Headline
Pemprov Jabar identifikasi warga yang betul-betul tak mampu.
Pemprov Jabar identifikasi warga yang betul-betul tak mampu.
Kumpulan Berita DPR RI
PARA ilmuwan kini semakin optimis kehidupan di bawah permukaan Mars mungkin saja terjadi. Penelitian terbaru yang menggunakan data seismik dari NASA’s InSight lander mengungkapkan adanya potensi air cair yang terperangkap di bawah tanah, membuka peluang bagi keberadaan mikroorganisme atau bahkan habitat manusia di masa depan.
Penelitian yang dipimpin Nolan Roth dari Penn State University memperkenalkan metode baru bernama seismoelectric method, yang memanfaatkan gelombang seismik (marsquakes) untuk mendeteksi air di bawah permukaan Mars. Ketika gelombang seismik bergerak melalui lapisan tanah dan bertemu dengan aquifer, mereka menghasilkan sinyal elektromagnetik unik yang dapat dideteksi sensor di permukaan. Metode ini dianggap lebih efektif dibandingkan radar penembus tanah yang memiliki keterbatasan pada kedalaman tertentu.
“Jika kita mendengarkan marsquakes yang bergerak melalui bawah tanah, dan mereka melewati air, gelombang ini akan menciptakan sinyal elektromagnetik yang khas,” ujar Roth.
Sinyal ini dapat memberikan informasi tentang kedalaman, volume, dan komposisi aquifer, menjawab salah satu pertanyaan terbesar tentang Mars: apakah planet ini masih menyimpan air cair?
Penelitian lain oleh Ikuo Katayama dari Hiroshima University juga mendukung temuan ini. Katayama menyatakan jika air cair benar-benar ada di bawah permukaan Mars, maka kemungkinan adanya aktivitas mikroba sangat besar.
"Air adalah elemen kunci bagi kehidupan. Jika kita menemukan air cair, itu bisa menjadi indikasi keberadaan kehidupan mikroba," jelasnya.
Data seismik dari InSight lander berhasil memetakan interior Mars, termasuk lapisan mantel dan inti planet. Dengan lebih dari 1.000 marsquakes yang terdeteksi sejak 2018, para ilmuwan kini memiliki gambaran lebih jelas tentang struktur geologi Mars, termasuk potensi aquifer di bawah permukaan.
Mars memiliki kondisi unik yang membuat metode seismoelectric lebih efektif dibandingkan di Bumi. Di Bumi, air tersebar di seluruh lapisan bawah tanah, menciptakan banyak "noise" pada sinyal elektromagnetik. Namun, Mars yang sangat kering memungkinkan deteksi aquifer menjadi lebih akurat karena minim gangguan.
“Di Mars, permukaannya secara alami menghilangkan noise dan memberikan data berguna untuk karakterisasi aquifer,” tambah Tieyuan Zhu, salah satu peneliti utama dalam studi ini.
Penemuan ini tidak hanya menjawab pertanyaan tentang keberadaan air di Mars tetapi juga membuka jalan bagi eksplorasi manusia di masa depan. Jika aquifer ditemukan dan dapat diakses, maka sumber daya air dapat digunakan untuk mendukung misi jangka panjang atau bahkan kolonisasi Mars.
Para peneliti berharap metode ini dapat diterapkan pada data seismik yang sudah dikumpulkan oleh InSight lander serta misi Mars berikutnya dengan alat khusus seperti magnetometer untuk meningkatkan akurasi deteksi.
Penelitian ini memberikan harapan baru bagi eksplorasi Mars dan kemungkinan kehidupan di bawah permukaannya. Dengan teknologi seismoelectric dan analisis data marsquakes, para ilmuwan semakin dekat untuk mengungkap rahasia planet merah tersebut—apakah ia masih menyimpan sumber daya penting seperti air cair yang dapat mendukung kehidupan. (Science Daily/Phys.org/Universe Today/Z-2)
Berdasarkan rentang waktu yang ditetapkan, mereka berhasil menemukan 123 kawah baru dan 49 di antaranya cocok dengan gempa yang dideteksi seismometer.
Penelitian terbaru mengungkap meteorit Mars Black Beauty menyimpan air purba jauh lebih banyak, memperkuat bukti Mars pernah basah dan layak huni.
Mars berada pada jarak rata-rata sekitar 140 juta mil atau 225 juta kilometer dari Bumi. Jarak tersebut menyebabkan keterlambatan komunikasi, sehingga pengendalian rover secara langsung
NASA sukses menguji coba navigasi AI pada Rover Perseverance di Mars. Tanpa campur tangan manusia, AI kini mampu memetakan rute aman di medan ekstrem Planet Merah.
Menurut laporan ilmiah dan data dari pengamatan satelit, permukaan Mars terdiri dari campuran berbagai material mineral yang memantulkan cahaya dengan spektrum warna berbeda.
Dari analisis terbaru, para peneliti melaporkan penemuan sebuah kandidat planet berbatu yang ukurannya sedikit lebih besar dari Bumi dan mengorbit sebuah bintang mirip Matahari.
Sekitar 3 miliar tahun lalu, Mars diduga pernah memiliki samudra raksasa yang membentang di seluruh belahan utara planet tersebut.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved