Headline
Diskon transportasi hingga 30%, bantuan pangan, dan sistem kerja fleksibel bergulir.
Diskon transportasi hingga 30%, bantuan pangan, dan sistem kerja fleksibel bergulir.
Kumpulan Berita DPR RI
SEKILAS, awan tebal di langit Venus tampak menyimpan harapan baru. Beberapa ilmuwan sempat menduga, di balik suhu ekstremnya, planet ini mungkin memiliki unsur air yang bisa membuka peluang kehidupan. Namun, penelitian terbaru justru menunjukkan hal sebaliknya, Venus kemungkinan besar tak pernah bisa dihuni sejak awal terbentuk.
Tim astronom dari Universitas Cambridge menemukan bagian dalam Venus terlalu kering untuk memiliki lautan atau bahkan air di permukaannya. Temuan ini dipublikasikan di jurnal Nature Astronomy. Meski diselimuti awan yang mengandung partikel air, planet ini tetap menjadi dunia panas yang tidak memungkinkan adanya kehidupan.
Dari kejauhan, Venus sering disebut sebagai “kembaran Bumi” karena ukuran dan bentuknya yang hampir sama. Tapi jika dilihat lebih dekat, planet ini lebih mirip versi ekstremnya. Yaitu diselimuti awan asam sulfat, dengan suhu rata-rata mencapai 500°C, cukup untuk melelehkan logam.
Selama puluhan tahun, ilmuwan menduga Venus mungkin pernah memiliki lautan air atau bahkan bentuk kehidupan mikroskopis di lapisan awannya. Namun, penulis utama studi ini, Tereza Constantinou dari Institut Astronomi Cambridge, mengatakan kemungkinan itu sangat kecil.
“Kita belum akan tahu pasti sampai misi penjelajahan dikirim ke sana akhir dekade ini. Tapi dengan kondisi interior yang kering, sulit membayangkan Venus pernah mendukung kehidupan seperti di Bumi,” ujarnya.
Untuk menelusuri terkait planet ini, para peneliti mempelajari komposisi kimia atmosfer Venus. Termasuk kandungan air dan gas vulkanik di dalamnya. Di Bumi, aktivitas vulkanik banyak mengeluarkan uap air karena lapisan dalam planet kita mengandung banyak air.
Namun, hasil perhitungan menunjukkan gas vulkanik di Venus hanya mengandung sekitar 6% air. Artinya, bagian dalam planet tersebut juga sangat kering. Kondisi ini menunjukkan bahwa Venus kemungkinan besar tidak pernah memiliki lautan. Sejak awal sudah menjadi planet panas tanpa peluang bagi kehidupan.
Penelitian ini akan segera diuji lewat misi DAVINCI milik NASA yang dijadwalkan meluncur akhir dekade ini. Wahana tersebut akan melakukan beberapa flyby dan mengirim probe ke permukaan Venus untuk meneliti langsung atmosfernya.
Temuan dari misi ini diharapkan membantu ilmuwan menentukan planet di luar tata surya yang berpotensi memiliki kehidupan.
Constantinou menambahkan, meski hasil penelitian ini terkesan mengecewakan, temuan tersebut justru membantu ilmuwan. Agar dapat lebih memusatkan pencarian pada planet yang lebih berpotensi mendukung kehidupan di luar Bumi.
Sumber: University of Cambridge, Nature Astronomy
Bulan perlahan menjauh dari Bumi sekitar 3,8 cm per tahun. Fenomena ini membuat rotasi Bumi melambat dan panjang satu hari bertambah, meski perubahan terjadi sangat lambat.
Penelitian ini dilakukan oleh tim ilmuwan yang dipimpin oleh Prof Steve Brusatte dari University of Edinburgh bersama Dr Gregor Hartmann dari Helmholtz-Zentrum, Jerman.
Temuan ini dipublikasikan dalam jurnal ilmiah Nature melalui makalah berjudul Soft photonic skins with dynamic texture and colour control.
NAMA seorang romo sekaligus ilmuwan asal Indonesia oleh International Astronomical Union menetapkan nama Bayurisanto sebagai nama resmi sebuah asteroid
Kimberlit merupakan jenis batuan beku ultrabasa yang berasal dari kedalaman lebih dari 150 kilometer di bawah permukaan Bumi, tepatnya di bagian mantel.
Tinta ini menggabungkan galium, logam yang padat pada suhu ruangan tetapi meleleh tepat di bawah suhu tubuh 98,6 derajat Fahrenheit atau setara dengan 37 derajat Celsius
Peneliti berhasil mengidentifikasi struktur mirip terowongan vulkanik di bawah permukaan Venus melalui data radar NASA. Apakah planet ini masih aktif secara geologi?
Elon Musk mengumumkan SpaceX beralih fokus ke Bulan sebelum Mars. Targetkan kota mandiri dalam 10 tahun demi selamatkan peradaban manusia.
SEBUAH kerja sama ilmiah antara Korea Selatan dan Amerika Serikat berhasil mencatat terobosan penting di bidang astronomi melalui teleskop luar angkasa SPHEREx.
Ilmuwan berhasil menyempurnakan metode penentuan usia permukaan Bulan dengan menggabungkan data sampel Chang’e-6.
Melalui program Send Your Name to Space with Artemis II, siapa pun kini bisa mengirimkan nama mereka untuk mengorbit Bulan secara simbolis pada misi berawak pertama dalam lebih dari 50 tahun.
Panduan lengkap cara mengirim nama ke Bulan melalui misi NASA Artemis 2. Pelajari prosedur, teknologi microchip, dan batas waktu pendaftaran 2026.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved