlah sekitar 30 menit agar mata menyesuaikan dengan kegelapan.
Tidak perlu teleskop atau alat khusus, pengamatan dengan mata telanjang sudah cukup.
Selain Draconid, bulan Oktober juga akan menghadirkan hujan meteor Orionid, yang mencapai puncaknya pada 22 Oktober 2025. Jadi, langit Oktober tahun ini akan penuh pertunjukan menakjubkan bagi para pemburu bintang. (Space & Telescope/EarthSky/Z-10)
Teleskop Hubble temukan WD 0525+526, katai putih ultramasif hasil penggabungan bintang. Studi di Nature Astronomy ungkap misteri karbon dan suhu ekstremnya.
Teleskop James Webb temukan jejak lubang hitam pelarian yang melesat 3.000 km/detik. Simak bagaimana fenomena kosmos ini mengubah pemahaman kita tentang galaksi.
Ilmuwan mengungkap asal-usul Titan Saturnus dari tabrakan bulan purba. Simak kaitan pembentukan Titan dengan usia cincin Saturnus dan misi Dragonfly 2026.
Komet C/2026 A1 (MAPS), anggota Kreutz sungrazer yang langka, diprediksi dapat bersinar terang di langit Bumi pada April 2026, seterang Venus, jika bertahan dari panas Matahari.
Teleskop SPHEREx milik NASA mendeteksi molekul organik seperti air dan karbon dioksida pada komet antarbintang 3I/ATLAS, membuka peluang riset asal-usul kehidupan.
Terinspirasi Lord of the Rings, ilmuwan temukan sistem lubang hitam ganda Gondor dan Rohan lewat teknik gelombang gravitasi terbaru.
Fenomena hujan meteor Draconid akan mencapai puncaknya pada Rabu, 8 Oktober 2025. Saksikan keindahan “fireball” Draconid yang muncul setelah senja.
Supermoon pertama tahun ini, alieas Bulan Panen, akan menghiasi langit pada 7 Oktober 2025. Fenomena langka ini menampilkan bulan purnama terbesar dan tercerah.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved