Headline
YLKI mengultimatum pemerintah agar melakukan tindakan korektif yang nyata.
YLKI mengultimatum pemerintah agar melakukan tindakan korektif yang nyata.
Kumpulan Berita DPR RI
SATU juta "pengunjung alien" dari sistem bintang lain mungkin sudah bersembunyi di tata surya kita. Namun, yang dimaksud bukan "manusia kecil hijau," melainkan "batu abu-abu kecil, asteroid yang berasal dari sistem tiga bintang Alpha Centauri.
Alpha Centauri adalah sistem bintang terdekat dengan tata surya kita, berjarak sekitar 4,3 tahun cahaya. Penelitian baru menunjukkan jika Alpha Centauri mengeluarkan materi sebanyak tata surya kita, maka sebanyak satu juta batuan luar angkasa dengan lebar lebih dari 100 meter bisa saja bersembunyi di Awan Oort, sebuah wilayah yang dipenuhi material es di tepi tata surya kita. Beberapa dari pengunjung alien ini bahkan bisa masuk ke bagian dalam tata surya.
Para ilmuwan yang melakukan penelitian ini berpendapat jumlah materi yang memasuki tata surya dari Alpha Centauri akan meningkat dalam 28.000 tahun ke depan, saat sistem bintang tetangga ini berada pada titik terdekat dengan tata surya kita.
"Kami sedikit terkejut menemukan jumlah materi dari Alpha Centauri tidak sepenuhnya bisa diabaikan," kata Paul Wiegert, anggota tim penelitian dari University of Western Ontario.
"Ruang angkasa itu sangat luas, jadi tidak mengherankan jika tidak ada materi dari Alpha Centauri yang bisa mencapai kita. Fakta materi ini bisa ada dalam jumlah yang dapat dideteksi adalah kejutan yang menyenangkan," tambahnya. "Objek-objek ini benar-benar bisa berada di mana saja di tata surya kapan saja."
Wiegert dan rekannya, mahasiswa Ph.D. dari University of Western Ontario, Cole Gregg, terinspirasi untuk meneliti "pengunjung alien" ini setelah penemuan objek antarbintang pertama.
Objek-objek tersebut adalah 'Oumuamua, benda berbentuk cerutu yang mengejutkan para astronom saat melintas di tata surya bagian dalam pada 2017, serta komet/hibrida asteroid 2I/Borisov yang ditemukan pada 2019.
"Kita pasti akan menemukan lebih banyak dari dua pengunjung antarbintang yang sudah kita kenal, 'Oumuamua dan komet Borisov," kata Wiegert. "Penelitian ini adalah upaya untuk memahami dari mana asal pengunjung antarbintang yang akan kita temukan di masa depan."
Alpha Centauri adalah rumah bagi tiga bintang, termasuk bintang terdekat dengan Bumi selain Matahari, yaitu Proxima Centauri, serta sejumlah planet yang belum sepenuhnya diketahui.
Ketika bintang-bintang dan planet-planet ini berputar satu sama lain, interaksi gravitasi mereka mengganggu orbit objek-objek kecil di Alpha Centauri, termasuk asteroid dan komet—sisa-sisa planetesimal dari pembentukan sistem tetangga kita—hingga partikel debu.
Bayangkan Alpha Centauri sebagai seekor anjing basah setelah berjalan di tanah berlumpur, mengguncang tubuhnya dan menyebarkan kotoran, lumpur, air, bahkan kerikil kecil. Sama seperti pemilik anjing yang berdiri terlalu dekat akan terkena cipratan kotoran ini, tata surya kita juga terkena materi dari Alpha Centauri. Awan Oort, dalam hal ini, bertindak seperti jaket yang menangkap banyak material tersebut.
Duo peneliti ini menjalankan simulasi tata surya dan Alpha Centauri selama lebih dari 100 juta tahun. Hasilnya menunjukkan bahwa sejumlah besar objek memang bisa mencapai tata surya kita dari Alpha Centauri.
"Objek dari Alpha Centauri mungkin memasuki batas terluar tata surya kita—yang ditentukan sebagai tepi luar Awan Oort—dengan kecepatan sekitar 50 objek per tahun," kata Wiegert. "Namun, hanya sebagian kecil dari mereka yang cukup dekat dengan Matahari untuk bisa terlihat. Kami memperkirakan hanya ada kemungkinan satu dari sejuta bahwa saat ini ada asteroid dari Alpha Centauri di dalam orbit Saturnus."
Wiegert menambahkan bahwa karena kecepatan tinggi saat memasuki tata surya, banyak dari pengunjung antarbintang ini tidak akan bertahan lama di sekitar kita. Mereka hanya akan melewati tata surya, seperti yang dilakukan 'Oumuamua dan 2I/Borisov.
"Dikarenakan kecepatan mereka yang sangat tinggi, objek-objek ini tidak tertangkap oleh gravitasi Matahari, tetapi hanya sekadar melintas," tambahnya.
Temuan duo ini bisa berguna di masa depan karena penelitian mereka menunjukkan bahwa ada petunjuk tertentu yang bisa membantu mengidentifikasi pengunjung antarbintang yang berasal dari Alpha Centauri.
"Penelitian kami menunjukkan asteroid dari Alpha Centauri memiliki arah dan kecepatan yang cukup spesifik. Jika suatu hari nanti kita menemukan asteroid yang bergerak dengan cara tersebut, itu bisa menjadi indikasi kuat ia berasal dari Alpha Centauri," ujar Wiegert.
"Kesempatan untuk mempelajari materi dari Alpha Centauri sangatlah menarik," tambahnya. "Menemukan asteroid dari sana di tata surya kita akan seperti menjalankan misi pengambilan sampel dari sistem bintang lain—tapi gratis!"
Penelitian ini juga menyoroti langkah selanjutnya, yaitu mempelajari sistem bintang terdekat lainnya untuk melihat seberapa efisien materi dapat berpindah secara alami dari mereka ke tata surya kita.
"Mungkin ada beberapa sistem bintang yang lebih efisien dalam mengirimkan materi ke tata surya kita dibanding yang lain, dan kami tertarik untuk mengetahui dari mana kita bisa mengharapkan kedatangan material semacam ini, serta dari mana kita tidak bisa," pungkas Wiegert. "Membandingkan materi dari sistem bintang lain dengan tata surya kita untuk pertama kalinya... siapa tahu apa yang bisa kita temukan?" (Space/Z-2)
International Astronomical Union (IAU) secara resmi mengabadikan nama Bayu Risanto sebagai nama sebuah asteroid.
2025 MN45 harus tersusun dari material yang sangat kokoh agar tidak hancur akibat gaya sentrifugal dari putarannya yang ekstrem.
Asteroid raksasa memusnahkan dinosaurus 66 juta tahun lalu, namun mamalia bertahan. Simak faktor evolusi dan adaptasi yang membuat mamalia selamat dari kepunahan massal.
Sistem peringatan dini benturan benda langit Asteroid Terrestrial-impact Last Alert System (ATLAS) berhasil mendeteksi sebuah objek yang melintas melalui Tata Surya.
Para ilmuwan NASA baru saja mengumumkan penemuan sebuah “bulan mini” baru, yaitu sebuah asteroid kecil bernama 2025 PN7 yang akan bergerak seiring dengan Bumi
NASA tengah memantau pergerakan tiga asteroid yang melintas dekat Bumi dalam rentang waktu hanya dua hari.
Wahana Voyager NASA mengungkap wilayah ekstrem di heliopause, batas Tata Surya dengan ruang antarbintang, dengan suhu mencapai 50.000 kelvin.
Perbedaan kecepatan ini menciptakan tegangan magnetik yang luar biasa. Plasma yang bergerak lebih cepat di ekuator "menarik" garis-garis medan magnet.
Fenomena ini berpotensi memicu keruntuhan gravotermal, yaitu kondisi ketika inti halo terus memadat akibat aliran energi ke luar.
Berbeda dengan Bumi yang solid, Matahari berotasi dengan kecepatan yang bervariasi tergantung letak dan kedalamannya.
Pesawat Juno milik NASA menangkap fenomena letusan serentak di Io, bulan Jupiter. Energi yang dihasilkan mencapai 260 terawatt, mengungkap rahasia magma di bawah permukaannya.
Fakta mengejutkan datang dari dunia sains, Bumi juga memiliki sesuatu yang menyerupai “ekor” raksasa di luar angkasa.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved