Headline
Diskoneksi antara tren rupiah dan IHSG dipengaruhi kredibilitas kebijakan makro.
Diskoneksi antara tren rupiah dan IHSG dipengaruhi kredibilitas kebijakan makro.
Kumpulan Berita DPR RI
SEKILAS, awan tebal di langit Venus tampak menyimpan harapan baru. Beberapa ilmuwan sempat menduga, di balik suhu ekstremnya, planet ini mungkin memiliki unsur air yang bisa membuka peluang kehidupan. Namun, penelitian terbaru justru menunjukkan hal sebaliknya, Venus kemungkinan besar tak pernah bisa dihuni sejak awal terbentuk.
Tim astronom dari Universitas Cambridge menemukan bagian dalam Venus terlalu kering untuk memiliki lautan atau bahkan air di permukaannya. Temuan ini dipublikasikan di jurnal Nature Astronomy. Meski diselimuti awan yang mengandung partikel air, planet ini tetap menjadi dunia panas yang tidak memungkinkan adanya kehidupan.
Dari kejauhan, Venus sering disebut sebagai “kembaran Bumi” karena ukuran dan bentuknya yang hampir sama. Tapi jika dilihat lebih dekat, planet ini lebih mirip versi ekstremnya. Yaitu diselimuti awan asam sulfat, dengan suhu rata-rata mencapai 500°C, cukup untuk melelehkan logam.
Selama puluhan tahun, ilmuwan menduga Venus mungkin pernah memiliki lautan air atau bahkan bentuk kehidupan mikroskopis di lapisan awannya. Namun, penulis utama studi ini, Tereza Constantinou dari Institut Astronomi Cambridge, mengatakan kemungkinan itu sangat kecil.
“Kita belum akan tahu pasti sampai misi penjelajahan dikirim ke sana akhir dekade ini. Tapi dengan kondisi interior yang kering, sulit membayangkan Venus pernah mendukung kehidupan seperti di Bumi,” ujarnya.
Untuk menelusuri terkait planet ini, para peneliti mempelajari komposisi kimia atmosfer Venus. Termasuk kandungan air dan gas vulkanik di dalamnya. Di Bumi, aktivitas vulkanik banyak mengeluarkan uap air karena lapisan dalam planet kita mengandung banyak air.
Namun, hasil perhitungan menunjukkan gas vulkanik di Venus hanya mengandung sekitar 6% air. Artinya, bagian dalam planet tersebut juga sangat kering. Kondisi ini menunjukkan bahwa Venus kemungkinan besar tidak pernah memiliki lautan. Sejak awal sudah menjadi planet panas tanpa peluang bagi kehidupan.
Penelitian ini akan segera diuji lewat misi DAVINCI milik NASA yang dijadwalkan meluncur akhir dekade ini. Wahana tersebut akan melakukan beberapa flyby dan mengirim probe ke permukaan Venus untuk meneliti langsung atmosfernya.
Temuan dari misi ini diharapkan membantu ilmuwan menentukan planet di luar tata surya yang berpotensi memiliki kehidupan.
Constantinou menambahkan, meski hasil penelitian ini terkesan mengecewakan, temuan tersebut justru membantu ilmuwan. Agar dapat lebih memusatkan pencarian pada planet yang lebih berpotensi mendukung kehidupan di luar Bumi.
Sumber: University of Cambridge, Nature Astronomy
Kimberlit merupakan jenis batuan beku ultrabasa yang berasal dari kedalaman lebih dari 150 kilometer di bawah permukaan Bumi, tepatnya di bagian mantel.
Tinta ini menggabungkan galium, logam yang padat pada suhu ruangan tetapi meleleh tepat di bawah suhu tubuh 98,6 derajat Fahrenheit atau setara dengan 37 derajat Celsius
Hasil pengukuran tersebut menunjukkan bahwa Bulan bergerak menjauhi Bumi sekitar 3,8 sentimeter setiap tahun, kira-kira secepat kuku manusia tumbuh.
Jam di Mars akan berjalan sedikit lebih cepat daripada di Bumi. Perbedaan ini disebabkan oleh dua faktor utama di tata surya.
Hasil penelitian ini tampaknya mendukung teori yang diajukan pada tahun 1970-an, yaitu bahwa burung liar mungkin mengalami kesalahan navigasi sederhana.
Untuk sampai pada kesimpulan tersebut, para ilmuwan memetakan perilaku ciuman sebagai sebuah sifat evolusioner dalam pohon keluarga primata.
Program Artemis tidak hanya bertujuan untuk mendaratkan manusia, tetapi juga membangun fondasi kehadiran jangka panjang di Bulan.
Fenomena astronomi langka akan kembali terjadi: Gerhana Matahari Total diprediksi melintasi sejumlah wilayah Eropa hingga kawasan Arktik pada 12 Agustus 2026.
NASA berupaya menghubungi kembali pengorbit Mars MAVEN yang mendadak diam sejak Desember lalu. Peluang pemulihan menipis setelah kegagalan deteksi terbaru.
BADAN Antariksa Amerika Serikat, NASA, memasuki tahap akhir persiapan misi Artemis II, yang menandai dimulainya kembalinya manusia ke sekitar Bulan setelah lebih dari setengah abad
NASA menyebut durasi totalitas gerhana matahari pada 2 Agustus 2027 diperkirakan mencapai sekitar 6 menit 23 detik.
Proyek ini merupakan tindak lanjut dari rekomendasi sains nasional di Amerika Serikat untuk memahami apakah kita sendirian di alam semesta.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved